Senin, 2 Februari 2026

Keluar Belanja, Warga Singapura Ini Mengamuk Saat Diminta Pakai Masker

Berita Terkait

batampos.co.id – Singapura sedang memberlakukan status semi lockdown untuk menanggulangi wabah virus Korona. Pemerintah Singapura menyebutnya Pemutus Sirkuit untuk memutus mata rantai Covid-19. Meski begitu, tetap saja ada warga yang tak patuh. Petugas sampai harus adu mulut meminta warga untuk berada di rumah saja. Bahkan, ada warga yang mengamuk saat diminta memakai masker.

Seorang lansia perempuan bahkan membentak seorang petugas penegak hukum di People’s Park Center ketika diminta untuk mengenakan masker. Bukannya mematuhi, dia malah membentak dengan berbicara keras menggunakan bahasa Inggris dan Mandarin.

“Saya tidak suka orang memaksa saya. Sekarang saya keluar rumah, saya tidak peduli,” bentak perempuan tersebut seperti dilansir dari AsiaOne, Selasa (14/4).

Dalam sebuah tayangan video yang diposting di Facebook, perempuan itu terlihat terdiam sebelum mengaku bahwa dia menderita asma. Petugas menjelaskan kekhawatirannya akan kesehatan lansia itu dan menyarankan agar dia meminta anggota keluarganya saja yang berbelanja.

Tetapi lansia itu justru menjawab ketus. “Ini masalah saya jika saya mati,” katanya berteriak. “Saya punya satu kotak masker, tapi saya tak mau pakai,” tukasnya.

Lansia itu beralasan bahwa aturan memakai masker saat mengunjungi supermarket, toko serba ada, apotek, dan pusat perbelanjaan belum dimulai saat dia berbelanja. “Aturan itu baru mulai besok dan seterusnya, besok saya tidak akan keluar,” tambahnya.

Sementara itu, seorang pria penjaja restoran frustrasi dengan pemandangan meja-meja tertutup di Chinatown Complex Food Centre. Para petugas menjelaskan bahwa daerah itu telah ditutup untuk keselamatan umum.

Sejak 7 April, pelanggan tidak diperbolehkan makan di restoran dan pusat jajanan. Dalam beberapa hari terakhir, satuan tugas multi-kementerian telah menyerukan kewaspadaan ekstra untuk melindungi para lansia yang lebih rentan terhadap Covid-19. Sebab penelitian yang diterbitkan dalam The Lancet telah menemukan bahwa mereka yang berusia 50 tahun ke atas rentan terinfeksi.(jpg)

Update