batampos.co.id – Tim Patroli Area Tangkapan Air (ATA) Direktorat Pengamanan (Ditpam) Aset Badan Pengusahaan Batam menangkap pelaku illegal logging dan mengamankan barang bukti berupa kayu olahan di kawasan hutan lindung Daerah Tangkapan Air Duriangkang, Selasa (2/6/2020).

Penangkapan dipimpin langsung oleh Kasubdit Pengamanan Lingkungan dan Hutan, Tony Febri bersama Kasubdit Pengamanan Aset dan Objek Vital, Gunadi.

Tony Febri menjelaskan, Ditpam BP Batam telah memantau dan mengamankan pelaku illegal logging dengan barang bukti 32 batang kayu olahan berukuran 20×20 cm dengan panjang 4 meter.

Kemudian sepeda motor dan lori pengangkut kayu yang kini sudah dievakuasi dan diamankan ke Kantor Mako Ditpam BP Batam.

“Lokasi penangkapan berada di sekitar bundaran Kabil menuju arah Punggur, di mana lokasi ini termasuk Kawasan Hutan Lindung Area Tangkapan Air (ATA) Waduk Duriangkang,” ujarnya.

Koordinator Pengamanan Waduk Duriangkang dan Muka Kuning, Pius Sega memperlihatkan barang bukti ilegal loging yang ditemukan tim patroli Ditpam BP Batam di area waduk Dam Duriangkang. Foto: BP Batam untuk batampos.co.id

Ia mengatakan, pihaknya telah menyerahkan pelaku ke Polresta Barelang untuk dilakukan proses hukum lebih lanjut.

Tony menjelaskan, seiring dengan semakin kritisnya kondisi Daerah Tangkapan Air Waduk Duriangkang dan beberapa waduk lainnya di Batam, Direktur Pengamanan Aset BP Batam Brigjen Pol. Mohammad Badrus, telah memerintahkan jajarannya itu semakin meningkatkan kegiatan patroli pengamanan di seluruh hutan lindung daerah tangkapan air waduk.

Hal ini juga untuk memelihara zona ketahanan waduk dan menjaga sumber air di Batam yang merupakan satu-satunya sumber kebutuhan air bagi penduduk di Batam.

Namun kini mengalami kerusakan akibat aktivitas illegal di sekitar waduk, seperti illegal logging, penggalian pasir, memasang keramba, menangkap ikan dengan tangkul, dll.

Direktur Pengamanan Aset BP Batam mengimbau agar masyarakat tidak melakukan aktivitas illegal di daerah tangkapan air waduk Duriangkang dan waduk manapun, karena akan merusak ketahanan waduk sebagai satu-satunya sumber air di Batam.(*)