Menjadi bagian dari Jamaah Tabligh, Nazamudin sudah menjalankan niatnya dengan berdakwah dari daerah ke satu daerah lainnya, bahkan sampai melintasi antar negara. N

amun karena disebabkan terpapar Covid-19, aktivitas dakwanya menjadi terhambat. Selama 53 hari menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Raja Ahmad Tabib (RSUD RAT) Tanjungpinang, Nazamudin tetap mendapatkan dukungan semangat dari seorang Soerya Respationo.

Jailani – Tanjungpinang

Dengan kondisi yang belum sepenuhnya stabil dan masih menjalani karantina selama sepekan lagi, Nazamudin tetap bersemangat untuk kembali berdakwah.

Ditemui dikediamannya, Selasa (19/5/2020) siang dengan merujuk pada protokol kesehatan, Nazamudin menceritakan perjalannya sampai dinyatakan positif terkena Covid-19. Sehingga harus menjalani perawatan dari 19 Maret 2020 sampai 11 Mei 2020.

“Saat ini saya masih karantina mandiri, karena masih tersisa tujuh hari lagi sesuai dengan protokol kesehatan yang disampaikan pihak rumah sakit. Sehingga belum bisa kemana-mana, untuk saat ini tetap berada di rumah,” ujar Nazamudin membuka pembicaraan.

Dengan menggunakan masker, Mantan Panglima Front Pembela Islam (FPI) Tanjungpinang juga menggunakan sorban yang menjadi ciri khas seorang Jamaah Tabligh.

Diakuinya, banyak suka duka dialaminya selama menjalani proses perawatan di RSUD RAT Tanjungpinang. Namun terlepas dari pada itu, ia juga mendapatkan banyak pengalaman berharga.

“Ada banyak pengalaman berharga yang saya dapatkan selama menjalani perawatan di rumah sakit. Tak banyak kolega, atau teman sejawat yang peduli akan kondisi saya. Bahkan, anak saya di rumah, dikucilkan. Ketika hendak salat di surau dekat rumah diusir,” ceritanya dengan mata yang berkaca-kaca.

Soerya Respationo (tengah) bersama Nazamudin (kiri) foto bersama di kediaman Soerya di Duta Mas, Batam Centre, beberapa waktu lalu. Foto. Dokumentasi Nazamudin untuk batampos.co.id

Sembari mengelus jenggotnya mulai memanjang tersebut, Nazamuddin menuturkan ada satu hal yang tak bisa dilupakan. Karena dari sekian orang tokoh masyarakat, dirinya mendapatkan perhatikan oleh Bapak Soerya Respationo.

Baginya, dukungan semangat yang diberikan Mantan Wakil Gubernur Kepri tersebut menjadi spirit dirinya untuk sembuh lebih cepat.

“Sungguh saya tak menyangka. Seorang Romo (panggilan akrab Soerya Respationo-red) yang tidak begitu saya kenal, mau memberikan perhatiannya kepada saya. Padahal, beliau mantan wakil gubernur,” tuturnya dengan nada lirih.

Jujur, ia tidak hubungan emosional khusus dengan Romo. Karena dirinya baru ketemu sekali, waktu ada acara Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di Batam. Disebutkannya, pada waktu itu, ia ikut salah seorang temannya setelah acara, dan bertandang ke rumah Romo.

“Kebetulan katanya diundang makan siang. Saya pun ikut dia,” kenang Nazamudin sembari mengingat-ingat kembali pertemuannya dengan Soerya Respationo beberapa bulan silam.

Setelah dijamu makan siang, ia juga sempat diajak foto bareng oleh Mantan Ketua DPRD Batam beberapa priode tersebut.

”Rasanya, biasa saja waktu itu. Setelah selesai. Kami pulang. Tak ada komunikasi apa pun setelah pertemuan itu. Namun, tak disangka-sangka. Romo tahu kalau saya sedang dirawat karena covid 19,” ujarnya lagi.

Sebelum melanjutkan tentang sosok Soerya Respationo, Nazamudin ingin menceritakan kisah sedihnya ketika divonis menderita covid 19.

