Jumat, 17 April 2026

Di PHK, Warga Batam Banyak Mencari Ikan di Dam Duriangkang

Berita Terkait

batampos.co.id – Sejumlah warga yang menjadi korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) memanfaatkan air surut saat mencari ikan di Dam Duriangkang, Tanjungpiayu, Seibeduk, Minggu (26/4/2020).

Apalagi Batam sedang dilanda cuaca panas yang membuat dam kering dan ikan berloncatan ke darat.

Sebagian ikan mati. Warga sambil ngabuburit mencari ikan menggunakan jala, bubu, mancing sambil memakai perahu dan jaring.

Namun, sebagian dari mereka berangkat menjala ikan setelah sahur. Bila berangkat subuh, udara masih segar dan tidak panas seperti yang dikatakan Zohar Napitupulu.

Zohar, warga Tanjunguncang, Batuaji, mengaku mendapatkan ikan mujair lumayan banyak.

”Dapat 15 kilogram dan kadang 25 kilogram. Kami pergi ramai- ramai,” katanya.

Apalagi saat ini, sedang mewabah Covid-19.

“Serba susah ekonomi. Dengan cari ikan bisa membantu meringankan. Lauk tidak perlu
lagi beli. Bisa cukup seminggu lah,” ujarnya.

Ada yang menarik di sela-sela mencari ikan tersebut, sambung Een, warga Batuaji,
korban PHK karena terimbas Covid-19.

Mantan pekerja galangan kapal tersebut terpaksa mencari ikan untuk kebutuhan hidup.

Warga menjala ikan di Dam Duriangkang, Tanjungpiayu, Seibeduk, Minggu (26/4/2020). Warga memanfaatkan dam yang surut mencari ikan. Foto: Dalil Harahap/batampos.co.id

“Daripada anak istri tak makan, semua pekerjaan harus dikerjakan. Melamar pekerjaan ke sana kemari tidak ada lowongan perusahaan banyak yang tutup dan karyawan dirumahkan serta di-PHK,” tuturnya.

Dia bisa mendapatkan 20 kilogram (kg) sampai 30 kg ikan bila rajin seharian mencari ikan. Kadang ia memancing saat malam dan siang hari.

“Sementara ini mencari ikan dulu untuk menyambung hidup,” ucapnya.

Een mengaku keliling kompleks menjual ikan mujair hasil tangkapannya Rp 20
ribu per kg.

“Kadang habis, kadang tidak habis,” sebutnya saat dijumpai di Dam Tanjungpiayu, Minggu pagi.

Rido, warga Bengkong, mengaku korban PHK juga dari perusahaan bidang perhotelan.

Senada dengan Een, ia mencari ikan untuk menyambung hidup. Menurutnya, mencari
ikan bisa dapat duit dengan cepat dan jadi obat stres.

Rido mengaku diajak temannya. Bersama temannya ia kerja sama dengan sistem bagi hasil.

”Daripada tak makan anak istri, angsuran rumah dan motor dan susu anak menunggu,” sebut pria yang mengaku baru seminggu mencari ikan.

Ia mengatakan bila kondisi semakin sulit, Rido berencana akan pulang kampung usai
Lebaran.

”Buat sementara, mencari ikan ini dulu dikerjakan. Saya sudah melamar ke sana kemari tidak ada lowongan,” ujarnya.

Dia berharap wabah Covid-19 segera berakhir dan ekonomi segera normal kembali.

”Kalau tak salah yang mencari ikan ini semua kebanyakan korban PHK,” kata Rido.

Kata Rido, teman-teman satu pekerjaan di perhotelan ada yang pulang kampung satu bulan lalu, ada yang jadi tukang ojek dan buruh bangunan untuk bertahan hidup di Batam.

“Bila begini zamannya, apa saja pekerjaan harus dikerjakan asal halal dan bisa makan,” katanya sambil melempar jalanya.

Beda dengan pengakuan Sakri Afandi Siregar yang sudah dari Februari sudah berhenti berjualan buah di pasar kaget Batuaji, Sekupang dan Sagulung.

Kini, beralih usaha berjualan kue rumahan, yakni kue bawang yang dititipkan ke warung-warung.

”Karena buah kita, buah impor yang dijual. Bila buah lokal mahal. Tak sesuai pengeluaran dengan pemasukan,” kata Sakri.

Sakri pun terpaksa setop dan beralih profesi. Selain usaha rumahan, ia kadang bekerja
sebagai buruh bangunan dan kadang mencari ikan.

“Kita harus banyak bersabar dan berdoa kepada Allah. Pasti hambanya dilindungi-
Nya,” ucapnya.

Pantauan Batam Pos, warga sangat ramai yang mencari ikan dengan menggunakan jala, bubu, dan jaring. Kebanyakan untuk dijual karena himpitan ekonomi.(ali)

Update