batampos.co.id – Badan Pengusahaan (BP) Batam akan melakukan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di Kota Batam pada pertengahan Juni 2020 untuk membuat hujan buatan.

Manajer Air Baku Badan Usaha Fasilitas dan Lingkungan (BU Fasling) Badan Pengusahaan (BP) Batam, Hadjad Widagdo, mengatakan, saat ini Pulau Batam mengalami kemarau yang berkepanjangan sejak 2018 hingga 2020.

Hal ini kata dia, menyebabkan tampungan air baku di waduk-waduk mengalami penurunan.

“Penurunan tinggi muka air di waduk ini terkait dengan tingginya kebutuhan air bersih, baik untuk masyarakat maupun kawasan industri,” jelasnya, Jumat (5/6/2020).

Ia menjelaskan, curah hujan rata-rata yang turun di Pulau Batam juga mengalami penurunan. Yaitu dari rata-rata 2.200-2.400 mm per tahun menjadi 1.800 mm per tahun.

Sehingga sangat berdampak terhadap ketahanan waduk dalam menyediakan air baku sesuai dengan kapasitas desainnya.

Kata dia, untuk mengatasi kondisi kemarau yang berkepanjangan, BP Batam telah melakukan kerja sama dengan Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) BPPT untuk melaksanakan penerapan teknologi modifikasi cuaca di Pulau Batam.

Awan hitam terlihat di sebagian area Batam Centre. BP Batam akan menerapkan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk melakukan hujan buatan. Foto: Dhiyanto/batampos.co.id

“Berdasarkan hasil studi kelayakan penerapan teknologi modifikasi cuaca di Batam, diperoleh kesimpulan bahwa kondisi yang terbaik untuk melaksanakan penerapan teknologi modifikasi cuaca adalah pada 10 hari terakhir di bulan April sampai dengan 30 hari di bulan Mei 2020,” tuturnya.

Namun lanjutnya, dengan terjadinya pandemi Covid-19 maka pelaksanaannya diundur sesuai dengan kebijakan pemerintah, menjadi pada pertengahan Juni 2020.

Hadjad menambahkan, meskipun tidak dilaksanakan pada kondisi cuaca yang sangat baik. Namun pelaksanaan penerapan teknologi modifikasi cuaca di Batam tetap dapat dilaksanakan dengan memanfaatkan kondisi cuaca yang terbaik berdasarkan pengamatan cuaca harian, seperti ketersediaan awan hujan dan kesesuaian arah angin.

“Dengan demikian diharapkan dapat terjadi hujan yang lebih lebat pada lokasi tampungan waduk untuk menambah ketersediaan air baku,” katanya.

Saat ini lanjutnya terus dilakukan persiapan penerapan TMC dengan pengiriman bahan semai, peralatan dan perlengkapan. Serta pesawat terbang untuk upaya inisiasi di awan tersebut.

Selain persiapan bahan dan perlengkapan penerapan TMC, diperlukan juga persiapan perizinan untuk pelaksanaan kegiatan serta pengangkutan material semai di awan.

“Kegiatan penerapan TMC ini juga dilaksanakan di beberapa daerah, seperti di hulu Sungai Citarum,” jelasnya.

TMC di Sungai Citarum kata dia, untuk menjaga kestabilan ketersediaan air baku di sungai tersebut yang sangat penting untuk memasok tiga bendungan cascade (bertingkat).

Yaitu bendungan Saguling, Cirata dan Jatiluhur. Dengan TMC diharapkan tinggi muka air waduk dapat mencapai head yang dibutuhkan untuk menggerakkan turbin serta menyediakan air baku dan irigasi lahan pertanian.

Menurutnya, kondisi perubahan iklim dengan semakin berubahnya kondisi cuaca, yang salah satunya diakibatkan oleh efek pemanasan global.

“Makanya dibutuhkan upaya-upaya untuk mengantisipasi perubahan tersebut, sehingga ketersediaan air dapat dijaga dengan sebaik-baiknya,” jelansya.

Tetapi kata dia, upaya lainnya yang sangat penting adalah tetap menjaga daerah tangkapan air waduk dan genangannya dari segala kegiatan ilegal yang sangat merugikan seluruh masyarakat Batam dan kawasan industri.

Hal lain yang perlu juga diperhatikan adalah mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

Serta pemanfaatannya untuk kegiatan kebun liar, penggalian pasir, pemasangan bubu dan keramba jaring apung di sekitar daerah tangkapan air waduk dan di dalam genangan waduk.(esa)