Sistem yang buruk akan mengalahkan orang baik setiap saat. (DR. W. Edwards Deming)

Siapa bilang orang Indonesia itu tak disiplin? Siapa bilang tak tertib? Nyatanya, bisa tertib juga kok. Malah sangat disiplin. Kapan itu terjadi?

Saat berkunjung ke Singapura. Coba saja perhatikan. Tak ada yang berani merokok di sembarang tempat. Menyeberang jalan pasti di titik yang sudah ditentukan. Buang sampah di tempatnya. Bahkan Ketika harus mengantri panjang, tertibnya bukan main.

Tapi kalau sudah kembali ke Indonesia, perilaku tertib itu mendadak hilang. Mendadak ngga disiplin. Merokok dimana saja. Masih tetap buang sampah sembarangan. Masih suka nerobos lampu merah.

Sebaliknya juga orang Singapura, ternyata tak tertib-tertib amat. Kalau di Negaranya mereka patuh terhadap aturan, beda cerita saat berkunjung ke Indonesia. Perilaku tertib itu mendadak pudar.

Kok bisa begitu ya? Apa yang mempengaruhi?

Apakah gara – gara nyebrang laut semuanya hilang ya?

Ternyata, sistem yang diterapkan di Singapura telah membuat kita secara otomatis mengubah perilaku. Sistem ini telah diterapkan dalam waktu yang lama, konsisten dan berkelanjutan. Sehingga membentuk sebuah tatanan yang mapan di negara tersebut.

Tatanan inilah yang kemudian mempengaruhi mindset siapa saja yang ada di negara tersebut. “Kalau berada di Singapura, berarti harus tertib,” begitu kira-kira yang ada dalam benak kita saat berada di sana.

Sebaliknya, sistem yang diterapkan di Indonesia tidak seperti Singapura. Tak diterapkan secara konsisten dan tidak berkelanjutan. Ditambah lagi, perangkat yang mendukung terlaksananya sistem tersebut juga minim. Sehingga, ketika ada yang melanggar sistem, tidak ada konsekuensi. Sehingga mindset yang terbentuk cenderung abai dan tak peduli terhadap aturan.

“Ah sudahlah, terobos aja lampu merah ini. Gak ada Polisi kok,”

“Gak apa-apalah buang sampah sembarangan. Lagian nanti ada yang membersihkan,” begitu kira-kira ucapan yang kita dengar.

Sistem memang mempengaruhi mindset. Dan pada akhirnya mempengaruhi perilaku.

Tidak hanya di lingkungan sosial, sistem juga memiliki peran strategis dalam korporasi. Kita dapat belajar dari pengalaman tumbangnya Nokia mengenai hal ini.

Sistem operasi Symbian pernah membawa Nokia ke puncak kejayaan. Menguasai lebih dari 50 persen pasar ponsel di dunia dan dijual di 130 negara. Beberapa seri ponsel Nokia juga pernah dianggap sebagai simbol kemakmuran dan kemapanan. Salah satunya seri Communicator.

Seri Communicator ini merupakan tentengan hampir semua orang-orang penting di eranya. Pejabat, pengusaha, anggota dewan. Pokoknya kaum-kaum elitlah. Rasanya belum kelihatan mentereng kalau belum punya Nokia Communicator.

Tahun 2007 misalnya, pembeli pertama Nokia Communicator Seri E90 rela merogoh kocek Rp 45 juta (USD 5 ribu saat itu) demi mendapatkan ponsel tersebut pada lelang di Jakarta. Fantastis kan?

Namun kehadiran Sistem Operasi IOS yang digunakan Iphone mengusik kemapanan sistem yang digunakan Nokia. Posisi Nokia semakin terancam ketika Google juga memperkenalkan Sistem Operasi baru yang diberi nama Android.

Kehadiran dua sistem baru ini tidak direspon dengan cepat oleh Nokia. Perusahaan tak bereaksi mengganti sistem. Mengapa?

Manajemen Nokia sadar, bahwa mengganti sistem bukan hal yang mudah. Butuh waktu bertahun-tahun sampai sistem yang diterapkan stabil. Wajar saja, karena saat itu, semua pengembangan di Nokia telah diarahkan agar selaras untuk Sistem Operasi Symbian. Dan tidak mengantisipasi potensi hadirnya sistem baru sebagai pesaing.

Dimana ponsel tak lagi sekedar jadi alat komunikasi suara dan mengirim pesan singkat. Tapi mampu melakukan berbagai pekerjaan (Multitasking) dalam satu waktu layaknya sebuah komputer.

Muncul ketakutan dari manajemen Nokia. Di satu sisi mereka sadar bahwa Symbian sudah usang. Namun di sisi lain, perubahan sistem membawa konsekuensi waktu yang lama, dan belum tentu berhasil.

