HUJAN belum lama turun di Bumi Segantang Lada, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Selasa, 28 April 2020. Saya baru saja tersentak dibangunkan setelah tertidur usai shalat Ashar. Ternyata tukang instalasi listrik datang ke rumah.

Sampai di dapur, Kang Dedy, tukang listrik langganan saya itu, sudah berada di situ. Tubuhnya sedikit basah akibat kehujanan. Ada sedikit pekerjaan yang harus dia kerjakan, lampu dapur yang sekaligus jadi tempat makan kami, sedikit korslet.

Saya tak begitu menyimak ketika samar-samar istri saya, Sandra Mepa, membuyarkan nanar pikiran saya yang baru tersentak dari “tidur ayam”.
“Yah, Pak Syahrul meninggal,” katanya.
“Oh. Innalillahi wainna ilaihi rajiun”.

Sejenak saya kembali memperhatikan Dedy mulai memperbaiki listrik. Hujan masih cukup deras.
“Hati-hati, Kang. Hujannya deras nih, hati-hati kesetrum!”
“Iya Pak,” jawab pria Sunda itu.

Saya kembali ke istri yang sedang masak untuk perbukaan.
“Pak Syahrul mana?” tanya saya seperti baru sadar.
“Itu, Ayah Syahrul, Wali Kota Pinang,” ucapnya. Orang Kepri biasa menyebut Tanjungpinang, ibukota provinsi itu dengan kata Pinang saja.
“Hah?! Serius?!” saya belum jelas betul.
“Iya. Itu udah heboh di grup,” tambah istri saya. Rupanya sambil masak, dia masih bisa mengikuti perkembangan di whatsapp grup kantornya Pemko Batam.

Saya terdiam sejenak. Terbayang saat almarhum pertama dibawa ke RS Raja Ahmad Thabib, Tanjungpinang, 16 hari yang lalu. Saat itu Tanjungpinang dan Kepri dihebohkan oleh kabar almarhum dijemput dan dibawa ke RS. Yang bikin heboh, seluruh dokter dan perawat mengenakan hazmat, alat perlindungan diri (APD).

Sejak saat itu, mulailah bisik-bisik berhembus kencang bahwa almarhum menjadi pasien khusus covid-19. Saya yang berada di Batam, satu jam perjalanan laut dari kota tempat almarhum dirawat, terus menunggu perkembangan demi perkembangan. Posisi saya sebagai Ketua PWI Kepri, mau tidak mau tidak boleh kudet (kurang upadate) atas informasi penting seperti itu.

Awalnya, informasi memang agak tertutup. Maklumlah, Ayah Syahrul adalah orang penting. Selain walikota, almarhum juga Ketua DPD Partai Gerinda Kepri. Namun saya punya sahabat, yang tak usah saya sebutkan namanya, sejak awal masuknya almarhum ke RS RAT, selalu menyuplai informasi kepada saya. Memang, hasil rapid test non-reaktif. Namun gejala almarhum saat dibawa ke RS mengarah ke covid-19. Saya juga menggali informasi dari beberapa sumber lain di Tanjungpinang.

Sementara itu di Batam, ada kabar baik. Alat PCR bantuan pengusaha sudah dapat digunakan untuk melakukan uji swab covid-19. Dua hari kemudian, dapat info bahwa hasil swab almarhum positif. Sejak saat itu, berbagai informasi terus masuk ke WA saya. Bahkan apa yang terjadi di keluarga almarhum, ajudannya, dan kondisi Bu Rahma, wakil kota yang mendampinginya pun tak luput dari pantauan saya dan kawan-kawan.

Tak lama berselang, beberapa hari kemudian, kabar sedih kembali masuk ke WA saya, cucu almarhum berusia 8 tahun masuk pasien positif covid, juga benerapa orang dekatnya, harus isolasi mandiri. Kabar lain yang mengiringi, wartawan yang closed contact dengan almarhum, juga ditest.

Selama almarhum dirawat, berseliweran cerita seputar perkembangan di RS dan cerita di sekeliling kantor. Bagi seorang public figure seperti almarhum, amat sulit untuk menyembunyikan setiap gerak-gerik. Hanya saja, ada etika pers yang tak boleh kami langgar sebagai media massa. Tidak selamanya berlaku “hukum” bahwa “bad news is a good news“. Jika berita yang kita siarkan hanya akan mendatangkan mudarat, kegelisahan, atau kecemasan, atau mungkin “aib” bagi siapapun, maka lebih baik disimpan saja.

Secara pribadi, saya tak banyak berinteraksi dengan almarhum. Waktu bertugas di Tanjungpinang tahun 2010 hingga 2014, saya tak sekalipun berjumpa dengan “Ayah” Syahrul. Namun kesantunan “orang masjid” yang pernah menjadi guru hingga ketua PGRI Tanjungpinang itu sudah kesohor di mana-mana. Itu pula sebabnya di tahun 2018 “Ayah” Syarul yang berpasangan dengan Rahma terpilih dalam Pilkada Tanjungpinang. Duet santun itu mengalahkan petahana, Lis Darmansyah yang sebelumnya pasangan “Ayah” Syahrul.

Apa mau dikata. Dokter, perawat, keluarga, pemerintah telah berusaha. Doa-doa masyarakat Kota Tanjungpinang pun telah dipanjatkan bagi kesembuhan almarhum. Demikian juga harapan warga Kepri, kader partai, kolega pemimpin daerah, dan handai-taulan. Namun Allah jualah pemilik segala ketentuan. Petang tadi, Selasa, di bawah siraman hujan, almarhum dipanggil kembali kepadaNya. Innalillahi wainna ilaihi rajiun.

Kepri kembali kehilangan sosok pemimpin yang akrab dipanggil “Ayah”. Dulu, kita kehilangan “Ayah” HM Sani, Gubernur Kepri, saat masih menjabat. “Ayah” Sani dipanggil Allah pada 8 April 2016 di Jakarta, sementara “Ayah” Syahrul persis 4 tahun 20 hari kemudian, hari ini di Tanjungpinang. Juga ketika menjabat. Bedanya, almarhum HM Sani diantarkan ribuan orang ke pemakaman, sedangkan Ayah Syahrul dimakamkan di bawah protokol penanganan covid-19.

Selamat jalan “Ayah” Syahrul, semoga husnul khotimah. Kepergian “Ayah”, mudah-mudajan menjadi ikhtibar (pelajaran) bagi kami yang masih cuai dan bandel atas ganasnya virus ini. Wallahualam*

candra catatan kecil