batampos.co.id – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kepri dan IDI Kota Batam melatih 51 dokter umum kompeten untuk menangani pasien positif Covid-19.
Ketua IDI Kepri, dr Rusdani, mengatakan, pelatihan diberikan karena jumlah dokter spesialis paru di Kepri hanya sembilan orang.
Sementara, jumlah pasien positif Covid-19, pasien dalam pengawasan (PDP) dan orang dalam pemantauan (ODP) di wilayah ini terus meningkat.
“Mengantisipasi hal ini kita berikan pelatihan kepada para dokter umum dan setelah pelatihan ini, semua rumah sakit di Batam diharapkan bisa menangani pasien positif corona,” katanya, Rabu (22/4/2020).
Dengan begitu kata dia, tidak semua pasien dirujuk ke RSUD Embung Fatimah, RS Galang, dan RS BP Batam.
Ia menjelaskan, dokter umum tersebut merupakan utusan rumah sakit se-Kota Batam. Pelatih dalam kegiatan tersebut lanjutnya terdiri dari Dr Antonius Sianturi, Sp.P, FISR, dr Widya Sri Hastuti, Sp.P, FCCP, FAPSR, dr Ferdinand Saragih, Sp.PD, dr Nanang Rudy Utantyo, Sp.JP, FIHA, FAsCC, dr Indra Yanti, Sp.A, Dr Yohanes Gunawan,
Sp.P, dan lainnya.
“Pelatihan berlangsung dua hari. Pada hari pertama, diikuti 26 dokter umum di RS Elisabeth, Baloi. Hari kedua diikuti 25 dokter umum di RS BP Batam,” jelasnya.
Covid-19 lanjutnya, spesialisnya ditangani dokter spesialis paru. Di Batam hanya ada 6 orang spesialis paru, 2 di Tanjungpinang, dan 1 di Karimun.
“Katanya, ada 1 di RS Galang, tapi saya belum tahu pasti,” ujar Rusdani lagi.
Karena jumlah dokter spesialis terbatas, pihaknya perlu terobosan dan mempersiapkan dokter yang kompeten di lapis kedua.
”Dokter juga manusia, mereka bisa lelah dan paling rawan tertular. Sementara kita lihat, pasien terus bertambah. Inilah yang kita persiapkan mengatasinya,” katanya.
Salah satu pelatih, Dr Antonius Sianturi, Sp.P, FISR, mengatakan, dalam sejarah pandemik virus flu, Covid-19 adalah salah satu virus flu yang berbahaya.
Sebab, virus flu pandemik lainnya menular dari hewan ke manusia. Sedangkan, Covid-19, tidak hanya dari hewan ke manusia, tapi dari manusia ke manusia.
”Inilah yang menyebabkan kepanikan global. Penyebarannya cepat, dan sudah banyak yang meninggal. Ini serius, tak bisa diremehkan,” jelas Antonius.(iwa)
