INI bukan ramalan. Ini hanya prediksi tidak ilmiah. Kalau ramalan kan agak “out of the science”, sedangkan prediksi bisa “involved the science in it”. Melibatkan keilmuan di dalamnya, sesuai disiplinnya. Tidak. Ini cuma catatan kecil.

Orang banyak menyebutkan istilah pasca-pandemi covid-19 sebagai “new normal”. Normal yang baru. Di mana tatanan dan gaya hidup akan banyak berubah. Misalnya, cara bersalaman, pemakaian masker di luar ruangan, serta kebiasaan mengurangi kumpul-kumpul berdempetan.

Saya percaya, kapan akan berakhirnya covid-19 tidak dapat disurvei. Dia bukan sebuah keinginan terhadap trend. Bukan pula soal asumsi atau persepsi. Dia adalah pandemi virus yang memerlukan kerja-kerja keahlian. Kerja ahli virus dan ahli farmasi. Ditambah kesungguhan pemerintah mengatasinya. Dia tidak dapat dipersepsikan. Misalnya, kapan menurut Anda virus ini akan berakhir? Atau, jika vaksin ditemukan hari ini, apakah Anda yakin akan berakhir dua bulan lagi?

Secara definitif, pandemi corona ini tidak akan berakhir sampai ditemukan vaksin pembunuhnya. Itupun jika dia tidak bermutasi ke bentuk baru. Sementara virologi yang hari-hari belakangan amat sibuk di kamar laboratorium masih berupaya menemukan vaksin “utama” untuk menjinakkannya. Uji klinis dilakukan di berbagai negara. Termasuk Indonesia.

Lalu, kapan vaksin “definitif” akan ditemukan dan mangkus untuk digunakan? Ada yang memprediksi akhir tahun ini, ada pula negara yang lebih moderat memprediksinya tahun depan. Artinya, dalam beberapa bulan ke depan, umat manusia di berbagai belahan dunia masih harus (meminjam istilah Presiden Jokowi) “berdamai” dengan era covid-19 ini.

Sejauh ini, banyak sudah jenis vaksin yang disebut-sebut akan mampu mengatasi covid-19. Mulai dari Rendevisir, Hydrochloroquine, campuran Zynk, hingga buatan dalam negeri, herbavid-19. Tapi belum ada negara yang menyebutkan jamu-jamuan kecuali Indonesia dan China yang menyebutnya sebagai resep tradisional.

Sejauh ini yang kita ketahui, para pasien positif covid-19, di dalam negeri, ditreatment antibodinya, dinaikkan kadar imune-nya, dan ditingkatkan kadar perlawanannya terhadap virus tersebut. Itu pun bervariasi treatmentnya antara satu pasien dengan pasien lainnya. “Tergantung kondisi pasien ketika dirawat,” kata Direktur RS Embung Fatimah Batam dr Ani Dewiyana.

Dalam sebuah keterangan kepada wartawan, Kadinkes Batam dr Didik Kusmarjadi mengatakan, beberapa pasien yang berhasil sembuh, setelah diberikan berbagai vitamin dan bubur putih telur, serta makanan tinggi protein setiap hari, plus makanan bergizi lainnya. Vaksinnya? Sampai saat ini belum satupun yang dianggap mangkus, bahkan di negara adidaya Amerika sekalipun. FDA (Food and Drug Administration) Amerika memang merekomendasi Remdevisir, namun masih terjadi perdebatan dengan para ahli WHO.

New Normal, Senormal Apa?

Jika demikian adanya, setelah jatuhnya korban jiwa, baik dari pasien maupun tenaga kesehatan, yang jumlahnya sudah mencecah angka puluhan ribu di seluruh dunia, dari yang terpapar lebih dari 1 juta jiwa, bagaimana kelak kehidupan sesudahnya –di dunia maupun Indonesia?

Di laman-laman media sosial, ramai mengulas masalah kehidupan pasca-covid-19 ini. Seperti apa bentuknya? Apakah akan ada perubahan gaya hidup sedrastis yang dibayangkan? Kali ini saya mencoba dengan keberanian serba tanggung, menaikkan catatan kecil ini ke level prediksi. Ya, akan banyak perubahan setelah ini. Walaupun kelak setelah vaksin definitif telah ditemukan.

Ambil contoh soal pendidikan. Sudah sejak beberapa waktu lalu pola pendidikan dipaksa mengikuti “adat” yang selama ini kita ragu kapan akan tercapai. Belajar di rumah, dengan menggunakan teknologi, adalah contoh sebuah revolusi kecil yang sudah terjadi. Jika dalam situasi normal, pasti sulit merealisasikan sistem belajar online. Pasti ada saja protes dan penolakan. Tidak semua siswa punya gadget/laptop dan tidak semua daerah terjangkau internet. Namun setelah covid-19 melanda, mau tak mau anak-anak kita dan kita pun mulai terbiasa akibat dipaksa. Soal efektivitasnya, dibahas nanti saja.

Ada lagi yang bisa jadi juga akan berubah. Apel, misalnya. Di kantor-kantor pemerintah maupun di sekolah. Jika physical distancing ini bertahan ke depan, lagi-lagi mengantisipasi second wave penularan covid-19, maka barisan apel tentu akan menyesuaikan. Karenanya, lapangan akan terlihat lebih sempit dan peserta upacara akan terlihat lebih ramai. Sebab, jarak baris antar-individu peserta apel minimal 1 meter.

