“Entrepreneurship is neither a science nor an art. It is a practice.” (Peter Drucker). “The true entrepreneur is a doer, not a dreamer.” (Nolan Bushnell). Kedua kutipan di atas merupakan penegasan bahwa menjadi wirausaha tidak hanya membutuhkan ide yang cemerlang melainkan kemauan untuk mewujudkannya.

Artikel ini menjelaskan bagaimana model pembelajaran Cooperative-Project Based Learning (Co-PjBL) mampu meningkatkan kemampuan siswa berwirausaha dalam ruang lingkup Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Artikel ini mendeskripsikan hasil implementasi model Co-PjBL yang terbukti layak diterapkan ditinjau dari segi validitas, praktikalitas dan efektivitas.

Permasalahan umum yang dialami oleh hampir seluruh sekolah kejuruan di Kota Batam adalah rendahnya mutu pendidikan yang menjadikan para lulusan sekolah menengah kesulitan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi keahlian mereka atau bahkan menganggur.

Hal ini didukung oleh data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik tahun 2019 dimana tingkat pengangguran terbuka khususnya di Kepulauan Riau didominasi oleh lulusan SMK.

Fakta ini yang bisa beresiko untuk menurunkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia, terlebih akan adanya bonus demografi yang diperkirakan terus meningkat pada masa mendatang.

Minat berwirausaha tidak hanya muncul sejak lahir melainkan bisa dibentuk melalui pendidikan dan pelatihan, untuk itu peran serta sekolah sangat tinggi dalam membentuk karakter wirausaha siswa SMK.

Untuk meningkatkan minat siswa dalam berwirausaha maka diperlukan suatu pengembangan model pembelajaran terutama pada mata pelajaran Produk Kreatif dan Kewirausahaan (PK-KWU) sehingga jiwa wirausaha melekat dalam diri siswa.

Hal ini sejalan dengan Instruksi Presiden Republik Indonesia No. 9 tahun 2016 tentang revitalisasi SMK untuk mempersiapkan lulusannya siap kerja, berwirausaha dan mandiri.

Dalam upaya menggiatkan kewirausahaan, Kemendikbud pada Juni 2018 menyatakan bahwa pemerintah tetap mengupayakan agar kewirausahaan dapat dilakukan secara komprehensif melalui Program Sekolah Pencetak Wirausaha (https://www.kemdikbud.go.id).

Melalui konsep BMW yakni Bekerja, Melanjutkan studi, dan Wirausaha diharapkan SMK tidak hanya mencetak lulusan siap kerja namun juga melahirkan wirausahawan baru di Indonesia.

Mata pelajaran PK-KWU merupakan hasil pemutakhiran dari kurikulum kewirausahaan yang sudah ada sebelumnya. SMK saat ini menggunakan Kurikulum 13 revisi tahun 2016 yang berdasarkan surat keputusan Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah No. 130/D/KEP/KR/2017 mengubah mata pelajaran PK-KWU ke dalam lingkup Kompetensi Keahlian (C3).

Materi pokok yang dipelajari pada PK-KWU memfokuskan pada desain produk, rekayasa industri dan kewirausahaan.

Untuk menyesuaikan dengan keahlian para siswa, maka PK-KWU dikombinasikan dengan pelajaran produktif sesuai jurusan dan kompetensi keahlian siswa sehingga diharapkan siswa mampu menciptakan sendiri ide peluang bisnis yang sesuai kemampuan dan keterampilan yang mereka miliki.

Permasalahan yang terjadi adalah hasil capaian pembelajaran PK-KWU yang masih rendah dimana berdasarkan penelitian pendahuluan bahwa hasil belajar siswa banyak yang mengalami pengulangan ujian (remedial) untuk dapat memenuhi nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan oleh Dinas Pendidikan Kota Batam.

Perkembangan teknologi juga ikut mempengaruhi proses pembelajaran siswa saat ini dimana kita telah memasuki era revolusi industri 4.0. Hakikat dari era industri 4.0 ditandai dengan digitalisasi dan otomasi dengan semua konsekuensi logis yang melekat padanya.

Salah satu hal yang akan terlihat jelas perubahannya adalah digitalisasi proses pembelajaran dimana terdapat akses terbuka bagi peserta didik untuk mendapatkan ilmu dan pelatihan yang luas sehingga mampu mencetak lulusan yang kompetitif serta produktif.

Manfaat dari digitalisasi ini semakin terasa terlebih ketika saat ini dunia menghadapi pandemi Covid-19 yang mengharuskan peserta didik belajar dari rumah.

