batampos.co.id – Angka pertambahan kasus positif Covid-19 di tanah air mencapai rekor tertinggi pada Selasa (9/6) yakni tembus 1.043 dalam sehari. Bahkan hari Rabu (10/6), kasus baru Covid-19 bertambah 1.247 dalam sehari. Angka kasus yang tinggi itu terjadi saat pemerintah mulai mempersiapkan tatanan kehidupan yang baru atau new normal.
Bahkan, beberapa provinsi menjadi penyumbang kasus Covid-19 terbanyak. Seperti DKI Jakarta dan Jawa Timur. Sejumlah faktor pun diduga menjadi penyebab naiknya kasus.
Seperti diungkapkan Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Mohammad Adib Khumaidi. Dokter Adib melihat, naiknya angka kasus positif Covid-19 dipengaruhi tiga hal.
Pertama, menurut dr. Adib, kenaikan kasus bisa disebabkan karena masa transisi new normal yang tak diikuti dengan kepatuhan pada protokol kesehatan oleh masyarakat. Masyarakat menyambut new normal dengan sebebas-bebasnya tanpa diikuti perilaku sehat.
Sikap tersebut muncul karena pemahaman era new normal bagi masyarakat masih belum dipahami secara luas. Sebab masyarakat menganggap memasuki new normal seolah bisa dilewati dengan cara sebebas-bebasnya tanpa memperhatikan protokol kesehatan.
“Iya di satu sisi new normal ini euforia. Penjelasannya belum dipahami masyarakat. Kita paham lah kondisi sekarang problem sosial ekonomi kedepankan. Itu jadi kesulitan untuk pemerintah dan masyarakat. Dengan kondisi ini untuk melangkah ke sana (new normal) kan memang sepakat ada transisi,” kata dr. Adib, Rabu (10/6).
Maka tak heran jika kecenderungan angka kasus cukup tinggi. Kenaikan terjadi dalam sepekan terakhir dengan rata-rata angka 600-1000an kasus per hari.
“Ke mal masih enggak pakai masker. Antre KRL di mana-mana tanpa pakai masker. Perilakunya belum berubah,” jelas dr. Adib.
Kedua, bisa saja karena adanya testing uji spesimen Covid-19 yang masif. Pemerintah sudah bisa melampaui 10 ribu tes masif sehari dan akan menargetkan 20 ribu spesimen dalam sehari.
“Analisa faktor testing yang masif juga bisa menjadi indikator,” jelasnya.
Ketiga, penyebab kenaikan bisa dipengaruhi momen Lebaran dan arus mudik serta arus balik. Di mana masyarakat Jakarta yang pergi ke daerah atau dari daerah kembali lagi ke Jakarta tanpa mengikuti protokol kesehatan yang disiplin.
“Bisa jadi karena Lebaran, ini kan apakah ini karena bergeser arus balik dan arus mudik. Kalau kemudian dilihat perilaku itu yang menjadi penyebab maka harus ditelusuri tracing kontaknya,” jelas dr. Adib.
“Maka antisipasi harus diperhitungkan oleh DKI Jakarta. Satu bulan pasca Lebaran masih belum aman. Ada potensi habis Lebaran, dari arus balik dan arus mudik,” katanya.(jpg)
