batampos.co.id – Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro mengatakan bahwa pada 25 April mendatang, Indonesia akan memiliki alat bantu pernafasan ventilator portable. Bukan dari impor, melainkan diproduksi oleh dua perusahaan di dalam negeri.
Kedua perusahaan yang memproduksi adalah PT Len Industri (Persero) dan PT Poly Jaya Medikal. Pada minggu ini, Bambang mengatakan bahwa alat tersebut akan selesai tahap pengujian di Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
“Masing-masing pabrik mempunyai kapasitas memproduksi 100 unit portable ventilator per minggu. Jadi diharapkan 25 April kita bisa mendapatkan 200 unit pertama buatan Indonesia yang dibuat oleh dua perusahaan,” kata dia dalam Telekonferensi Pers, Rabu (15/4).
Selain yang dikembangkan oleh BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi), ada desain ventilator lainnya, dari perguruan tinggi, lembaga penelitian hingga dari masyarakat dan pihak swasta.
“Mereka harus melakukan pengujian di Kemenkes, dan kami sudah minta Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Kementerian BUMN agar ada partner yang bisa memproduksi prototype yang sudah di uji,” katanya.
Bambang juga mengatakan, akan ada tambahan dua perusahaan yang bersedia sebagai produsen pembuatan alat tersebut. Salah satunya PT Indofarma (Persero).
“Dua lagi menyatakan siap, salah satunya ada BUMN, Indofarma. Kita harap nanti bisa 400 unit per minggu, kita nanti sesuaikan kebutuhannya dengan kebutuhan BNPB,” tuturnya.
Melanjutkan perkataan Bambang, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang menuturkan, untuk pengembangan alat kesehatan ini, pihaknya telah berkomunikasi dengan empat pengembang dari perguruan tinggi, yaitu Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Institut Teknologi Bandung (ITB).
“Tim Yogyakarta bukan hanya jangka pendek, merek bicara jangka panjang. Mereka nanti akan memprodukisi ventilator yang high grade (kualitas tinggi). Kira-kira produksinya akan lebih lama, sekitar Mei atau Juni,” tambah dia.(jpc)
