Kamis, 30 April 2026

BUMN Produksi Alat PCR Dalam Negeri, DPR Mengapresiasi

Berita Terkait

batampos.co.id – Dalam usaha penanggulangan pandemi Covid-19, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir telah memerintahkan perusahaan di lingkungan BUMN untuk meningkatkan kapasitas di Rumah Sakit milik BUMN. Seperti memproduksi alat kesehatan serta obat-obatan dalam negeri.

Dalam waktu dekat PT Biofarma (BUMN) akan memproduksi sebanyak 50.000 alat tes Korona berjenis Polymerase Chain Reaction (PCR) yang disebarkan ke suluruh Indonesia. Selain itu, PT Len Industri (Persero) mulai memproduksi ventilator darurat untuk penanganan pasien Covid-19 yang menggunakan komponen lokal dan desain dari BPPT dan ITB.

Wakil Ketua Komisi VI DPR, Aria Bima mengapresiasi upaya tersebut agar segera diproduksi demi kemandirian kesehatan Bangsa Indonesia. Dengan situasi pandemi dibutuhkan terobosan kebijakan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat.

“Harus segera diwujudkan mana-mana yang bisa segera diproduksi untuk kemandirian alat kesehatan kita. Terus terang situasi ini kan ada dampak ringan, menengah dan panjang,”Ujar Aria kepada wartawan, Kamis (14/5).

Aria menambahkan, keputusan Erick Thohir itu sudah tepat dan benar namun harus diakselesarikan dengan berbagai instrument yang ada. “Struktur pasar ini berubah, yang mana alkes dan pangan menjadi consumption terbesar. BUMN harus segera proaktif untuk menjadikan ini sebagai momentum untuk kemandirian terhadap industri farmasi baik itu obat-obatan dan alat kesehatan,” katanya.

Aria melanjutkan, ke depan mungkin akan terjadi lagi kasus dan gejala yang sama dengan pandemi Covid-19. Untuk menghadapi hal tersebut industri farmasi Indonesia harus mampu menjawab permasalahan itu.

“Mungkin dengan kasus dan gejala yang sama akan terjadi kedepan dan ternayata bagaimana kita ventilator terbatas, bahan baku masker saja tergantung India, Vitamin C saja kita bahan bakunya tergantung, inikan yang membuat kondisi mengatasi penyebaranya mengalami berbagai persoalan karena ketidak mampuan kita,” bebernya.

Aria berharap, lewat BUMN, Negara hadir untuk mencukupi kebutuhan obat-obatan dan alat kesehatan dengan memproduksi kebutuhan dalam negeri.

Selain itu, agar BUMN tidak hanya fokus terhadap industri farmasi namun secara keseluruhan terhadap perusahaan yang bernaung dibawahnya. “BUMN ini jangan hanya dilihat ke farmasi tetapi juga bagaimana melihat BUMN itu sebagai development, jadi bukan hanya cost and profit tapi cost and benefit,” ungkapnya.

Keuntungan yang paling nyata menurut Aria adalah kontribusi BUMN terhadap peningkatan Produk Domestik Bruto. Terutama usaha untuk menciptakan investasi yang membuka lapangan kerja dan menekan impor.

“Tugas benefit rasio dalam kepentingan Bangsa jangan hanya benefit korporasi saja, jadi secepat mungkin membuat langkah terobosan untuk kita bisa memproduksi indrusri farmasi, obat-obatan dan alat kesehatan,”urainya.

Aria menekankan, selain mencukupi kebutuhan dalam negeri, kemudian korporasi mendapatkan keuntungan, BUMN juga berkontribusi untuk meningkatkan Produk Domestik Bruto. “BUMN jangan hanya dihitung untuk perusahaan dan setor deviden tapi bagaimana ikut mendukung terhadap pertumuhan ekonomi nasional dalam hitungan meningkatkan produk domestik bruto,” pungkasnya.(jpg)

Update