Jumat, 8 Mei 2026

Batam Tidak Gunakan Rapid Test Tiongkok Lagi

Berita Terkait

batampos.co.id – Pemko Batam memastikan alat rapid test yang digunakan di Batam tidak lagi memakai alat dari Tiongkok.

Terakhir, buatan Tiongkok merupakan bantuan pengusaha yang dihibahkan ke Pemko Batam di awal kasus Covid-19 merebak di kota ini.

Rapid test yang kini digunakan merupakan pengadaan melalui beberapa perusahaan seperti Kimia Farma.

Pemko Batam sempat ingin memesan alat rapid test dari Singapura. Namun, berdasarkan pendampingan kejaksaan, harus melalui perusahaan yang biasa melakukan pengadaan.

“Di awal bantuan pengusaha memang buatan Tiongkok, tapi saya tak ingat mereknya. Belakangan kita beli yang bagus, bukan dari Tiongkok,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam Didi Kusmarjadi.

Ia menyampaikan, tingkat keakuratan rapid test memang kurang dibanding PCR (polymerase chain reaction).

Maka dari itu, rapid sekadar screening awal. Bahkan sensivitas setiap rapid dari pengadaan bisa saja berbeda. Fungsi rapid ia contohkan saat rapid terhadap kru kapal kelud.

“40 orang reaktif, dari ini 29 positif. Artinya hanya 70 persen akurat,” ujarnya.

Menurut dia, rapid juga diperlukan untuk memeriksa ODP yang bukan kontak primer. Selanjutnya jika reaktif, tentu akan uji swab.

Sementara ODP kontak primer baik reaktif maupun non reaktif tetap akan diuji swab.

Petugas medis RS Bhayangkara Polda Kepri mengambil darah salah seorang warga Batam untuk di tes menggunakan rapid test. Foto: Polda Kepri untuk batampos.co.id

“Hanya sekadar screening. Reaktif dan tidak reaktif, kontak primer dan PDP tetap kita akan uji swab. Kalau yang awam (tidak kontak, red) tetap kami rapid. Sifatnya screening saja,” ucap dia.

Karena fungsi rapid untuk screening awal dan diketahui tidak seakurat PCR, maka tidak heran hasil rapid test non reaktif tapi swab positif.

Dalam konteks ini, ODP, OTG maupun PDP kontak primer tetap akan diuji swab walau sudah dirapid bahkan ada yang langsung di-swab.

“Sensitivitasnya memang tidak 100 persen. Gunanya untuk screening, bukan untuk diagnostik. Kalau diagnostik tetap PCR,” sebutnya.

Menurut dia, yang paling akurat atau canggih lagi sebenarnya diagnostik kultur, namun perlu biaya besar dan membutuhkan waktu lama.

Pada pemeriksaan ini sel darah merah akan dibiakkan pada cawan berisi agar digunakan untuk mendiagnosis infeksi.

“Kultur tak ada istilah tak tepat karena darah diambil langsung dan dibiakkan. Kalau PCR biasanya bisa saja ada, tapi terjadi bukan pada alat tapi sisi pengambilan sampel. Kalau tak tepat pengambilannya juga bakal bias,” imbuhnya.

Pentingnya screening awal, juga ada kaitannya dengan masalah alat pendukung (logistik) PCR yang mahal dan langka karena banyak yang membutuhkan.

“VTM, dacron, dan reagen susah. Tapi kita baru dapat VTM baru dari BNPB dan itu cukup untuk sementara waktu,” katanya.

Untuk PCR sendiri, ada yang sekali jalan sampai seribu sampel, tapi harganya sangat mahal, mencapai lebih dari Rp 10 miliar.

Alat ini baru ada di Jakarta. Sementara yang dimiliki Batam hanya mampu 30 sampel sekali jalan dengan harga alat PCR sekitar Rp 100-an juta.

Lebih lanjut, Didi mengatakan, pihaknya juga sudah menyiapkan konsep pool test terkait Covid-19. Yakni dengan cara mengambil sampel tertentu pada satu tingkat wilayah.

Bahkan pihaknya ingin satu KK satu orang anggota yang akan dites, namun sayangnya butuh VTM yang banyak.

“Pool tertinggi tingkat kelurahan, setiap RW kita ambil berapa KK. Dikumpulkan sampelnya. Kalau ditemukan reaktif kita turunkan lagi pool test-nya ke tingkat RW, RT hingga akan ketahuan keluarga yang kena,” papar dia.

Pool tes dilakukan di Sumbar, hasilnya tiga kabupaten negatif Covid-19 dengan hasil ini sebenarnya masyarakat bisa bebas melakukan aktivitas di wilayah tersebut.

Di Batam, strategi sekarang, pengambilan swab untuk ODP, OTG maupun PDP kontak primer. Kalau ODP non kontak primer akan rapid, kalau reaktif ditingkatkan jadi swab walau tanpa kontak.

“Kebijakan ini (yang diambil) disesuaikan dengan alat,” katanya.(iza)

Update