batampos.co.id – Di tengah lesunya perekonomian saat ini, terbetik kabar baik dari perusahaan manufaktur asal Batam, PT Sat Nusapersada Tbk.
Sebanyak sepuluh persen saham perusahaan yang berlokasi di Pelita, Lubukbaja itu dbeli perusahaan raksasa Taiwan, Pegatron.
Presiden Direktur PT Sat Nusapersada Tbk, Abidin, mengatakan pembelian dilakukan oleh Asus Investment co.ltd yang merupakan anak perusahaan Pegatron.
“Sat Nusapersada merupakan strategic partner Pegatron di Asia Pasifik. Itu artinya, kerja sama Pegatron dan Sat Nusapersada yang sudah berjalan selama ini akan semakin baik,” ujar, Rabu (8/4/2020).
Hubungan antara PT Sat Nusapersada dengan Asus, anak usaha Pegatron, sudah terjalin cukup lama.
PT Sat Nusapersada selama ini merakit ponsel cerdas Asus di pabriknya yang berlokasi di Batam.
Merujuk laporan keuangan PT Sat Nusapersada tanggal 30 September 2019, perusahaan ini meraup pendapatan cukup besar dari Asus.

Nilainya sekitar 1,64 juta dolar AS, atau sekitar 15 persen dari total pendapatan jasa perakitan PT Sat Nusapersada.
Abidin mengatakan, pembelian saham tersebut merupakan kabar baik di tengah lesunya perekonomian nasional dan global saat ini akibat pandemi Covid-19.
“Ini menunjukkan kepercayaan yang tinggi dari sebuah perusahaan kelas dunia kepada Sat Nusapersada. Ini merupakan kebanggaan bagi dunia usaha di Batam,” katanya.
Pegatron Corporation bermarkas di Taiwan dan merupakan perusahaan manufaktur elektronik terbesar kedua di dunia setelah Foxconn.
Menurut Abidin, peristiwa pembelian saham tersebut juga menandakan masih ada harapan bahwa perekonomian Batam dan nasional akan bangkit setelah wabah corona bisa diatasi.
“Kita harus optimistis perekonomian kita bisa bangkit lagi, lapangan kerja akan terbuka kembali. Kita harus saling mendukung untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi bersama ini,” katanya.
Transaksi pembelian saham berlangsung pada Jumat (3/4) lalu. Sebanyak 531,43 juta lembar saham PT Sat Nusapersada dengan kode PTSN diborong Pegatron dengan harga Rp 236 per saham, jauh di atas harga saham PTSN di bursa pada hari itu, yaitu Rp 153 per saham. Total nilai transaksi mencapai Rp 125,4 miliar.
Pada akhir Februari, pemegang saham terbesar Sat Nusapersada adalah Abidin dengan kepemilikan 3,54 miliar saham atau setara 66,47 persen.
Pemegang saham terbesar kedua adalah Inditeck Technology Hong Kong Ltd sebesar 10 persen atau 531,43 juta saham.
Kemudian ada nama Bidin Yusuf yang memiliki 187,68 juta saham atau setara 3,53 persen.
Sementara itu, masyarakat memiliki 531,29 juta saham atau setara 10 persen. Selain para pemegang saham tersebut, PTSN juga masih memiliki saham treasury sebesar 531,43 juta saham atau 10 persen.(leo)