Alih-alih mengantisipasi ketertinggalan, Nokia terlambat untuk merespon perubahan teknologi yang membawa perubahan besar terhadap sistem di dunia industri ponsel. Nokia menjemput lonceng kematian, karena terjadi perubahan mindset dan ancaman akan kehancuran didepan mata.

Akhirnya, Nokia dijual murah ke Microsoft pada tahun 2014. Hanya 5,4 miliar Euro dari harga sebelumnya 29.5 milliar Euro.

Nasib tragis bagi sebuah perusahaan yang gagal menerapkan sistem yang fleksibel dan mampu mengantisipasi perubahan kemajuan teknologi.

Apa yang terjadi dengan ATB?

Sebelum tahun 2009, ATB belum menerapkan sistem yang proven dan matang. Sehingga di era tersebut, ATB tak punya tatanan yang bisa diikuti secara tertib oleh karyawan. Identik dengan pelayanan tidak memuaskan, masih lambat, kurang tertib dan seterusnya.

Tahun 2009, ATB memutuskan  untuk bertransformasi. Perusahaan harus mengadopsi sebuah sistem agar arah pengembangan lebih teratur dan tertata. Kami mulai dari mendesain ulang visi-misi dan core values perusahaan.

Setelah punya arah, kami bangun sistem yang sesuai dan dapat mendukung arah pengembangan perusahaan. Kami desain dengan hati-hati, dan diuji secara teliti. Karena sistem ini harus dapat diandalkan, fleksibel, dan mampu mengantisipasi kemajuan teknologi. Pada saat yang sama, sistem ini juga harus mampu meningkatkan efisiensi.

Inilah cikal bakal ATB menjadi perusahaan yang menerapkan Smart Water Management System pertama di Indonesia.

Mengaplikasikan satu sistem dalam sebuah organisasi bukan hal yang mudah. Butuh waktu setidaknya 5-6 tahun hingga sistem bisa berjalan stabil dan mapan, serta mendukung kinerja perusahaan. Dan setelah berjalan, jangan coba – coba buat menggantinya. Apalagi tanpa persiapan yang matang.  Buat ATB taruhannya adalah pelayanan pada pelanggan.

Inilah mengapa Nokia mengahadapi pilihan yang sulit. Terlalu beresiko.

Sistem ini kemudian membentuk mindset baru bagi karyawan dan manajemen di ATB. “Kami adalah perusahaan air bersih yang efektif, efisien dan profesional,” itu yang terpatri di benak karyawan dan manajemen. Sehingga respon dan tindakan kami dalam bekerjapun menunjukan mindset tersebut.

Kami harus mampu merespon masalah dengan cepat. Menyelesaikan dengan waktu yang terukur. Lebih dari itu, ATB juga mampu mempersiapkan langkah pencegahan untuk meminimalisir potensi masalah di masa mendatang. Sistem kami tidak hanya mampu mengontrol reaksi, tetapi mampu memberikan insight.

Saat yang lain baru mau masuk Revolusi Industri 4.0. ATB telah mempersiapkan 5.0!

Sistem ini tak hanya membentuk Mindset SDM di internal perusahaan. Namun juga di luar perusahaan. Ketika mendengar nama ATB, maka mindset orang langsung terarah kepada sebuah perusahaan air bersih berbasis teknologi informasi, perusahaan smart management, efisien, profesional dan dapat diandalkan.

Itulah mengapa, banyak yang menjadikan ATB sebagai rujukan. Mereka percaya, bahwa dengan mengadopsi sistem yang diterapkan oleh ATB, mereka akan mampu menyelesaikan masalah pengelolaan air bersih di daerahnya.

“Jika setengah saja sistem ini diterapkan di daerah kami, maka kami akan bebas dari masalah pengelolaan air bersih,” demikian ungkapan salah satu kepala daerah kepada saya saat datang ke ATB.

Sistem dan mindset saling berhubungan membentuk sebuah lingkungan.

Karyawan ATB adalah SDM yang skillfull dan profesional. Mereka dididik dan diberi pelatihan yang cukup untuk meningkatkan kemampuannya. Lebih jauh lagi, mereka didukung oleh sistem yang sudah mapan.

Tapi bicara soal mindset apakah ada garansi untuk tidak berubah?

Saya khawatir, akan sama seperti orang Singapura yang berkunjung ke Batam. Budaya tertibnya mendadak hilang, bila lingkungan dan sistemnya tidak mendukung.

Sistem membangun mindset. Mindset membangun perilaku.

Menurut anda mindset perusahaan BUMN dan perusahaan swasta sama ngga ya?

Mari Kita Pikirkan. Salam Kopi Benny. (*)