batampos.co.id – Sebagian warga Perumahan Tiban Permai RT 05 RW 05, Kelurahan Tiban Indah, Sekupang, mengaku tidak mendapatkan sembako gratis dari Pemko Batam,
Salah satunya Rahma (32). Ibu dua anak yang mengontarak di blok B2 Nomor 14 itu menjelaskan, saat ini suaminya yang bekerja di hotel sudah mau dirumahkan.
“Suami saya kadang kerja kadang libur,” tuturnya, kamis (15/5/2020).
Dia mengaku tidak pernah mendapatkan sembako gratis dari Pemko Batam, meski pembagian sudah dua kali dilakukan.
“Saya sudah 4 tahun tinggal di sini dan sudah lapor RT,” jelasnya.
Rahma menjelaskan, hingga saat ini dirinya masih menggunakan KTP kampung. Namun berdasarkan penjelasan Wali kota Batam, Muhammad Rudi beberapa waktu lalu, jika semua warga akan mendapatkan bantuan sembako meski memegang KTP daerah asalnya.
“Kenapa yang dapat bantuan orang yang mampu dan rumah gedong. Sementara saya ini ngontrak tidak dapat sembako. RT 05 ini banyak yang tidak dapat. Tukang gosok pakaian saja tidak dapat sembako dan rumahnyapun juga menyewa,” tuturnya.
Bahkan kata dia, di tempat tinggalnya tersebut ada anak kos yang sudah menunggak hingga lima bulan juga tidak mendapatkan sembako gratis dari pemerintah.
Anak kos itu kata dia, tinggal di Blok A2/13.
“Setelah dikomplain ke kantor lurah barulah anak kos itu dikasih beras 40 kilogram dan itu untuk tujuh orang. Diantar tengah malam. Tapi indomie dan gula tidak dapat lagi,” paparnya.
Hal yang sama disampaikan Ana (38). Ia menetap di Blok C2 Nomor 26 dan sudah 11 tahun tinggal di perumahan tersebut.

Tanjunguncang, Batuaji, Rabu (22/4/2020). Foto: Dalil Harahap/batampos.co.id
“Saya punya KTP Batam juga tidak dapat, padahal sudah 2 kali pembagian sembako,” ujarnya.
Kata Ana, suaminya seorang pedagang martabak kecil-kecilan di pasar.
“Saya sangat berharap bantuan dari pemerintah karena suaminya hanya penjual martabak,” jelasnya.
Julfikar (48) warga lainnnya mengatakan, dirinya sudah lima bulan tidak bekerja. Sama dengan yang lainnya, ia juga tidka mendapatkan batnuan sembako dari pemerintah.
“Kenapa orang yang berada dan bekerja dapat sembako dan sementara saya tidak dapat,” keluhnya.
Untung (70) juga menyampaikan hal serupa.
Ketua RT 05 Perumahan Tiban Indah, Sumari, mengatakan, yang diberikan bantuan sembako murni warga yang tidak mampu.
“Yang dapat sembako hanya 96 KK dari 153 KK, itupun dari 153 KK ada rumah yang kosong serta ruko yang kosong,” katanya.
Sumari menjelaskan, jika ada warga yang tidak dapat merupakan anak kos yang tidak terdata karena tidak melapor ke RT.
“Pas kita mau data orangnya tidak ada. Seharusnya ada inisiatif sendirilah lapor RT bawa berkas jangan pas ada pembagian seperti ini baru komplain,” ujarnya.
“Kita kan banyak yang mau diurusin dan yang KTP luar Batam itu sangat singkat waktunya untuk pengumpulan datanya. Karena peraturan barunya boleh KTP luar Batam dapat sembako, sementara data awal sudah masuk ke kantor lurah,” sebutnya.
Ia berharap warga Perumahan Tiban Indah dapat membantu peragkat RT/RW dengan sering berkomunikasi.
Sementara Lurah Tiban Indah, Rizky Surya Lestari, mengatakan, total warganya yang mendapat sembako sebanyak 4.631. Dengan kriteria tidak mampu dan yang terdampak Covid-19.
Awalnya kata dia, yang mendapatkan bantuan sembako hanya warga yang berKTP Batam saja. Namun berjalannya waktu ada aturan baru yang menyebutkan warga dengan KTP luar Batam bisa mendapatkan sembako.
“Karena sangat mepet waktu yang diberikan dan singkat jadi kita data sebisa mungkin,” jelasnya.
Nah disinggung soal warga yang tidak mendapatkan sembako, ia mengatakan, kemungkinan tidak melapor ke RT setempat. Atau saat pendataan yang bersangkutan tidak ada di rumah.
“Kemudian anak kos mungkin tidak melapor dan Anak kos inikan tidak menetap, kadang 2 bulan saja sudah pindah gonta ganti kos,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pihaknya juga membuat surat pernyaataan kepada RT untuk mendata orang yang tidak mampu. Dengan adanya surat pernyataan ini perangakt RT benar-benar mendata orang yang tidak mampu.
“Jadi tidak ada main-main, RT mendata yang baik dan benar dan tidak sembarangan, tuturnya.
Ia berharap warga untuk lebih kooperatif kepada RT masing-masing. Karena lanjutnya, ada yang sudah lama menetap di satu kawasan tapi tidak pernah berkomunikasi atau melapor ke RT.
“Tiba-tiba ada bantuan baru ribut,” tuturnya.(ali)
