batampos.co.id – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri mengingatkan pemerintah daerah di Kepri agar memberi perhatian serius pada ketersediaan bahan pangan selama masa pandemi Covid-19.
Jangan sampai pasokan tersendat, sebab bisa memicu laju inflasi. Apalagi Idulfitri semakin dekat.
“Potensi risiko inflasi yang perlu diwaspadai yakni meningkatnya permintaan bahan pangan dan peningkatan ekspektasi inflasi dari pedagang dan konsumen sampai Lebaran nanti,” ujar Kepala BI Perwakilan Kepri, Musni Hardi K. Atmaja, Minggu (10/5/2020).
Meski masih kondisi pandemi Covid-19, BI memprediksi permintaan bahan pangan jelang Idulfitri tetap terjadi. Maka, mau tidak mau, stok bahan pangan harus benar-benar tersedia di pasaran.
Pasokan pangan dari berbagai daerah juga harus bisa diantisipasi jangan sampai terkendala.

“Kalau tersendat, maka inflasi akan tumbuh secara signifikan,” katanya.
Musni menambahkan, dalam skala lebih kecil, potensi peningkatan harga bawang merah karena terbatasnya pasokan, serta kenaikan harga emas, juga akan turut berpengaruh pada inflasi.
“Bawang merah ini karena belum masuknya panen raya di sentra pemasok,” jelasnya.
Pada April lalu misalnya, inflasi di Batam masih dalam batas yang normal sebesar 0,07 persen (mtm). Komoditas penyumbang inflasi di Batam adalah emas, perhiasan, bayam, dan daging ayam ras.
Sebagai upaya untuk mengendalikan inflasi, maka tim pengendali inflasi daerah (TPID) dimana BI juga bagian dari TPID akan fokus pada kelancaran distribusi dan ketersediaan pasokan seiring dengan meluasnya penyebaran Covid-19.
Ia mengakui, penyebaran Covid-19 sangat berdampak pada terbatasnya aktivitas perdagangan maupun transportasi.
“Oleh karena itu, kami akan memantau harga pangan strategis, memastikan tidak adanya penimbunan, menjaga kelancaran arus distribusi bahan pangan, dan melakukan komunikasi untuk menjaga ekspektasi akan terus dilakukan,” tuturnya.
Selain itu, TPID juga mendorong penjualan bahan pangan secara online. Penguatan sinergitas, kolaborasi, serta sinkronisasi kebijakan akan terus dilaksanakan untuk mendukung pencapaian sasaran inflasi nasional sebesar 3 ± 1 persen year on year.(leo)
