Minggu, 25 Januari 2026

Diobati 10 Hari setelah Merasakan Gejala, Mereka Berhasil Sembuh dari Covid-19

Berita Terkait

Berada di luar rumah untuk menjalankan tugas saat pandemi seperti ini memang perlu kewaspadaan berlipat. Dua orang ini terinfeksi Covid-19 ketika menjalankan pekerjaan. Keyakinan dan semangat sembuh diyakini sebagai obat paling manjur.

BEBERAPA hari setelah pulang dari tugas dengan rute penerbangan ke Singapura, Ega demam. Suhu tubuhnya tinggi, tapi dia menggigil kedinginan. Selain itu, tenggorokannya gatal. Spontan dia merasa, kena korona ini. ”Apalagi, kondisi saya memang sedang tidak fit,” katanya dalam video yang dirilis Pemerintah Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Tak kunjung sembuh, pada 7 Maret Ega periksa ke RSUPN dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat. Sekaligus dia menjalani tes Covid-19. Lima hari kemudian, hasil tes swab keluar. Ega lega karena negatif. Dia dijadwalkan tes swab kedua pada 15 Maret. ”Kali ini ternyata positif. Saya lalu dibawa ke RSUD Cibinong,” ujar pria 27 tahun tersebut.

Selama masa perawatan, dia mendapat dukungan dan pelayanan yang menurutnya baik. Ditambah motivasi keluarga yang terus menguatkan dirinya agar tetap tegar. Dia disiplin menjalankan rekomendasi dokter. Melahap segala macam makanan yang disediakan hingga vitamin. ’’Perlahan-lahan saya membaik,” tuturnya.

Dalam ruang isolasi itu, Ega menjalani tes swab lagi. Di tes kedua, dia negatif. Ega menjadi pasien pertama di Kabupaten Bogor yang sembuh dari korona dan diizinkan pulang. ”Jaga stamina, jangan lupa makan bergizi, minum, dan istirahat cukup. Tetap olahraga setiap pagi dan jaga kebersihan. Percaya, kita sehat dan yakin mampu melawan virus ini,’’ ujarnya.

Ega (kiri) dan Royhan sama-sama merasakan demam dan sulit menelan makanan sebelum diketahui positif Covid-19. Kini mereka sudah sembuh dan berkumpul bersama keluarga. (Pemkab Bogor-Royhan Saputra for Jawa Pos)

Inspirasi kesembuhan juga bisa didapat dari Royhan Saputra, 35, warga Bandar Lampung, yang bekerja sebagai sopir taksi di Jakarta. Dia mengingat pada 9 Maret itu seperti biasa bekerja mengantar penumpang. Salah satunya berangkat dari Cengkareng menuju Pondok Cabe, Tangerang. Royhan melihat penumpangnya batuk hebat. ”Saya tanya, dia jawab memang sedang sakit paru-paru,” ungkap Royhan.

Pekerjaannya terus berlanjut hingga malam dan dia pulang. Keesokannya, Royhan mendadak tak enak badan. Demam. Namun, dia tetap bekerja. Saat mengantarkan penumpang ke Thamrin, dia sempat diukur suhu oleh petugas keamanan. ”Suhu saya 37,8. Tapi, nggak diapa-apain karena kan saya nggak masuk mal,” ceritanya.

Setelah itu, Royhan masih mengantar beberapa penumpang lagi. Namun, makin sore badannya makin lemas. Dia pun memutuskan pulang. Di rumah, Royhan sulit menelan makanan. Tiga hari tak kunjung ada kemajuan, Royhan memutuskan kembali ke kampung halaman karena ada keluarga yang bisa merawatnya.

Tiba di Lampung Sabtu pagi (14/3), Royhan periksa ke Klinik Rawat Inap Dokter Spesialis Mitra Kosasih. Diagnosisnya radang tenggorokan. Meski sudah minum antibiotik, kondisi Royhan tak kunjung membaik. Senin dia periksa ke dokter praktik swasta. ”Katanya saya kena radang saluran pernapasan. Saya minum obat, tapi tidak ada perubahan,” tuturnya.

Pada Kamis (19/3) atau sepuluh hari sejak pertama demam, Royhan juga merasakan sesak, batuk, dan mual. Napasnya tersengal-sengal. ”Saya minta dibawa ke RS Advent dan di sana langsung masuk ruang isolasi,” tambahnya.

Dari RS Advent, Royhan langsung dirujuk ke RSUD Abdul Moeloek (RSUDAM). Royhan belum diberi tahu tentang sakitnya. Sekitar empat hari di ruang isolasi, dia baru tahu positif Covid-19. ”Setelah tahu, saya nggak mau mikir aneh-aneh. Yang penting saya sehat,” katanya.

Dua hari di dalam ruang isolasi, Royhan melihat pasien lain makan dengan lahap. Royhan pun memaksakan dirinya untuk melakukan hal yang sama. ”Setelah makan dan minum banyak, kondisi saya semakin baik,” ujarnya.

Tak banyak yang dilakukannya di ruang isolasi. Paling bermain handphone. Dia juga tak boleh dijenguk siapa pun. Lima hari dalam perawatan, Royhan sudah bisa bernapas mandiri. Tidak lagi memerlukan bantuan oksigen yang dipasangkan sejak hari pertama di RSUDAM. ”Dites terus juga. Tes yang kedua sudah negatif,” tuturnya.

Setelah tes ketiga juga negatif, Royhan diizinkan pulang. Total dia berada di RSUDAM selama 14 hari. Semangat untuk sembuhnya sangat besar meski juga ada momen mentalnya down. Terutama ketika melihat pasien yang sempat jadi panutannya karena mau makan dengan lahap itu justru meninggal dunia. ”Saya lihat, sempat ngedrop dan ngebayangin orangnya. Meskipun tidak bisa ngobrol karena ruangan kami terpisah tembok, saya bisa melihat karena ada kaca,” ujarnya.

Royhan sempat berpikiran macam-macam. Namun, itu segera ditepis. Dia kembali berfokus pada kesembuhan. ”Bismillah dan berdoa saya bangkit lagi,” lanjutnya.

Saat ini Royhan sudah berkumpul bersama keluarga. Namun, Royhan tetap diminta berada di rumah selama 14 hari dan menjaga kondisi tubuhnya tetap fit. Mulai berolahraga dan mengonsumsi makanan yang bergizi.

Royhan pun menyemangati pasien yang saat ini masih berjuang sembuh melawan Covid-19. ”Buat pasien yang masih diisolasi tetap semangat, jangan takut, jangan memikirkan hal negatif. Tetap fokus, tetap semangat demi anak, istri, cucu, orang tua, dan orang yang kita sayang,” ujarnya.

Dia juga meminta masyarakat untuk tidak mengucilkan mereka yang terkena korona. Kalau bisa, beri dukungan karena hal itulah yang dibutuhkan pasien. Kalau ada yang sakit, juga jangan takut membawanya ke RS. ”Karena itu untuk melindungi diri kita juga supaya tak tertular,” tuturnya.(*/c7/ayi)

Update