Aripin Nasution, tidak patah semangat untuk mencari nafkah ditengah pandemi Covid-19. Pria 65 tahun itu terus berkeliling mengitari beberapa area di Kota Batam yang ingin menggunakan jasanya sebagai penjahit keliling.
Dalil Harahap, Batam
Becak motor yang berisikan mesin jahit menjadi ‘senjata’ utama Aripin untuk menghasilkan rupiah.
Ya dengan kendaraannya itulah pria asal Panyabungan, Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara itu bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.
Aripin mengatakan dirinya sudah lima tahun menjalani profesi sebagai penjahit keliling. Sebelumnya, Aripin juga menjalani profesi sebagai penjahit di Kota Medan.
“15 tahun,” katanya saat ditanyai berapa lama menjadi penjahit di Kota Medan.
Aripin menceritakan, sudah belajar menjahit sejak usianya 16 tahun. Ia pintar menjahit setelah mengikuti kursus di kota kelahirannya.
Selesai kursus lanjutnya, ia dipercaya untuk bekerja di perusahaan konveksi di Kota Medan.
“Setelah ikut perusahaan menjahit saya semakin pandai menjahit,” ujarnya.
Ayah enam orang anak itu menjelaskan, setiap hari dirinya berangkat dari rumah sekitar pukul 08.00 WIB untuk memberikan jasanya kepada warga Batam.
Terutama kepada masyarakat yang menetap di sekitar Batuaji dan Tanjunguncang. Ia mengatakan, modal yang dikeluarkan untuk menjadi penjahit keliling lumayan besar yaitu Rp 10 juta.
Kakek 12 cucu itu merinci, mesin jahit dan peralatan lainnya ia beli Rp 4,5 juta. Sementara sepeda motor dibelinya Rp 5,5 juta.
“Meski sudah tua, semangat kerja harus tetap muda,” katanya sambil tersenyum.

Aripin mengatakan, jasa untuk menggunakan keahliannnya tidaklah mahal. Hanya Rp 10 hingga Rp 15 ribu saja per satu kali permak.
Dalam sehari kata dia, sehari bisa membawa pulang Rp 200 hingga Rp 300 ribu. Rupiah tersebut lanjutnya akan berlipat ganda saat menjelang lebaran Idul Fitri.
Dikarenakan jumlah masyarakat yang menggunakan jasanya lebih banyak dari hari biasa. Namun, saat ini Aripin hanya bisa bersabar.
Harapannya untuk mendapatkan uang seakan pupus karena pandemik Covid-19. Masyarakat kata dia, lebih memikirkan bagaimana bisa memenuhi kebutuhan dapur daripada memperbaiki atau celana dan pakaian mereka.
“Sekarang dapat Rp 100 ribu saja sudah alhamdulilah,” ucapnya.
Terlebih kata Aripin, setiap perumahan sudah melakukan pengawasan ekstra terhadap tempat tinggal mereka.
Imbauan pemerintah untuk melakukan karantina tingkat RT, benar-benar membuatnya semakin nelangsa.
Tapi tidak ada pilihan lain, dirinya harus tetap berkeliling untuk menghidupi keluarganya. Karena kata Aripin, menjadi penjahit keliling jauh lebih baik dibandingkan membuka usaha menjahit di rumah.
“Kalau keliling pasti dapat duit, tapi kalau di rumah belum tentu,” ujarnya.
Ditengah pandemik Covid-19, Aripin mengaku lebih berhati-hati saat melakukan kegiatan di luar rumah.
