batampos.co.id – Masyarakat Indonesia bakal segera menyambut bulan suci Ramadan. Namun berbeda dari tahun sebelumnya, pada puasa kali ini masyarakat harus dihadapkan dengan pandemi Korona, yang mengharuskan setiap orang untuk tetap diam di rumah.
Namun, untuk tetap menjadikan Ramadan tahun ini tetap produktif, Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) menginisiasi kegiatan unik berupa lomba menulis cerpen esai tentang “Suka Duka Ramadan di Era Virus Korona”.
Pasalnya, dalam setiap Ramadan pasti selalu ada banyak momentum faktual, baik itu dari hal-hal yang menyenangkan, mengharukan, dan menyedihkan. Bahkan, di tengah Pandemi Covid-19 ini, banyak kejadian menegangkan, bahkan menakutkan.
“Segala perasaan rasa yang ada di momen Ramadan kali ini tentunya banyak menggugah rasa kemanusiaan kita di zaman merajalelanya pandemik Covid-19,” ujar Ketua Umum PPWI Wilson Lalengka dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis (23/4).
Menurut Wilson, hal-hal seperti ini perlu diceritakan, dituturkan, dan didokumentasikan, agar bisa menjadi catatan sejarah peradaban manusia selanjutnya. Terutama bagi para generasi penerus bangsa, agar bia tahu bahwa di zaman sebelumnya ada peristiwa Wabah Korona.
Diketahui, PPWI memilih pola penulisan cerpen esai sebagai kegiatan lomba kali ini. Format cerpen karya Denny JA sebagi model penulisan untuk lomba. Contoh cerpen esai Denny JA dapat dilihat dalam publikasi online jaringan PPWI. Mengenai apa itu cerpen esai juga sudah dirumuskan Denny JA. Kisi-kisinya juga dapat dibaca dalam publikasi online, “Cerpen Esai: Apa, Mengapa dan Asal Muasal.”
Ia menjelaskan, lomba itu dapat diikuti publik luas. Cerpen esai harus diterima panitia paling lambat pada 23 Mei 2020 pukul 23.59 WIB. Materi lomba dapat dikirim ke email [email protected], [email protected]. Hadiah lomba berupa uang dan piala.
Sementara itu, konsultan politik yang juga penggagas genre sastra puisi esai, Denny JA, menyambut baik karyanya dijadikan model lomba penulisan oleh PPWI.
“Terlalu banyak drama, kesedihan, harapan, kebingungan di era pandemik. Itu perlu diabadikan agar menjadi bahan renungan,” ujar Denny.
Dalam merekam suara batin di era virus corona, Denny JA melengkapi jurnalisme yang ada. Jurnalisme hanya merekam berita, padahal begitu banyak cerita di balik berita. Ia pun membuat serial cerpen esai Suara Batin Era Virus Corona. Aneka kisah sebenarnya, Ia dramatisasi dan digali sisi batinnya.
“Cerpen esai menjadi semacam perpaduan jurnalisme dengan fiksi, cerpen dengan esai. Bahkan, cerpen itu bercatatan kaki selayaknya makalah ilmiah,” paparnya.
Denny juga menjelaskan, tahun ini bulan puasa sangat khusus. Karena, mungkin hanya sekali kita alami seumur hidup. Tak ada tarawih di Masjid, Tabir keliling. Bisa jadi tak ada salat ied dan semua orang dilarang mudik.
“Ramadhan from Home dan Lebaran online tentu sangatlah bagus peristiwa langka ini diekspresikan,” pungkasnya.(jpg)