Satu lagi, saya kira, sekolah-sekolah perlu memikirkan pembangunan ruang kelas baru (RKB), sebab mengurangi jumlah peserta didik hampir tidak mungkin. Pasalnya, harus tetap ada jarak tertentu untuk setiap murid di ruang kelas. Atau, barangkali Mendiknas Nadiem Makarim akan membuat “revolusi” lain dalam sistem pendidikan nasional kita. Siapa tahu?

Cara bekerja juga, setelah dipaksa “work from home”, bekerja dari rumah, lagi-lagi kita dipaksa menggunakan teknologi jarak jauh. Video conference menjadi biasa. Rapat tidak lagi harus berhadap-hadapan secara fisik akibat mengikuti protokol “physical distancing”. Bahwa kebiasaan konvensional di mana setiap rapat harus ada kontak langsung, ada snack dan minuman, kini tidak lagi. Pun setelah berakhirnya era covid-19, dalam masa berjaga-jaga terhadap kemungkinan second wave (gelombang kedua) serangan virus, kita akan tetap “menjaga jarak”.

Oleh karena penularan covid-19 ini melalui cairan (droplet), barangkali akan ada perubahan perilaku dalam berpacaran. Terutama di dunia Barat sana. Ciuman misalnya, bagi yang trauma dan terlanjur paranoid, akan sangat menjaga “body contact” khususnya “kissing”. Sepele memang, tapi begitulah prediksi saya. Juga jarak dalam berbicara, orang-orang akan lebih menghindari “air hujan” yang bisa jadi berhamburan dari mulut lawan bicara. Pakai masker menjadi lebih aman.

Begitu pula dengan bisnis. Jika sebelumnya kita mulai terbiasa dengan belanja online, kelak akan semakin terbiasa. Toko-toko lebih akan menjelma sebagai gudang (stokis) saja. Bukan tempat bertemunya penjual dan pembeli seperti pada pasar tradisional (pasar basah) dalam Ilmu Ekonomi. Jika kita anggap kehidupan ekonomi masih akan normal di tahun-tahun hadapan, maka hal-hal seperti di atas akan terjadi. Namun jika ekonomi akan suram, maka sutuasinya tentu akan lebih sulit.

Di sisi lain, jika pertumbuhan ekonomi tetap normal, bisnis-bisnis unicorn berbasis IT akan semakin mendapat tempat. Para start-up pun akan semakin hidup. Pelaku bisnis reality show semacam youtuber akan semakin mendapat pesaing, karena akan banyak pemain baru. Lihatlah, saat kebijakan “stay at home”, para youtuber malah semakin produktif membuat konten. Subscriber mereka naik signifikan karena orang lebih banyak berada di rumah. Mereka membuka youtube, selain juga nonton “drakor” alias drama Korea yang banyak menyulut “konflik latin” itu.

Revolusi industri 4.0 akan cepat melompat ke 5.0. Siap atau tidak siap. Salah satu contoh, di dalam negeri, robot Raisa di Surabaya sudah membuktikannya dalam skala kecil. Bahkan dalam tulisan mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan, robot Raisa –yang sayangnya bentuk robotnya tak seindah Raisa yang penyanyi itu– sudah mengambil 60 persen pekerjaan perawat. Kebayang kan ke depan bagaimana robot-robot akan mengambil-alih tenaga manusia?

Dalam kehidupan keagamaan, setelah pandemi ini berakhir, oleh karena salah satu cluster terbesar carrier (penular) disebut dalam banyak media adalah jamaah tabligh, bisa jadi akan ada “revolusi” dalam perjalanan para jamaah agar mereka tetap beribadah. Untuk yang satu ini, saya merasa harus bertanya dulu dengan ahli agama. Nantilah ketika sudah bertanya, akan saya ulas lebih detail.

Tak usah jauh-jauh, di bulan puasa ini saja, sudah tidak ada Tarawih di masjid. Hanya ada satu-dua masjid yang tetap melaksanakan shalat berjamaah. Pun nanti, saat Shalat Id, belum pasti juga dilakukan secara berjamaah. Oh, benar-benar menyedihkan ibadah Ramadan dan 1 Syawal tahun ini. Sisi baiknya, tidak ada keharusan membeli pakaian baru dan pernak-pernik Hari Raya yang biasanya serba baru. Ya, karena biayanya juga menipis akibat turunnya daya beli masyarakat.

Terakhir, politik anggaran di tengah situasi kepepet. Ternyata, perubahan besar juga terjadi dari sisi politik anggaran APBN dan APBD. Perppu Nomor 1 tahun 2020 telah mengubah postur anggaran. Negara mengubah kebijakan anggarannya untuk mengatasi pandemi ini. APBD pun dipaksa dipangkas hingga 50 persen. Jika tidak, DAU akan ditahan, tak peduli nanti di tahun 2021 dan 2022 banyak APBD akan banyak tersita untuk membayar utang dan kompensasi akibat Perppu tersebut.

Ya, kita memang telah banyak dipaksa oleh pandemi covid-19 ini. Hampir di semua sektor. Yang tadinya tak bisa atau mungkin dianggap “tabu”, kini dan nanti menjadi sah bahkan harus dilakukan.

Akhirnya, saya meyakini bahwa akan ada “kehidupan baru” setelah covid-19. Di semua bidang. Hanya saja, seperti apa kelak kehidupan baru itu, belum berani saya simpulkan selain hanya berupa kisi-kisi seperti diuraikan di atas. Namanya? Terserah saja. Bisa new normal atau mungkin new abnormal.*