Senin, 27 April 2026

Kisah Perjuangan Dokter 9 Jam Tangani Pasien Covid-19

Berita Terkait

batampos.co.id – Perjuangan para tenaga medis menangani pasien Covid-19 tak bisa tergantikan dengan apapun. Banyak dari mereka sudah berkorban nyawa karena ikut terinfeksi. Banyak juga dari para dokter dan perawat yang sulit pulang ke rumah bertemu keluarga untuk mencegah penularan.

Kisah Mira Yulianti, Dokter penyakit dalam dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Ciptomangunkusumo (FKUI/RSCM) Divisi Respirologi dan Penyakit Kritis adalah satu dari sekian banyak dokter yang harus berperan ganda. Para dokter selain menjadi pejuang kesehatan, mereka tentu harus berbagi kasih dengan keluarga. Apalagi dokter perempuan, sebagai ibu yang harus memberikan perhatian bagi anak-anak mereka.

“Alhamdulillah, Allah masih melindungi dan memudahkan. Di RSCM resminya masih kerja 8 jam kadang lebih (9 jam) tergantung kondisi pasien dan kalau lagi banyak tugas ngajar atau diskusi ke koas atau PPDS online,” kata dr. Mira dikutip dari JawaPos.com, Rabu (29/4).

Dokter Mira salah satu yang beruntung karena masih bisa pulang ke rumah bertemu dengan anak-anaknya. Apa boleh buat, sebab anak ketiga dan keempat masih menyusu. Sehingga sebagai ibu, dirinya wajib mencurahkan cinta untuk buah hatinya.

“Alhamdulillah, saya masih ketemu anak-anak. Enggak ada pilihan juga soalnya. Anak saya 4, yang nomor 3 dan 4 masih menyusu, plus enggak ada mbak yang bantu malam. Enggak mungkin saya enggak pulang,” paparnya.

Meski begitu dr. Mira tetap mematuhi protokol kesehatan secara ketat. Sebelum pulang ke rumah, dia harus mandi dulu di RS. Sesampainya di rumah juga juga langsung mandi lagi. Baju semua direndam dan barang-barang hingga sepatu disemprot desinfektan.

“Saya hanya bisa berdoa, dengan saya berusaha menolong orang lain, Allah melindungi keluarga saya,” tuturnya.

Menurut dr. Mira, memang banyak rekan sejawatnya yang sampai terpaksa tak pulang ke rumah. Dan menitipkan anak-anaknya ke kampung halaman kakek neneknya.

“(Teman sejawat) kemarin sampai nangis karena sudah sebulan enggak ketemu. Saya masih beruntung, karena anak-anak benar-benar ngobatin capek dari RS,” katanya.

Tantangan pasti tetap ada. Sebagai dokter yang harus berjibaku langsung menangani pasien Covid-19, dr. Mira tak punya waktu banyak untuk mendampingi tugas-tugas sekolah anaknya. Untungnya pihak sekolah mengerti akan hal itu.

“Paling yang jadi masalah buat saya karena tugas sekolah anak enggam kelar-kelar. Dan target sudah ketinggalan jauh dari sekolah. Dan pihak sekolah memaklumi,” ungkapnya.

Dirinya juga selalu memakai Alat Pelindung Diri (APD) lengkap setiap hari. Selama 8-9 jam di RS rata-rata memakai APD paling 4-6 jam sehari. Itu juga tak terus menerus.

Perjuangan dr. Mira belum usai. Sebab pasien masih terus bertambah setiap hari. Baik mereka yang positif ataupun yang berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Dalam sehari saja, dr. Mira bisa menghadapi 10 pasien. Namun panggilan jiwa sebagai seorang dokter membuatnya semakin teguh untuk tetap menolong pasien sebagai pejuang kesehatan.

“Sehari paling kalau langsung sekitar 10 pasien PDP/Covid-19 terkonfirmasi. Tapi yang jaub lebih hebat adalah para perawat di Kiara, saya ikut salut,” katanya.(jpg)

Update