Kewirausahaan dan kompetensi keahlian peserta didik jika dipadukan menjadi suatu kesatuan maka akan menjadi pilar kebangkitan perekonomian negara yang dapat membuka lebar peluang pemasaran produk tidak hanya bersifat domestik melainkan hingga ke seluruh dunia.

Kemudahan berwirausaha merupakan hal yang ditawarkan di era revolusi industri 4.0 dimana siapapun dapat menjadi pengusaha tanpa memerlukan modal yang besar.

Berdasarkan fakta tersebut peserta didik diharapkan mampu melakukan praktik wirausaha yang berbasis online.

Untuk proses pembelajaran sendiri akan mulai mengadaptasi pembelajaran online atau e-learning sebagai pelengkap pembelajaran yang berkaitan dengan penugasan dan pengarsipan dokumen pembelajaran sehingga peserta didik terbiasa menggunakan perangkat digital dalam proses pembelajarannya.

Penelitian ini diawali dengan melakukan survey yang dilakukan pada objek penelitian dengan melakukan 3 teknik pengumpulan data yaitu penyebaran angket, wawancara dan observasi menunjukkan bahwa secara umum baik tenaga pendidik dan peserta didik menyatakan perlunya model pembelajaran khusus untuk PK-KWU seperti yang ditawarkan oleh model Co-PjBL.

Materi pembelajaran yang disampaikan oleh tenaga pendidik saat ini masih bersifat konvensional yaitu menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan praktikum yang sifatnya terbimbing.

Tenaga pendidik menjadi pusat dari keseluruhan proses pembelajaran (teacher-centered) dan siswa menjadi peserta pasif yang hanya bertugas mendengar dan mencatat materi yang diberikan guru.

Hal ini menyebabkan minimnya daya berpikir kritis siswa sehingga tingkat kreativitas pun menjadi terbatas. Hasil analisis kebutuhan siswa menunjukkan bahwa siswa membutuhkan perubahan proses pembelajaran yang lebih interaktif dan bervariasi.

Metode penelitian dan pengembangan (R&D) digunakan untuk penelitian ini dengan mengadopsi prosedur pengembangan menggunakan model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation and Evaluation) yang dianggap dapat mewakili panduan fleksibel dalam menciptakan pembelajaran yang efektif.

Beberapa teknik analisis data dilakukan seperti penilaian kualitatif, analisis validitas para ahli, analisis praktikalitas, analisis efektivitas, analisis data deskriptif, dan uji persyaratan analisis.

Keseluruhan teknik pengujian tersebut dilakukan untuk memastikan bahwa hasil yang diperoleh dari penelitian dapat terukur secara kualitatif maupun kuantitatif.

Hasil temuan menunjukkan bahwa model pembelajaran Co-PjBL yang dikembangkan terbukti tingkat validitasnya tinggi baik dilihat dari segi konstruk sintak yang dibangun serta seluruh buku produk pendukung model pembelajaran tersebut.

Penelitian terdahulu menunjukkan validitas adalah salah satu fitur paling penting dan mendasar dalam evaluasi segala instrumen pengukuran atau alat untuk penelitian yang baik (Mohajan, 2017).

Penelitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran Co-PjBL telah terbukti kevalidannya karena sudah dinilai oleh para pakar yang kompeten di bidangnya sehingga dapat dinyatakan valid.

Model Co-PjBL ini dikatakan valid dengan menggunakan Confirmatory Factor Analysis (CFA) pada software Lisrel serta rumus Aiken’s V. Hal ini berarti model pembelajaran yang dikembangkan memiliki kualitas yang tinggi untuk menjabarkan korelasi antar unsur model dan sintak yang dibangun.

Rekomendasi yang diberikan berdasarkan hasil uji validitas model pembelajaran Co-PjBL adalah semua sintak yang dikembangkan pada model pembelajaran ini layak untuk digunakan sebagai panduan kegiatan pembelajaran lainnya diluar mata pelajaran PK-KWU selama jenis pembelajaran tidak terlampau jauh dari yang telah dikembangkan.

Penemuan lain dari penelitian ini adalah model Co-PjBL terbukti tingkat praktikalitasnya tinggi yang diukur dengan respon dari penggunanya yaitu tenaga pendidik dan peserta didik. Penemuan ini menunjukkan bahwa model pembelajaran ini betul-betul praktis penggunaannya ketika diimplementasikan kepada penggunanya dan memudahkan tenaga pendidik dalam menyampaikan informasi kepada peserta didik terkait materi pembelajaran.

