batampos.co.id – Badan Pengusahaan (BP) Batam terus mengesa pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan hingga minggu ketiga Mei 2020 progres kontruksinya sudah mencapai 86,6%.
Manajer Pengelolaan Lingkungan BP Batam, Iyus Rusmana, menjelaskan, proyek tersebut sudah dikerjakan sejak Agustus 2017 lalu.
Iyus mengatakan, pengerjaan IPAL tahap pertama yaitu di kawasan Batam Centre diproyeksikan selesai pada Desember 2020.
“Saat ini sudah 43 perumahan yang terpasang pipa IPAL yang terhubung langsung ke pusat pengolahannya di Bengkong Sadai,” katanya, Selasa (2/6/2020).
Menurutnya, berdasarkan masterplant yang dibuat Pemko Batam pada 2011 lalu, di Batam akan dibangun tujuh IPAL dan Instalasi Pengelolaan Lumpur Tinja (IPLT) di beberapa lokasi.
“Saat ini Batam Centre adalah tahap yang pertama dan karena anggaran cukup besar, kita mendapatkan pinjaman lunak dari Korea Selatan dengan total biaya sekitar Rp 600 miliar” jelasnya.
Ia mengatakan, kawasan Batam Centre dipilih sebagai pembangunan IPAL tahap pertama agar limbah-limbah di area tersebut tidak masuk ke Dam Duriangkang.
“Kenapa tahap pertama dipilih Batam Centre, karena kami ingin mengamankan waduk Duriangkang yang merupakan sumber air baku terbesar di Batam yaitu sekitar 70 persen,” paparnya.

Selama ini kata dia, limbah-limbah domestik di area Batam Centre secara kontur tanah mengalir semua ke waduk Duriangkang.
“Jadi fungsinya (IPAL) adalah untuk menyaring air limbah supaya tidak masuk waduk Duriangkang,” tuturnya.
Selain itu kata dia, pembangunan IPAL di Batam Centre untuk mengamankan area perairan dari limbah domestik, Tepatnya diperairan Fery Internasional Batam Centre.
Pada tahap pertama lanjutnya, area pembangunan IPAL sekitar 20 kilometer persegi.
Dengan ruang lingkup pembangunan IPAL atau Waste Water Treatment Plants (WWTP) akan memiliki kapasitas menampung air 20 ribu meter kubik/hari atau setara dengan 230 liter/detik yang akan menghasilkan kompos 18 meter kubik/hari.
“Serta menghasilkan recyling air bersih,” jelasnya.
Pihaknya akan memanfaatkan air limbah dikembalikan ke alam dan akan dimanfaatkan untuk industri.
Kata dia, pada tahap pertama tidak sampai pada treatment air limbahnya. Dalam artian air limbah hasil treatment akan langsung dibuang ke laut.
“Tapi kita akan mencoba membuat sewerange system (SS) dan airnya akan kita alirkan ke dam Baloi atau ke waduk Duriangkang sebagai bahan baku air bersih,” katanya.
Kemudian lanjutnya juga akan dibangun lima stasiun pompa yang berfungsi untuk mengumpulkan limbah-limbah domestik secara gravitasi.
Setelah itu dialirkan atau dipompa kembali ke WWTP.
“Jadi proses recylingnya itu berada di WWTP atau IPAL di Bengkong Sadai,” tuturnya.
Kemudian dalam proyek tersebut juga dibangun 114,3 kilometer pipa utama dan sekunder. Dengan rincian 41,8 kilometer pipa utama dan 72,5 kilometer pipa sekunder.
Pipa utama lanjutnya ditanam di jalan-jalan utama dan pipa sekunder ditanam di perumahan-perumahan.
“Saat ini sudah 43 perumahan di wilayah Batam Centre yang kita tanam pipa sekunder,” jelasnnya.
Selain itu juga akan dibangun 11 ribu pipa yang langsung terhubung dengan rumah-rumah warga di kawasan Batam Centre.
“Sampai minggu ketiga Mei 2020 sudah tersambung dibagian depan sekitar 4.747 sambungan rumah,” jelasnya.
Pihaknya optimistis pembangunan IPAL tahap pertama akan selesai pada Desember 2020.
“Saat ini progres sudah mencapai 86,6%,” katanya.
Kata dia, saat ini progres fisik hingga minggu ketiga Mei 2020 untuk pemasangan pipa sudah 79,0%.
Kemudian stasiun pompa 96,7%, WWTP 93,8% dan general atau commisiong sudah 72,8%.(esa/adv)
