Sabtu, 2 Mei 2026

Melihat Tim Medis RSBP Batam ‘Bergumul’ Dengan Pasien Covid-19 (Bagian-3)

Lakukan Pendekatan Psikis dan Tampung Semua Keluhan Pasien

Berita Terkait

Coronavirus Disease (Covid)-19 menjadi momok yang sangat menakutkan bagi masyarakat di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Tim medis yang diminta untuk menangani para pasien Covid-19 dituntut memberikan pelayanan kesehatan yang prima. Meski rasa was-was dan takut terpapar virus mematikan itu terus menghantui.

Messa Haris-Batam

Dokter Tafsil menjelaskan, pasien Covid-19 dikategorikan dalam tiga fase. Pertama ringan, sedang dan berat.

Biasanya kata dia, yang lebih shock adalah pasien dengan kriteria ringan. Karena mereka lanjutnya tidak memiliki keluhan. Namun saat hasil swab keluar dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19.

“Sebenarnya kata dia, pasien dengan kategori itu bisa melakukan karantina mandiri di rumah. Tapi tetap kita anjurkan untuk dilakukan rawat inap dan rata-rata pasien yang kita rawat tidak bergejala,” tuturnya.

Pasien-pasien itu lanjutnya juga mengeluh saat harus menjalani rawat inap, dengan alasan tidak memiliki gejala Covid-19.

“Jadi kita berikan motivasi agar pasien tersebut mau dirawat dan agar tidak down kita lakukan pendekatan kepada psikisnya. itu yang kita utamakan, namun tetap kita berikan terapi,” jelasnya.

Ia menjelaskanm tim medis menampung semua keluhan pasien. Dengan cara itu kata dia, pasien akan lebih merasa diperhatikan.

Tim medis RSBP Batam berfoto bersama dengan simbol memutus mata rantai Covid-19. Foto: Messa Haris/batampos.co.id

Selain itu lanjutnya, tim medis selalu mengingatkan agar para pasien istirahat yang cukup dan mengkonsumsi makanan yang bernutrisi dan bergizi.

“Pasien kita minta untuk olahraga ringan di kamar masing-masing. Itu adalah salah satu kiat-kiat agar pasien sembuh dari penyakitnya,” paparnya.

Ia menjelaskan RSBP Batam menangani 13 pasien Covid-19 dan rata-rata keluhan yang mereka terima tidak berhubungan dengan penyakitnya.

“Keluhannya bersifat moodnya tadi. Karena pasien dirawat rata-rata dua minggu,” jelasnya.

Perawatan selam itu lanjutnya dikarenakan pihaknya harus menunggu hasil pemeriksaan sample swab para para pasien.

Pasien lanjutnya diperbolehkan pulang apabila hasil swabnya dinyatakan negatif dua kali berturut-turut.

“Jadi moodnya itu yang harus kita jaga. Rata-rata itu keluhan mereka,” ujarnya.

Tetapi tidak jarang ada pasien yang mengeluhkan efek samping obat. Hal itu dikarenakan salah satu golongan obat yang diberikan adalah klorokuin.

“Efek sampingnya klorokuin ini ke jantung dan lambung. Jadi pasien terkadang merasakan mual, pengen muntah dan dada berdebar-debar,” ucapnya.

“Tapi yang paling sering keluhannya di luar dari penyakitnya,” jelasnya.

Update