batampos.co.id – Penggunaan air oleh masyarakat Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, ternyata paling boros dibandingkan warga lainnya di wilayah Indonesia lainnya.
Manajer Badan Usaha Fasilitas dan Lingkungan Badan Pengusahaan (BP), Hajad Widagdo, mengatakan, air yang gunakan masyarakat Kota Batam rata-rata 200 liter/orang/hari.
“Sedangkan di perkotaan lain hanya 144 liter/orang/hari. Kenapa kita boros, inilah yang menjadi fokus kita dan meminta masyarakat untuk hemat menggunakan air,” jelasnya, Rabu (10/6/2020).
Padahal kata dia, air merupakan modal utama untuk masyarakat. Terlebih bagi Batam yang merupakan kota industri.
Karena itu, lanjutnya, masyarakat dan pihak-pihak lainnya dapat menjaga lingkungan di sekitar waduk yang menjadi Daerah Tangkapan Air (DTA).

Kata dia, jika lingkungan rusak akan berimbas kepada ketersediaan air.
“Jika air terbatas, Batam tidak akan kompetitif lagi. Jadi mari kita sama-sama menjaga waduk dari aktivitas ilegal,” paparnya.
Hajad menjelaskan, aktivitas ilegal yang kerap dilakukan di sekitar waduk adalah perkebunan, keramba apung serta adanya masyarakat yang memancing.
“Kenapa kita tidak benarkan ada kebun liar dan orang memancing di waduk, karena ketika mereka masuk dan ramai akan menyebabkan waduk tercemar,” jelasnya.
Ia mencontoh seperti kondisi Dam Baloi saat ini. Dam Baloi tidak bisa lagi digunakan untuk menampung air baku karena kondisinya sudah sangat tidak layak.
Hal ini disebabkan banyaknya aktivitas masyarakat di sekitar Dam Baloi.
“Dam Baloi sekarang sudah menjadi toilet umum dan jika waduknya tercemar, maka kualitas air baku rusak,” tuturnya.(esa)
