Coronavirus Disease (Covid)-19 menjadi momok yang sangat menakutkan bagi masyarakat di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Tim medis yang diminta untuk menangani para pasien Covid-19 dituntut memberikan pelayanan kesehatan yang prima. Meski rasa was-was dan takut terpapar virus mematikan itu terus menghantui.
Messa Haris-Batam
Ada hal yang tidak bisa dilupakan para tim medis RSBP Batam dengan para pasien Covid-19 yang mereka tangani.
Karena tidak dapat melihat wajah para medis, pasien-pasien Covid-19 di RSBP Batam membuat group WhatsApp.
Koordinator Perawat RSBP Batam yang menangani pasien Covid-19, Norma, mengatakan, awal mula dibentuknya group WhatsApp tersebut dikarenakan keinginan pasien untuk melihat secara langsung para perawat yang melayani mereka.
“Kita melayani pasien Covid-19 ini di ruangan yang pernah digunakan untuk menangani virus SARS dan MERS,” jelasnya.
Ruangan tersebut lanjutnya dibangun oleh WHO. Ia menceritakan, pengalaman menangani pasien SARS dan MERS berbeda dengan Covid-19. Terutama dari proses penularan yang cukup cepat.
“Awalnya kami takut tapi setelah dibekali bagaimana penularannya, cara menggunakan dan melepaskan APD level 3 serta rutin mencuci tangan kita menjadi semangat,” jelasnya.
Ia menjelaskan rata-rata pasien Covid-19 dan pasien dalam pengawasan (PDP) kerap merasa bosan ketika harus menjalani perawatan dalam waktu lama.
Tim medis lanjutnya harus menyampaikan dengan baik kepada pasien kenapa dia sampai diisolasi.
“Mereka sempat menyampaikan bosan karena sudah dua minggu dirawat tidak pulang-pulang. Kita menjelaskan karena hasil PCR itu lama keluarnya,” jelasnya.
Hasil PCR lanjutnya baru bisa diketahui 4 hingga 5 hari. Itupun kata dia untuk wilayah Jakarta saja. Sementara di daerah waktu yang dibutuhkan untuk mengetahui hasil PCR bisa jauh lebih lama.

“Karena ii (Covid-19,red) sudah ada di seluruh Indonesia. Jadi untuk menenangkan pasien-pasien kita, kita membuat mereka bergembira,” paparnya.
Caranya dengan menanyakan kegiatan mereka sehari-hari.
Menurutnya pasien Covid-19 yang tanpa gelaja, memang kerap merasaakn dirinya tidak sakit. Sehingga dapat melakukan karantina mandiri di rumah.
“Mereka memang merasa tidak sakit. Jadi kita harus melakukan edukasi bahwa mereka tidak bisa melakukan isolasi mandiri. Kita sampaikan kepada mereka salah satu cara pencegahannya adalah harus dilakukan rawat inap dan diawasi dokter dan tim medis,” ujarnya.
Selain itu para pasien diajak untuk berolahraga setiap pagi di dalam ruangannya masing-masing.
Biasanya tim medis lanjutnya memandu mereka melalui CCtv. Para pasien kata dia juga dapat menyampaikan keluhan atau lainnya melalui telepon yang tersedia di dalam ruang perawatan.
Selain itu agar pasien nyaman, pihak rumah sakit juga menyediakan jaringan internet gratis. Sehingga dapat menjadi salah satu sarana hiburan bagi para pasien.
“Password wifinya kita kasih buat lekas sembuh,” jelasnya.
Ia menjelaskan guna menjalin komunikasi dengan para pasien Covid-19 dibentuklah group WA.
Group WA ini kata dia merupakan inisiatif para pasien dan tim medis.
“WA group ini dibuat karena mereka (pasien,red) ingin mengenal dan melihat wajah kami,” jelasnya.
Para pasein lanjutnya kerap berkomunikasi dengan menggunakan video call.
“Pernah ada yang video call dan memberitahukan jika infusnya sudah mau habis. Tapi setelah dilihat melalui video call ternyata infusnya masih 250cc lagi dan dia bilang video call hanya ingin melihat wajah saya,” katanya sembari tersenyum.
Karena lanjutnya setiap melayani pasien tim medis menggunakan baju azmat dan google. Sehingga membuat penasaran para pasien.
“Jadi itu (group WA,red) terbit karena keinginan pasien untuk melihat wajah kami,” paparnya.
Setelah seluruh pasien dinyatakan sembuh, group tersebut rencananya akan dibubarkan.
Namun para pasien kata dia menolak. Para pasien lanjutnya meminta agar group WA tersebut tetap eksis dan ingin berkumpul bersama setelah pandemi Covid-19 selesai.
“Sekarang mereka hanya telepon saja. Namanya group WA nya Keluarga Cemara,” tuturnya.
