Selasa, 3 Februari 2026

Kasus Covid-19 Melandai, Malaysia Longgarkan Status Lockdown

Berita Terkait

batampos.co.id – Semua penghalang jalan di kota Kuala Lumpur, Malaysia, telah disingkirkan. Itu karena Malaysia sudah melonggarkan status lockdown atau kebijakan Perintah Kawalan Pergerakan (MCO). Sebab kasus Covid-19 di Malaysia diklaim turun dan kurva penularan juga melambat.

Kepala polisi Kuala Lumpur, Comm Mazlan mengatakan keputusan itu mulai berlaku pada Senin (4/5). Hari pertama MCO mulai dilonggarkan bersyarat. “Dalam mematuhi instruksi pemerintah tentang MCO bersyarat, kami telah menghilangkan hambatan di kota,” sebut Mazlan.

“Hanya saja, kami masih memantau situasi untuk memastikan bahwa semua orang mematuhi prosedur operasi standar yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan dan melakukan jaga jarak,” imbuhnya seperti dilansir dari AsiaOne, Rabu (6/5).

Mazlan mengingatkan semua orang bahwa perjuangan melawan Covid-19 masih jauh dari selesai. “Tetap harus mempraktikkan kebersihan yang baik untuk selalu memutus rantai virus,” katanya.

Sementara itu, Kepala Departemen Investigasi dan Penegakan Lalu Lintas (JSPT) Kuala Lumpur Asst Comm Zulkefly Yahya mengatakan, lalu lintas sudah mulai meningkat pada Senin (4/5) karena banyak warga yang mulai bekerja. “Lalu lintas telah meningkat sekitar 30 persen pada hari pertama MCO bersyarat. Namun, tidak ada kemacetan besar yang terdeteksi selama jam sibuk,” jelasnya.

“Sejak dimulainya MCO pada 18 Maret, delapan penghalang jalan dijaga oleh personel JSPT di Kuala Lumpur,” tambahnya.

Dalam laman Sea Mashable, Malaysia melonggarkan lockdown dengan memungkinkan lebih banyak sektor perekonomian untuk dibuka kembali. Ini termasuk industri makanan dan minuman. Bahkan, ada laporan orang-orang mulai mengantre untuk memasuki pusat perbelanjaan di dekat Segitiga Emas Kuala Lumpur.

Penasihat Kesehatan Masyarakat untuk Perdana Menteri Malaysia, Dr Jemilah Mahmood memgklaim kurva Covid-19 telah merata. Dalam komentar yang dipublikasikan di Malay Mail, Jemilah mengatakan bahwa sistem kesehatan negara itu dapat mengatasi situasi karena 80 persen kasusnya ringan. Meski begitu, Malaysia tetap waspada selama 2 tahun ke depan.

“Covid-19 tidak akan berakhir untuk dua tahun ke depan. Akan ada lonjakan kecil tapi tidak boleh panik. Ketika ada lonjakan di suatu daerah, perintah kontrol gerakan yang terlokalisasi di daerah itu dapat segera diterapkan kembali,” katanya.

Jemilah mengatakan bahwa pandemi hanya bisa berakhir ketika semua orang berpartisipasi dan berdisiplin. Dampak ekonomi dan kesehatan mental tentu tak bisa dihindari.

“Kami harus menghadapi tantangan pahit MCO dan Covid-19. Hanya dengan bersatu, maka bisa dapat memenangkan atas wabah ini,” katanya.

“Kita akan hidup dengan Covid-19. Sama seperti seperti kita akan hidup dengan demam berdarah selama ini. Vaksin paling awal mungkin tersedia tahun depan,” pungkasnya.(jpg)

Update