Banyak yang beranggapan bahwa virus corona jenis baru penyebab COVID-19 hanya menyerang saluran pernafasan.

Meskipun awalnya pernyataan ini tampaknya benar, beberapa ilmuwan telah melaporkan bahwa virus corona ini tidak hanya menyerang saluran pernafasan, tetapi juga berbagai sistem organ lain, seperti jantung, kulit, mata, saluran pencernaan, dan sebagainya.

Hal ini yang membuat penilaian klinis terhadap pasien yang dicurigai terserang COVID-19 menjadi kabur karena gejala awal yang tidak khas.

Salah satu organ penting yang terlibat dalam penyakit COVID-19 adalah jantung. Tingkat kematian pada pasien COVID-19 yang memiliki keterlibatan jantung merupakan salah satu yang tertinggi dibandingkan dengan keterlibatan organ lain.

Umumnya, angka kematian yang disebabkan oleh COVID-19 berkisar diangka 2,3 persen. Akan tetapi, angka ini meningkat pesat apabila pasien memiliki keterlibatan sistem jantung dan pembuluh darah seperti pada hipertensi (6 persen) dan penyakit jantung pembuluh darah (10,5 persen).

Banyak ilmuwan juga telah mengonfirmasi bahwa penyakit jantung dan pembuluh darah merupakan faktor risiko terbesar dari kematian akibat COVID-19.

Pengaruh COVID-19 terhadap penyakit jantung dapat berupa gejala yang lebih berat pada pasien dengan riwayat penyakit jantung sebelumnya, penyakit jantung baru yang disebabkan secara langsung oleh virus COVID-19, atau efek jangka panjang pada jantung yang disebabkan karena infeksi virus.

Penelitian di China mengungkapkan bahwa sebanyak 16,4 persen pasien COVID-19 di China memiliki riwayat penyakit jantung dan kebanyakan dari mereka mengalami gejala yang berat dan membutuhkan terapi yang intensif.

Beberapa laporan juga menyebutkan bahwa COVID-19 dapat menyebabkan serangan jantung. Hal ini disebabkan karena virus corona jenis baru dapat menyerang jantung secara langsung akibat melimpahnya reseptor dari virus corona di jantung.

Selain itu, adanya badai Sitokin dapat menyebabkan kegagalan organ-organ tubuh seperti jantung. Perubahan kebutuhan dan asupan oksigen dari jantung akibat adanya infeksi, serta terlepasnya sumbatan akibat peradangan dari virus corona ini juga dapat menyebabkan serangan jantung.

Beberapa efek samping pengobatan dari COVID-19 juga dapat menimbulkan risiko terjadinya gangguan irama jantung yang dapat berujung pada kematian.

Meskipun risiko tertular virus COVID-19 tidak berbeda dengan masyarakat umumnya, pasien dengan penyakit jantung perlu lebih waspada karena memiliki risiko mengalami komplikasi yang lebih tinggi.

Oleh karena itu, bagi pasien dengan penyakit jantung, pencegahan kontak merupakan kunci terpenting dalam masa pandemi ini. Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pasien dengan penyakit jantung sebagai tindakan pencegahan adalah membatasi keluar rumah dan berhenti merokok.

Pasien dengan penyakit jantung sebaiknya keluar rumah hanya untuk kontrol berobat. Kunjungan dari keluarga juga sebaiknya dibatasi, serta olahraga sebaiknya dilakukan dengan menerapkan prinsip pembatasan sosial. Tetap di rumah merupakan cara terbaik untuk mencegah penularan COVID-19.

 

Oleh dr Afdhalun A. Hakim, Sp.JP(K), FIHA, FAsCC