Said Mufti, redaktur foto Riau Pos harus menjalani perawatan di ruang isolasi dengan status pasien dalam pengawasan (PDP) selama 12 hari. Sakit asmanya yang kambuh ditambah batuk, membuat dia harus menjalani perawatan 12 hari dengan standar penanganan PDP. Berikut catatan hariannya!
—
Bermula sejak 8 Maret 2020. Sudah dua malam saya tidur gelisah terutama saat menjelang subuh. Bahkan, dua hari itu saya bisa dikatakan tak bisa tidur. Tak selese kata orang Melayu. Sudah bolak balik bantal tak juga terpejam. Belakangan memang banyak pikiran. Puncaknya adalah saya merasakan sesak mendalam di dada diiringi batuk pada Jumat (10/4/2020) malam.
Malam itu saya masih masuk kantor. Saat dada semakin sesak, saya meminta waktu istirahat untuk pulang lebih cepat kepada pimpinan divisi saya bekerja.
Di hari kedua istirahat di rumah, rasa tak nyaman di dada kembali datang. Saya putuskan untuk berobat di RS Syafira, Jalan Sudirman, Pekanbaru pada Selasa (14/4/2020). Ini rumah sakit yang paling terdekat dengan kediaman. Setelah menjalani berbagai pengobatan seperti mana biasa jika sesak dengan bantuan alat nebu, maka sesak akan minggir dengan sendirinya.
Namun belakangan saya diharuskan foto rontgen. Masih tak ada rasa waswas, masih dengan pikiran normal. Namun usai hasil rontgen dibacakan bahwa ada gangguan pada saluran pernapasan, di situ saya mulai panik. Dokter memutuskan saya harus dirawat di ruang isolasi.
Pikiran kalut, panik, campur aduk menambah sesak napas, kenapa bisa begini? Keluar kota tak ada, keluar negeri apalagi. Kesibukan hanya masuk kerja malam, pulang, mandi, ganti baju, jam 10.00 pagi berjemur sekalian olahraga kecil. Lah, ini kok jadi suspect pula.
Saya langsung dipindah ke ruang khusus dan istri di luar hanya bisa melihat dari dua kaca yang membatasi. Untuk berkata pun harus berteriak. Pikiran campur aduk, napas sesak datang menghimpit. Ketika pasukan berbaju putih datang untuk menangani saya, di saat itu juga saya mengganti kostum pasien dengan plastik merah yang jadi standar penanganan pasien dalan pengawasan (PDP).
Gawai saya terus berbunyi. Anak menelepon, pimpinan menelepon. Bercampur aduk rasanya. Untung saya ditangani perawat yang bisa menenangkan dan saya jadi tidak kalut. Ini menjadi penenang seperti oksigen yang meredakan sesak napas.
Hanya dalam beberapa menit saja, status saya naik menjadi PDP. Pasien dalam pengawasan, satu tingkat di atas orang dalam pemantauan (ODP). Karenanya saya harus istirahat selama tujuh hari di ruang isolasi dan harus menjalani berbagai macam tes.
Pengambilan sampel cairan hidung dan sampel darah untuk laporan swab, membuat saya harus pasrah dengan “serangan” jarum dari arah kanan dan kiri. Sakitnya jangan ditanya, tak ada nyaman sedikitpun. Maklum saya punya sindrom dengan jarum.
Kini badan bersandar sendiri di kamar, tapi paling tidak ada oksigen yang membantu. Sedari awal masuk ke kamar ini, saya ditemani seorang perawat lengkap dengan pakaian putih sepatu boot, kacamata dan kaca pembatas. Si perawat menjelaskan bahwa pasien PDP di RS Syafira itu baru dua orang.
“PDP di sini baru dua, yang pertama sudah pulang dengan hasil negatif,” kata sang perawat.
Dari perawat yang asalnya dari Tembilahan, Kabupaten Inhil ini, saya dapat sedikit tenang. Terlebih saat ia duduk dengan kepala tertunduk di ruangan sebelah yang dibatasi kaca dengan ruangan saya dirawat. Di ruangan itu dia bisa memantau pasien. Sepertinya ia lelah karena dipaksa harus tertidur lengkap dengan alat pelindung diri (APD) atau kostum hazmat-nya. Sementara saya masih dengan mata terbuka karena harus menyesuaikan diri di malam pertama di ruang isolasi.
***
Akibat minum beberapa butir obat, saya bisa juga tidur pulas meski sebentar. Saya terbangun ketika pergantian shift dari perawat Hasbi kepada perawat bernama Ridho. Sama seperti Hasbi, Ridho pun melayani saya dengan nyaman.
Usai beberapa percakapan, dia kembali ke ruangan di balik pintu sambil menunggu saya sebagai pasien. Dengan pakaian seperti itu, terkadang muncul rasa iba, terlebih di saat saya tak dapat memejamkan mata, sekilas saya lihat dia tertidur meski dengan pakaian yang jelas tak nyaman.
Mata terus liar, walaupun sekeliling ruangan tanpa ada kata. Sedikit cahaya, dan suara tak lagi memekakkan telinga. Di luar, sesekali kendaraan menanjak jembatan layang Sudirman-Harapan Raya, tepat di depan rumah sakit.
Tanggal 14 April menjadi malam pertama saya dirawat. Ada rasa beda ketika harus mendadak dikurung dalam satu kamar, sendiri pula. Kamarnya luas, untuk ukuran hotel semestinya nyaman dan enak untuk tidur. Namun mata ini tak juga bisa terpejam ditambah batuk yang bergantian menggaruk tenggorokan.
Tapi ya sudah, saya mencoba untuk membuat wilayah aman meski hanya di tempat tidur. Dalam keadaan sesak ini, bantal yang tinggi dan posisi tempat tidur hingga menyerupai huruf L terasa nyaman. Saya coba baca Alquran. Tak sampai setengah juz, napas sudah sesak, saya putuskan nanti disambung saja. Tak terasa azan Subuh sudah berkumandang. Salat Subuh dengan bertayamum lebih dulu dilanjutkan dengan mohon doa-Nya. Karena besok saya sudah menjalani hari kedua dan berupaya untuk semangat.
Tak ada yang menarik barangkali, tapi saya terus ingin berbagi. Itung-itung menghilangkan kejenuhan diisolasi dengan rutinitas yang itu-itu saja. Padahal baru hari kedua.
Ruangan terasa terang benderang karena bangunannya di lantai empat, tapi view terhalang tembok. Sedangkan pada tempat tidur yang kosong di sudut kamar view-nya lumayan bisa melihat dunia luar bahkan bagi yang ingin melihat saya bisa dari situ di kejauhan.
Usai sarapan, obat pun sudah diminum. Namun jelang siang, mual pun datang dan memaksa saya muntah. Obat datang lagi, kali ini untuk asam lambung melalui suntikan di infus. Bikin saya terlelap. Namun tidur bercampur rasa demam, sungguh tidak enak hingga badan basah oleh keringat. Padahal ruangan ber-AC.
Saya terbangun di saat azan Ashar. Tim paramedis kembali datang mengambil sampel lendir saya. “Siksaan lagi ini,” pikir saya.
Kembali hidung ini dicolok dengan rasa yang kurang nyaman. Usai diambil sampel saya paksa mandi ,maklum sejak kemarin belum berganti baju. Segar. Akhirnya terduduk di ujung tempat tidur.
“Apa planing mengatasi rasa tak enak untuk malam yang kedua di ruang isolasi ini nantinya. Dan selanjutnya,” pandang jauh menerawang di langit-langit kamar.(egp/fia/bersambung)