Sejalan dengan penelitian ini, penelitian lainnya menyatakan bahwa data kepraktisan adalah data yang diperoleh dari implementasi rencana pelajaran dan tanggapan siswa terhadap pembelajaran (Ripani et al., 2018).

Tingkat kepraktisan sendiri dapat terukur ketika seluruh produk pendukung model pembelajaran yang dikembangkan dapat digunakan secara praktis oleh tenaga pendidik dan peserta didik.

Kemudahan penggunaan, pemakaian bahasa yang mudah dipahami, panduan pemakaian produk buku dan desain grafis merupakan beberapa indikator yang digunakan pada penelitian ini untuk mengukur tingkat kepraktisan produk.

Tingginya tingkat efektivitas merupakan salah satu penemuan dari penelitian ini dimana terjadi peningkatan kemampuan siswa dilihat dari segi kognitif, afektif dan psikomotoriknya.

Pengertian model pembelajaran yang efektif adalah model pembelajaran terbaik ditambah dengan proses pemantauan dan review apakah pendekatan dan strategi model pembelajaran terbukti efektif untuk tujuan dan konteks tertentu (Watkins et al., 2002).

Penemuan pada penelitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran ini betul-betul efektif ketika diimplementasikan kepada peserta didik dan membantu tenaga pendidik untuk mencapai target pembelajarannya.

Model ini dikatakan efektif dengan menggunakan rumus gain score dimana hasil pembelajaran siswa sebelum dan sesudah penerapan model pembelajaran diukur menggunakan instrumen penelitian.

Hasil dari pengujian efektivitas model pembelajaran Co-PjBL tersebut adalah model pembelajaran ini dapat diimplementasikan kepada peserta didik kelas XII jurusan Teknik Informatika program keahlian Rekayasa Perangkat Lunak di SMK.

Hasil uji efektivitas merekomendasikan model pembelajaran Co-PjBL ini untuk dapat diterapkan pada mata pelajaran PK-KWU atau yang sejenis dengannya pada jurusan lainnya yang sesuai karena sudah teruji efektivitasnya.

Dampak langsung yang dapat dirasakan dari hasil proses pembelajaran dinamakan dampak instruksional (Instructional Effects).

Dampak langsung yang pertama dihasilkan oleh penelitian ini adalah adanya perbedaan yang positif dan cukup signifikan antara kondisi sebelum dilakukannya proses pembelajaran dibandingkan dengan kondisi setelah pembelajaran.

Terjadinya peningkatan hasil pembelajaran siswa tersebut, menandakan bahwa model pembelajaran yang dikembangkan ini terbukti mampu meningkatkan aspek kognitif (pemahaman atas materi) dari siswa.

Untuk melihat sejauh mana manfaat dari penerapan model pembelajaran Co-PjBL ini, maka penelitian mengukur tingkat technical skill dari siswa saat proses pembelajaran berlangsung.

Beberapa poin yang diukur pada technical skill ini antara lain cara berkomunikasi dengan orang lain, mengawasi lingkungan sekitar/peduli terhadap perkembangan lingkungan, memiliki kemampuan memecahkan suatu masalah, bagaimana mengimplementasikan teknologi serta penggunaannya, interpersonal, dan kemampuan berorganisasi.

Kemampuan business management juga ikut diukur pada implementasi model pembelajaran Co-PjBL tersebut. Beberapa poin yang menjadi standar penilaian tersebut adalah kemampuan merancang dan menyusun tujuan akhir, kemampuan mengambil keputusan, mengatur sumber daya manusia, pemasaran, pelayanan konsumen, pengendalian kualitas, negosiasi dan patuh pada aturan.

Kemampuan personal entrepreneurial lebih mengacu kepada kemampuan diri menonjolkan sisi kewirausahaannya yang lebih banyak bersifat sosial dan psikologis.

Beberapa poin yang diukur untuk menilai kemampuan ini antara lain pengendalian diri dan disiplin, mampu mengatur resiko, inovasi, kegigihan, kepemimpinan, pengaturan perubahan, membangun jaringan dan berpikir strategis.

Dampak pengiring dari penerapan model pembelajaran Co-PjBL merupakan hasil yang tidak tampak secara kasat mata namun jelas terlihat perbedaan melalui sikap dan perilaku siswa.

Berdasarkan dari hasil pengukuran aspek afektif didapatkan 7 sifat wirausaha yang menjadi dampak pengiring yaitu (1) kemampuan berpikir kritis dan analitis, (2) kemandirian, (3) disiplin,  (4) kreativitas, (5) bekerjasama, (6) percaya diri, dan (7) berani mengambil resiko.

