Selasa, 28 April 2026

140 Restoran dan 30 Hotel di Batam Tutup

Berita Terkait

batampso.co.id – Dampak pandemi Covid-19 membuat ekonomi terseok, tak terkecuali sektor pendapatan daerah. Yang paling terdampak yakni restoran dan perhotelan.

Kepala Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi (BP2RD) Kota Batam Raja Azmansyah menyebutkan, sejak pertama pandemi mencuat hingga saat ini, tercatat sudah 140 restoran menutup sementara usahanya. Sedangkan hotel sudah 30 hotel.

“Beginilah kondisi sekarang, didata kami jumlah yang sudah menyatakan tutup sementara. Pengajuan tutup setiap hari muncul,” jelasnya.

Ia menyebutkan, untuk restoran dari jumlah 140 usaha yang tutup sementara, sekitar 76 usaha merupakan restoran skala besar.

Ia meyakini masih banyak yang menutup usahanya namun tidak dilaporkan ke BP2RD.Sedangkan 30 hotel yang tutup sementara dari berbagai bintang dan non bintang
(melati).

“Jika dipaksakan beroperasi, biaya operasional mereka tinggi tak bisa ditutupi pendapatan,” imbuhnya.

Terkait pendapatan, pajak restoran dari Januari hanya tercapai Rp 32,01 miliar. Pendapatan ini sudah termasuk masa pajak Februari pembayaran Maret Rp 7 miliar, sedangkan masa pajak Maret pembayaran April Rp 2,7 miliar.

“Kalau restoran ini masih ada yang take away. Paling parah hotel sebenarnya, jatuh
tapai,” ujarnya.

Ilustrasi. Jawa Pos

Sejak Januari, pendapatan pajak hotel hanya Rp 32,9 miliar. Jumlah tersebut sudah termasuk pendapatan masa pajak Maret pembayaran bulan April sebesar Rp 2 miliar.

“Ini saja termasuk pembayaran bulan sebelumnya, dituntasin bulan selanjutnya,”
kata dia.

Ia berharap pandemi ini segera berakhir. Dengan dilonggarkannya lockdown Malaysia dan Singapura, ia mendapat kabar Batam tentu akan berdampak.

“Mudah-mudahan Juni mulai berangsur pulih kembali,” harap dia.

Sebelumnya, dalam Fokus Grup Diskusi (FGD) Batam Pos dengan insan pariwisata
Kepri, yang diikuti Kepala Dinas Pariwisata Kepri Buralimar, Ketua Asosiasi Pariwisata Bahari Indonesia (Aspabri) Surta Wijaya (beranggota 80 tour and travel dan wisata bawah laut seperti snorkeling dan diving), General Manager Beverly Hotel Yeyen Heriawan yang juga anggota PHRI, serta Ketua Indonesia Chef Association Jandri Sihotang, Senin (11/5/2020) lalu terungkap, dampak Covid-19 ini terhadap pariwisata benar-benar luar biasa.

Buralimar menyebutkan, ada 73 hotel tutup sementara di Kepri dan sudah 11.000
karyawan sektor pariwisata Kepri yang terdampak.  Secara nasional, ada 13 juta orang.

“Jumlah ini terus bertambah,” kata Buralimar.

Selain anjloknya omzet, sejumlah pengusaha juga mengeluhkan biaya abondemen listrik.

“PHRI sudah mengirim surat ke Bright PLN Batam, tapi kami dikenakan jaminan biaya pelanggan. Yang kita minta relaksasi, tapi diberi kesempatan turun daya, yang besarnya ratusan juta,’’ kata Yeyen.

Menghadapi situasi ini, sejumlah pelaku bisnis pariwisata berupaya berbuat sesuatu.

“Para koki siap memasak dan membuat dapur umum. Kita berusaha bertahan hidup. Sebagian beralih ke bisnis katering atau jualan masker. Ada juga yang membuat konten tur virtual,’’ kata Jandri Sihotang.

Sejumlah hotel juga memulai bisnis kuliner dan diantar ke pelanggan. Harganya murah dan dibuat paket relawan.

Ada juga hotel yang menawarkan paket karantina mandiri dan WFH alias work from hotel.

“Kita juga menjual kamar tanpa sarapan pagi hingga jualan takjil agar tetap bertahan,’’ kata Yeyen Heriawan.

Malah, ada hotel di Lagoi yang menjual kamar Rp 3 juta sebulan.

“Gagasan seperti bazar jaga jarak secara bersama dari kalangan hotel dan restoran, agar masyarakat bisa menikmati makanan kelas hotel, juga sulit dilaksanakan karena warga tidak disiplin dan budaya antri,” kata Yeyen.

Kini memang muncul secerca harapan setelah Singapura dan Malaysia mulai membuka diri dari lockdown.

Sebab, meski bandara internasional Hang Nadim sudah kembali beroperasi, pengaruhnya tidak signifikan.

Tahun lalu, Kepri masih tetap menduduki peringkat kedua terbesar di Indonesia untuk persentase tiga besar kunjungan wisman yakni, Bali (38,47 persen), Kepri (17,37 persen), Jakarta (15,21 persen) dan provinsi lainnya (28,95 persen).

Dari dulu, kunjungan wisatawan ke Batam memang didominasi Singapura dan Malaysia. Selain itu, ada 260 ribu warga Indonesia di Johor.(iza)

Update