SEJAK bulan puasa, asisten Konsul Jenderal (Konjen) Singapura di Kepri, Mbak Tari menghubungi saya. Katanya, Konjen Mr Mark Low, ingin sekali lagi berbincang dengan saya. Maka saya minta waktu setelah Idul Fitri 1441. Rabu pagi (3 Juni 2020), terjadilah pertemuan ketiga itu.

Pertemuan pertama terjadi beberapa tahun lalu setelah Mark menggantikan Konjen sebelumnya, Raj Kumar. Konsulat Singapura di Batam pertama kali diresmikan tahun 2010 setelah sebelumnya hanya ada di Pekanbaru, Riau. Waktu itu saya bersama beberapa pimpinan media diundang berbincang di sebuah restoran di Batam.

Pertemuan kedua terjadi sekitar 4-5 bulan yang lalu di sebuah kafe dalam Mega Mall, dan yang ketiga ini di sebuah kafe di bilangan Sukajadi. Saat pertemuan kedua, Konjen ditemani sang asisten, namun di pertemuan ketiga hanya Mr Mark Low sendiri. “Saya masih work from home,” Mbak Tari menceritakan alasan dia tidak mendampingi si boss.

Kemarin itu, Konsul mengaku agak lega setelah negaranya berhasil melokalisir cluster covid-19 yang berpusat di dormitori pekerja asing di negaranya. Ada sekitar 300 ribu pekerja asing di sana yang pada umumnya menempati dormitori tersebut. Setengahnya sudah ditest dan langsung ditangani.

Di negaranya, aturan memang super ketat. Setiap warga disisir untuk memastikan apakah terpapar corona atau tidak. “Kami ingin memastikan tindakan kami terhadap suspect. Oleh sebab itu, semua kami sisir dan kami rawat,” kata Mark yang mengaku sejak Imlek tidak lagi pulang ke negaranya.

Pembicaraan terus mengalir ke berbagai tema. Kami juga membincangkan dan diskusi ringan soal dampak ekonomi yang ditimbulkan akibat pandemi covid-19 ini. Singapura mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi. Begitu juga Indonesia, tak terkecuali negara China, tempat ditemukan virus covid-19 pertama kali. Juga negara-negara lain dunia, bahkan Amerika.

War trade alias perang dagang antara China dan Amerika, mau tidak mau harus membuat negara-negara di Asia pintar memanfaatkan peluang. Menurut Mark, di sinilah perlunya negara-negara Asia cerdik memanfaatkan efek perang dagang tersebut. “Kami sedang membuka free trade zone bersama Pemerintah Indonesia di Kendal setelah Batam,” ucap Mark.

Intinya, menurut Mark, ekonomi Indonesia akan memengaruhi Singapura dan ekonomi Singapura juga berefek kepada ekonomi Indonesia. Di situlah perlu sinergi antara kedua negara. “Tentu saja kalau ekonomi Indonesia, khususnya Batam membaik, Singapura ikut happy. Perusahaan dari negara kami banyak beroperasi di sini,” kata Mark.

Bahan diskusi kami juga berkembang seputar demonstrasi yang pecah di 40 kota seantero Amerika pasca terbunuhnya George Floyd oleh oknum polisi Amerika. Juga seputar suksesi Pilres Amerika pada November 2020.

Saya coba memancing pendapat Konsul Singapura, kepada siapa negaranya lebih prefer tentang the next America’s Persident; Donald Trump (Republican) atau Joe Biden (Democrat)? “Pertanyaan yang sulit. Sama ketika orang bertanya kepada saya kemarin soal calon Presiden Indonesia antara Pak Jokowi atau Pak Prabowo, haha,” jawab Mark tergelak.

Pembicaraan pagi itu kami tutup dengan menyinggung sedikit soal isyu politik lokal. Dia mendengar tentang saya yang sedang berikhtiar menjadi salah satu kandidat di Batam dan Natuna. “Saya pikir, Bapak harus menggunakan momentum baik ini. Bikin diri Bapak dan pandangan Bapak berbeda dengan kandidat yang lain. Saya yakin Bapak punya pengikut,” kata Mark membesarkan hati saya.

Silaturahmi ke Wako Batam

Di hari berbeda atau sehari setelah itu, Kamis pagi (4/6/2020), saya melanjutkan silaturahmi kepada Wali Kota Batam HM Rudi. Mumpung masih suasana bulan Syawal, kedatangan saya bersama seorang teman yang kebetulan orang partai dari Hanura Batam, Dado Herdiansyah, diterima di panggung di lapangan Engku Putri yang biasa digunakan HM Rudi sejak pandemi covid-19.

Sampai di sana sekitar pukul 08.00 WIB, menunggu sebentar, nampak HM Rudi yang juga Kepala BP Batam itu bergegas turun dari mobilnya menuju panggung. Saya dan teman itu langsung menghampiri. HM Rudi tersenyum ke arah kami dari balik masker yang dia kenakan. “Ayo, silakan,” sapanya. Nampak beberapa kepala OPD sudah menunggu, agak jauh dari kami.

Hampir satu jam kami berbincang seputar penanganan pandemi covid-19 dan soal-soal umum di Kota Batam. Tentu karena posisi HM Rusi adalah incumbent yang disebut akan kembali bertarung di Pilkada Kota Batam, sedikit kami menyinggung soal politik.

Dapat gambaran bahwa memang keinginan pribadi Rudi untuk kembali memimpin Batam di periode kedua. “Saya ini insyaAllah periode terakhir di Batam kalau maju lagi. Makanya istri saya (dimunculkan) di Pilkada Kepri karena hasil surveinya bagus. Tapi tak tahulah nanti bagaimana keputusan partai,” ucap Rudi.

Dia menyebut dua nama yang sedang ditimbang untuk menggandeng istrinya di Pilkada Kepri. Ada Isdianto (Plt Gubernur Kepri) atau Ansar Ahmad (anggota DPR RI dari Parta Golkar dapil Kepri). “Jika saya menyelesaikan tugas di Batam untuk periode kedua nanti, saya ingin benar-benar melepaskan Batam. Makanya saya tak minta istri saya di Batam (untuk meneruskan) walaupun, maaf, surveinya bagus,” katanya menekankan.

Tentang wakilnya di Batam pada periode kedua, HM Rudi tak membahasnya secara spesifik. Hanya saja, beberapa clue diucapkan mengarah ke beberapa nama. Bisa saja dengan yang saat ini (Amsakar Achmad), bisa juga dengan yang lain. “Tergantung keputusan DPP partai koalisi,” kata Rudi.

Di awal pembicaraan, di sela diskusi ringan, hingga ke ujung diskusi, saya sempat me-review posisi dan peran saya sebagai awak media sejak 27 tahun lalu hingga kini sebagai Ketua PWI Kepri, kemudian Dirut Batam Pos Koran, dan kini Direktur media online batampos.co.id. “Wah, sudah lama juga ya?” timpal HM Rudi yang juga Ketua DPW Partai Nasdem Kepri itu.

Mendengar itu, saya kembali menimpali, “Ya, Pak. Sudah lama. Jenuh juga, makanya mau hijrah ke politik, haha,” kata saya bercanda. Pembicaraan mendetailnya, biarlah hanya saya, Pak Rudi, dan Dado yang tahu. Tuhan saksinya.(*)

candra catatan kecil