SUDAH lima hari puasa Ramadan 1441 H, sudah satu bulan imbauan pemerintah agar masyarakat berdiam di rumah (stay home) untuk membatasi penularan virus corona (covid-19) diberlakukan. Rasanya lebih nikmat.

Bagi saya, protokol kesehatan menghadapi wabah pandemi virus corona yang kerap disebut dengan Corona Virus Desease Tahun 2019 (Covid-19) ini, ada hikmahnya. Ya, jika kita mau melihat sesuatu dari sisi positif, kita akan selalu menemukan hikmah di balik musibah (blessing in disguise).

Hikmahnya antara lain, waktu bersama keluarga lebih lama dan lebih kerap. Ya, dari pagi hingga malam. Begitu juga saat sahur. Jika siangnya harus bekerja, sorenya pasti pulang. Back home. Ke rumah di mana istri atau suami serta anak-anak menanti. Ngumpul lagi, lengkap lagi.

Di hari-hari normal, dan sebelum puasa, kenyataan ini sulit terjadi. Pagi-pagi suami sudah sibuk mau kerja, begitu juga si istri. Anak-anak mesti ke sekolah. Pagi pukul 05.00 WIB atau 05.30 WIB sudah harus bangun. Beda sedikit dengan waktu sahur. Selanjutnya, setelah semua berangkat, baru akan bertemu sore hari, saat anak-anak pulang dari sekolah. Si ayah atau ibu, malah kadang nyambung lembur. Bertemunya, usai Maghrib atau setelah Isya.

Di rumah, sisi positif lainnya, bagi keluarga yang gak alim-alim amat, hehe, bisa meningkatkan kualitas ibadah. Jika sebelumnya sulit berjamaah sekeluarga, di saat pandemi maupun puasa di tengah suasana pandemi ini, karena anak-anak diliburkan full dan orangtua work from home (WFH), maka kuantitas ibadah di rumah bisa ditingkatkan. Kualitasnya menyusul. Sebab masjid dianjurkan tidak melaksanakan shalat berjamaah. Bisa Tarawih di rumah, lanjut membaca Alquran.

Hikmah lain, menurut saya, terkait penanganan covid-19. Dengan puasa Ramadan ini, akan lebih efektif. Sebab apa? Karena mobilitas orang di luar rumah sudah pasti berkurang. Bagi mayoritas penduduk yang beragama Islam, tidak ada lagi makan siang di luar (restoran, rumah makan, atau kafe). Tidak ada lagi pertemuan sesering waktu bukan Ramadan. Juga tidak ada lagi acara ngopi dan kongkow.

Konsentrasi massa selama Ramadan lebih bisa dipetakan. Yakni saat Subuh, usai shalat di masjid yang masih melaksanakan shalat berjamaah, pagi saat jam olahraga, sore saat menunggu bedug, dan ini yang agak rawan, saat pasar bazaar atau pasar kaget menjual juadah berbuka. Meskipun sudah ada larangan membuka bazaar, namun tradisi memang lebih sulit dihentikan total. Bahkan lebih sulit dibandingkan melarang shalat berjamaah.

Maksud saya, jika pemerintah benar-benar serius mengatasi penyebaran virus ini, tentunya mereka serius, nah, di bulan Ramadan ini bisa lebih mudah seharusnya. Sebab, seperti saya sebutkan di atas, potensi terjadinya kerumunan massa bisa lebih mudah dipetakan waktu dan tempatnya. Syaratnya tentu saja, ada ketegasan dan transparansi dalam penanganannya. Soal bagaimana teknisnya, tanyakan ke ahlinya: tim gugus tugas!