batampos.co.id – Peristiwa pembakaran KM Harapan Jaya 1, yang merupakan kapal
ikan jenis jaring cumi oleh massa di Tambelan, Kabupaten Bintan, Kamis (2/4/2020) lalu, harus diproses sesuai dengan hukum yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Saya sudah mendengar secara langsung keterangan dari nakhoda dan kru kapal yang
mengalami kejadian pembakaran kapal. Hal ini sangat disayangkan dan memang harus
diproses sesuai dengan hukum yang berlaku,” ujar Sugiarto, pemilik kapal ke-
pada Batam Pos, Senin (27/8).

“Pasalnya, kapal yang dibakar merupakan kapal nelayan dalam negeri dan berasal dari
Provinsi Kepri. Kapal yang dibakar tersebut bergerak dan melakukan penangkapan ikan sudah dilengkapi dengan izin,” kata dia lagi.

Dia mengaku, KM Harapan Jaya 1 sengaja dibakar dan sepertinya sudah direncana-
kan. Sebab, sebelum peristiwa pembakaran tersebut kapalnya masih melakukan penangkapan di perairan yang berada di luar zona ekonomi eksklusif (ZEE).

Untuk itu, dia berharap agar aparat penegak hukum, khususnya pihak kepolisian dapat mengusut tuntas kasus ini.

Karena jika dibiarkan begitu saja, maka tidak menutup kemungkinan hal serupa akan terulang kembali di masa mendatang.

“Sebagai pemilik kapal, saya tidak minta ganti rugi terkait peristiwa pembakaran tersebut. Saya hanya inginkan keadilan bisa ditegakkan,” ujarnya.

KM Harapan Jaya 1. (F.Sandi/Batampos)

“Proses para pelaku dan termasuk provokator yang ada di balik kejadian ini. Sudah hampir satu bulan lamanya kita belum mendapatkan kabar sampai di mana proses
hukumnya. Kita harapkan agar para pelaku pembakaran segera diproses,” harapnya.

Kasat Reskrim Polres Bintan, AKP Agus Hasanuddin, yang dikonformasi secara terpisah melalui pesan singkat menyebutkan, kejadian pembakaran kapal ikan di Tambelan beberapa waktu lalu masih terus dilakukan penyelidikan.

“Kasusnya masih terus kita selidiki. Sampai dengan saat ini sudah 10 orang warga yang
kita minta keterangannya. Hanya saja, belum ada penetapan tersangka,” katanya.

Nakhoda KM Harapan Jaya 1, Maman, menyebutkan, dia dan rekan-rekan kru kapal
lainnya masih trauma dengan kejadian pembakaran kapal.

“Sebab, kita tidak ada firasat atau menyangka akan terjadi hal seperti ini. Apalagi, selama
ini tidak pernah ada kejadian pembakaran kapal di Tambelan,” jelasnya.

Selain itu, kata Maman, ketika melakukan penangkapan ikan, posisi kapal berada sekitar 22 mil garis pantai Tambelan.

Maman kembali mengulas peristiwa pembakaran pada Rabu (1/4/2020) malam pukul 23.00 WIB itu, ada lima kapal pompong, dan salah satu kapal berisi puluhan orang.

Tiba-tiba ada beberapa orang naik ke atas kapal dan salah seorang oknum warga berinsial T yang mengaku sebagai aparat.

Sehingga, T meminta buku atau dokumen kapal kepadanya.

“Setelah itu, pria yang berinisial T menyebutkan bahwa KM Harapan Jaya 1 telah  melanggar aturan. Sehingga, kapal harus ditarik ke dermaga malam itu juga,” katanya.

“Saya  sempat menjelaskan bahwa KM Harapan Jaya 1 baru pertama kali masuk ke perairan tersebut dan jika memang ada kesalahan, maka tolong diberikan teguran
dulu. Hal ini saya sampaikan karena beranggapan kalau T itu memang benar-benar  aparat,” jelasnya.

Namun, lanjut Maman, permintaannya tidak dihiraukan. Akhirnya kapal dibawa menuju dermaga pada Kamis (2/4/2020) pukul 02.00 WIB.

Tapi, sesampainya di darat, T mengatakan bahwa kantor sudah tutup, sehingga malam itu
tidak bisa diselesaikan.

“Terus terang sampai saat ini masih bingung T itu aparat apa dan kantornya di mana.
Yang jelas, pada pagi harinya pukul 08.00 WIB ratusan orang sudah ada di dermaga dan kapal kemudian digeser sedikit. Tidak lama kemudian terlihat kapal sudah dibakar
dengan mengeluarkan asap tebal,” cerita Maman.

“Saya berharap pelaku dan provokator dalam peristiwa ini dapat dihukum sesuai dengan
perbuatannya. Karena tanpa ada penjelasan apa-apa sudah main hakim sendiri. Khususnya kepada oknum warga berinisial T agar bisa ikut diminta keterangannya. Apakah memang aparat atau bukan,” tegasnya.(sandi)