Rabu, 29 April 2026

Dentuman Misterius Muncul setelah Letusan Anak Krakatau

Berita Terkait

batampos.co.id – Suara dentuman misterius mengganggu ketenangan warga Jabodetabek dan Jawa Barat, Sabtu (11/4) dini hari. Suara yang mulai terdengar sekitar pukul 02.00 itu mengakibatkan pintu dan jendela bergetar. Mirip suara ledakan meriam. Dum…dum…dum…. Jarak satu dentuman ke dentuman berikutnya bervariasi, tapi masih dalam hitungan menit.

Sampai tadi malam belum ada pihak yang bisa memastikan asal bunyi itu. Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin mengatakan, dentuman tersebut tidak berasal dari meteor. ’’Kalau itu meteor, mungkin ada saksi yang melihat ada benda langit melintas,’’ katanya.

Dari pantauan Lapan, tidak terdapat tanda lintasan meteor yang terekam. Thomas mengatakan, ada yang menduga suara dentuman itu adalah bunyi guntur. ’’Tetapi, data liputan awan yang dipantau Lapan, tidak ada awan yang potensial menimbulkan petir dan guntur di wilayah Jabodetabek,’’ jelasnya.

Di akun Twitter-nya, Lapan juga menyampaikan kemungkinan sumber bunyi dentuman itu tidak berasal dari aktivitas letusan Gunung Anak Krakatau.

Ahli vulkanologi Surono yang akrab disapa Mbah Rono mempunyai teori lain. Dia menduga dentuman tersebut bersumber dari erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK). Mantan kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) tersebut beralasan, dentuman itu terjadi saat erupsi terjadi pada Jumat malam sampai Sabtu pagi. ’’Saya tidak punya atau tidak ada data suara dentuman selain dari Gunung Anak Krakatau (GAK). Saya menduga, besar kemungkinan itu dari GAK,’’ katanya.

Surono menjelaskan, saat GAK erupsi pada Desember 2018 juga dilaporkan ada dentuman yang terdengar sampai ke wilayah Jawa Barat dan Sumatera Selatan. ”Saat ini kondisi sepi, tidak ada kendaraan lalu-lalang, tidak ada kegiatan manusia dan lain-lain. Bisa jadi suara tersebut dari letusan GAK, bisa dari sumber lain yang saya tidak tahu,” jelasnya.

Tidak adanya gangguan suara lain membuat gelombang dentuman GAK bisa terdengar hingga jauh. Sebab, proses perambatan suara tidak terhalang perambatan suara lain. ”Tidak perlu khawatir dengan letusan GAK. Yang paling bahaya, longsoran pemicu tsunami,” imbuh mantan staf ahli menteri ESDM tersebut.

Sementara itu, PVMBG menyatakan bahwa dentuman tersebut tidak berasal dari erupsi GAK. ”Saya sudah cek ke pos pengamatan GAK di dekat Pantai Carita, tidak terdengar bunyi letusan sejak kemarin malam (Jumat). Karena memang letusannya relatif kecil,” kata Kepala Bidang Gunung Api PVBMG Hendra Gunawan.

Sebelum munculnya dentuman itu, GAK memang mengalami erupsi setidaknya dua kali. Yang pertama pukul 21.58, disusul pukul 22.35. Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal ke utara. Erupsi kedua terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 40 mm dengan durasi 2.248 detik.

Hendra menambahkan, sulit mengaitkan suara dentuman dengan aktivitas GAK karena karakteristik letusan GAK yang bertipe strombolian. Letusan tipe itu tidak dikenal menghasilkan suara dentuman yang keras. Hendar menyatakan, tidak mustahil dentuman berasal dari guntur di kedua gunung. ”Mungkin. Bisa saja,” katanya.

Erupsi menyebabkan bau belerang tercium di dua kecamatan, yakni Rajabasa dan Kalianda. Warga berbondong-bondong mengungsi dari rumah yang ada di pesisir. Ada yang ke perkebunan, ada yang ke hutan. Tujuannya, menghindari tsunami.

Plt Bupati Lampung Selatan Nanang Ermanto memantau aktivitas GAK dengan didampingi Kapolres Lampung Selatan AKBP Edi Purnomo, Kepala BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) M. Darmawan, dan Kepala Dinas Sosial Dulkahar. Mereka datang ke pos pemantauan dan melihat aktivitas gunung melalui CCTV dan teropong. Melihat tidak adanya potensi tsunami, dia meminta warga kembali ke rumah masing-masing. ”Status gunung saat ini waspada. Siapa pun tidak boleh mendekat kurang dari 2 km,” kata Nanang.

Suara dentuman itu juga terdengar warga Serang. Mirip suara guntur. Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Rahmat Triyono mengatakan bahwa pihaknya melakukan monitoring pada permukaan laut dengan menggunakan tide guage di beberapa titik dan melihat anomali perubahan muka laut.

Gempa yang terjadi juga lebih lemah dari erupsi pada 22 Desember 2018. Tercatat gempa tektonik di Selat Sunda terjadi pada pukul 22.59 WIB dengan magnitudo M 2,4 episenter di titik koordinat 6,66 LS dan 105,14 BT. ”Tepatnya di laut pada jarak 70 kilometer selatan barat daya GAK pada kedalaman 13 kilometer,” katanya

Terkait suara dentuman yang beberapa kali terdengar dan membuat resah masyarakat Jabodetabek, lanjut Rahmat, sejak tadi malam hingga pagi pukul 06.00 WIB hasil monitoring BMKG menunjukkan tidak terjadi aktivitas gempa tektonik dengan kekuatan yang signifikan di daerah itu. Rahmat tak bisa memastikan asal suara tersebut. ”Namun, dipastikan tidak bersumber dari aktivitas gempa tektonik,” ujarnya.

Kepala Subbidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Barat PVMBG Kementerian ESDM Nia Haerani mengungkapkan, memang tengah terjadi perdebatan soal asal suara dentuman tersebut. Namun, dia memastikan bahwa itu tidak berasal dari aktivitas GAK. ”Pusat suara dentuman yang pasti saat ini belum diketahui,” jelasnya.(jpg)

Update