Semua, berawal dari perjalanan dakwahnya yang dilakukan pada pertengahan Maret lalu, ke luar negeri, di Malaysia. Ia tak sendiri, tetapi ada putranya, yang masih remaja, Maulana (13 tahun).

“Saya berangkat dari Sri Bintan Pura, menuju Johor langsung ke Sri Pitaling, Kuala Lumpur. Di sana, ada pertemuan jamaah. Ada sekitar 125 ribu jamaah dari sejumlah negara. Indonesia kalau tidak salah, ada 300 jamaah. Di Sri Pitaling 3 hari. Di sana, saya bertemu jamaah lain. Saling jabat tangan, peluk dan cium dengan jamaah lain. Tidak tahu kalau bakal ada kejadian wabah ini, covid 19,” katanya.

Ia menjelaskan, setelah tiga hari kemudian, dari Sri Pitaling, menuju Batu Pahat, Johor Bahru. Lalu ia dijemput jamaah Batu Pahat dan diantar ke salah satu masjid.

“Di sana, kami berdakwah selama 20 hari. Begitu bekerja di sana. Ada 3 orang jamaah, numpang juga di masjid yang saya tempati,” jelasnya.

Satu orang dari Jawa Timur, baru pulang dari India terlihat batuk-batuk. Diikuti yang orang jamaah Batu Pahat. Ditambah dari Kuantan.

Ketiganya pun, dibawa tim medis, dan dikarantina. Keesokan malam, ada kabar bahwa akan ada pemeriksaan kesehatan oleh tim medis setempat.

Mendengar itu, ia cepat-cepat minta undur diri, pamit kepada jamaah tempatan, segera beranjak dari Batu Pahat menuju Johor Bahru. Sampai di Johor Bahru, tengah malam.

“Ketika hendak menginap di masjid dekat Stulang Laut, ditolak,” ujarnya melanjutkan cerita

Sewaktu di Malaysia ia sudah dilakukan pemeriksan dan menjalani karantina selama tiga hari. Namun karena masa pasport akan habis, ia diperbolehkan pulang ke Tanjungpinang.

Disebutkannya juga, ia mulai menjalani perawatan intens di Rumah Sakit Umum Daerah Raja Ahmad Tabib Tanjungpinang sejak 19 Maret 2020 lalu.

Adapun proses swab pertama adalah pada tanggal 20 Maret 2020 atau . Adapun hasil yang keluar tanggal 26 Maret 2020 menyatakan dirinya positif Covid-19.

“Ketika dinyatakan positif, yang saya gusarkan bukan kondisi saya, tetapi anak saya, karena sepulang saya dari Malaysia ikut kegiatan bersama saya,” jelasnya.

Terlepas dari pengalaman yang ia dapatkan, ia mengajak masyarakat Kepri, Tanjungpinang khususnya untuk memperhatikan protokol kesehatan, seperti cuci tangan dan menggunakan masker sebagai Alat Pelindung Diri.

Ia berharap tidak ada lagi tambahan warga yang dinyatakan terpapar Covid-19. Dikatakannya, untuk saat ini (kemarin,red) ia sudah menjalani Ibadah Puasa.

“Tentu ada rasa bosan, dan jenuh selama menjalani isolasi di rumah sakit. Namun karena ini protokol yang harus dijalani, tentu saya banyak berpikir positif dan bersabar. Dan saya juga bersyukur Pak Soerya hampir setiap hari memberikan semangat kepada saya,” jelasnya lagi.

Lebih lanjut ia menambahkan, meskipun sudah dinyatakan sembuh, ia akan tetap menjalani proses karantina mandiri selama 14 hari sejak 11 Mei 2020 lalu.

Karena hal itu juga merupakan bagian protokol kesehatan yang ia harus jalankan. Diungkapkannya, selama menjalani perawatan kondisinya mengalami naik turun.

“Gejala yang terjadi berulang-ulang. Sehingga itu yang membuat saya menghabiskan waktu cukup lama di rumah sakit, dan dinyatakan sembuh serta diperbolehlan pulang tentu merupakan sesuatu yang sangat saya syukuri,” tutupnya.(*)