Setiap penelitian dituntut memiliki nilai kebaruan (novelty) dari penelitian terdahulu sehingga terlihat jelas perbedaan dan dampak yang diberikannya. Ada beberapa kebaruan yang dihasilkan dari pengembangan model pembelajaran Co-PjBL ini dilihat dari komponen model yang dimilikinya.

Kebaruan yang pertama adalah modifikasi dari kombinasi dua model pembelajaran yaitu model Cooperative Learning (metode STAD (Student Team Achievement Division)) dan model Project Based Learning, namun ikut menyertakan e-learning sebagai bagian komplementer/pelengkap dari model tersebut saat proses pembelajaran berlangsung.

Model Co-PjBL ini dikembangkan berdasarkan kajian mendalam yang bersifat filosofis, teoritis dan psikologis sehingga mampu dipertanggungjawabkan. Kebaruan yang kedua adalah perumusan sintak pembelajaran baru terdiri dari 9 sintak yang disingkat FINILUBIS (Formulate Group Division, Information & Teaching Material Distribution, Necessity of Teamwork, Investigation, Lucrative Project Design, Unite All the Materials, Build the Project, Insure the Activity & Progress of the Project, Show the Final Project & Evaluation).

Kebaruan berikutnya adalah sistem pendukung model pembelajaran Co-PjBL yaitu (1) Buku Model Pembelajaran, (2) Buku Perangkat Pembelajaran, (3) Buku Bahan Ajar, dan (4) Buku Panduan Aplikasi E-Learning.

Kebaruan lainnya adalah indikator penilaian hasil pembelajaran yang dilakukan untuk pengukuran efektivitas model pembelajaran ini berbeda dari yang sudah pernah dilakukan oleh penelitian sebelumnya. Hal ini terlihat dari aspek afektif dan psikomotorik yang diukur dengan indikator technical skill, business management skill, dan personal entrepreneurial skill.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Co-PjBL yang dikembangkan dinyatakan valid, praktis, efektif dan memiliki kebaruan sehingga layak untuk diterapkan pada sekolah kejuruan lain dengan kompetensi keahlian yang berbeda.

Implikasi praktis dari penerapan mode Co-PjBL ini dirasakan oleh tiga pengguna yaitu tenaga pendidik, peserta didik, serta institusi pendidikan. Tenaga pendidik terlihat mengalami peningkatan kemampuan dalam mengorganisasi proses pembelajaran dengan jauh lebih baik dan menyenangkan.

Peserta didik juga menunjukkan peningkatan prestasi belajar, memiliki karakteristik seorang wirausaha serta perubahan orientasi karir peserta didik yang mayoritas kini memilih wirausaha sebagai pilihan utamanya.

Institusi pendidikan ikut merasakan dampak penerapan model Co-PjBL ini dimana terjadi peningkatan kualitas lulusan yang berdampak positif terhadap popularitas dan kredibilitas sekolah di mata masyarakat.

Model Co-PjBL yang dikembangkan ini diharapkan mendapat komitmen penuh dan kerjasama antara institusi pendidikan dengan pemerintah untuk memastikan keberlangsungan model ini pada mata pelajaran lainnya dengan karakteristik serupa.

Implikasi kebijakan untuk jangka panjang adalah perencanaan dan pengembangan kurikulum pendidikan PK-KWU yang diintegrasikan dengan model pembelajaran Co-PjBL.

Hal ini nantinya turut membantu mensukseskan program pemerintah terhadap target lulusan SMK yang tidak hanya siap bekerja namun mampu membuka lapangan kerja sendiri.

Artikel ini ditulis oleh Dr.(c) Arina Luthfini Lubis, S.T., M.B.A. berdasarkan disertasi untuk penyelesaian Program Doktor (S-3) pada Prodi Pendidikan Teknologi Kejuruan Pascasarjana Universitas Negeri Padang dengan Tim Promotor Prof. Dr. Nizwardi Jalinus, M.Ed. dan Co-Promotor Dr. Rijal Abdullah, M.T. yang telah lulus diseminarkan pada ujian tertutup tanggal 15 Mei 2020 pukul 09:00 dengan Tim Penguji yaitu Prof. Ganefri, Ph.D.; Dr. Fahmi Rizal, M.Pd., M.T.; Prof. Dr. Kasman Rukun, M.Pd.; Dra. Asmar Yulastri, M.Pd., Ph.D.; Dr. Hasan Maksum, M.T.; dan Prof. Dr. Soesanto, M.Pd. (Penguji Eksternal dari Universitas Negeri Semarang).