Minggu, 12 April 2026

Ini Cerita Garda Terdepan Penanganan Covid-19 di Kota Batam

Berita Terkait

batampos.co.id – Tim medis Rumah Sakit Badan Pengusahaan (RSBP) Batam terus melakukan upaya maksimal untuk memberikan pelayanan kepada para yang terpapar Covid-19 di Kota Batam.

Bahkan mereka ikhlas untuk tidak berkumpul dengan keluarganya dalam waktu yang cukup lama demi menjalankan tugas sebagai garda terdepan pemutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Dokter Tafsil, satu-satunya dokter spesialis paru di rumah sakit tersebut mengatakan, saat RSBP Batam menjadi salah satu rumah sakit rujukan untuk menangani pasien Covid-19, langsung melakukan berbagai persiapan.

Salah satunya melakukan renovasi ruangan. Menurutnya RSBP Batam pernah dibangun ruangan untuk menangani pasien yang terkonformasi SARS.

Namun karena ruangan sudah lama tidak digunakan, dinilai tidak layak untuk menempatkan pasien. Tetapi lanjutnya, RSBP Batam langsung berbenah.

Ruangan tersebut langsung direnovasi agar dapat kembali digunakan untuk menangani pasien Covid-19.

Tafsil mengaku saat pertama kali menangani pasien Covid-19, rasa takut dan was-was terus menghantuinya.

Namun berkat komitmen pihak rumah sakit dan tim yang dibentuk, membuatnya semakin memantapkan langkah untuk menjadi garda terdepan penanganan Covid-19 di RSBP Batam.

“Jujur awal-awalnya agak berdebar-debar juga kita menerima tugas ini,” paparnya, Minggu (14/6/2020).

Pasien kasus nomor 09 dan nomor 16 dinyatakan sembuh dari Covid-19 setelah mendapatkan perawatan intensif di RSBP Batam. Keduanya diketahui berprofesi sebagai dokter di Puskesmas Batuaji. Foto: B Batam untuk batampos.co.id.

Segala sarana dan prasarana seperti ruangan, laboratorium dan radiologi serta penunjang lainnya terus digesa pihak rumah sakit sehingga dapat melayani pasien.

Terlebih saat Covid-19 sudah menjadi pandemi. Dalam artian tidak hanya menyebar di daerah Wuhan, Tiongkok.
Tapi sudah hampir ke seluruh dunia termasuk Indonesia, khususnya Kota Batam, Provinsi Kepri.

Meski semua persiapan sudah dilakukan, rasa was-was masih menghantui tim medis RSBP Batam.
Bagaimana tidak, kala itu Kota Batam belum memiliki peralatan rapid test dan polymerase chain reaction (PCR).

Dokter Tafsil menceritakan, pertama kali menerima pasien dengan gejala Covid-19 pada akhir Januari 2020.

Pasiennya kata dia adalah Warga Negara Asing (WNA) asal Taiwan.

WNA tersebut lanjutnya diketahui berkunjung ke Kota Batam untuk refreshing atau jalan-jalan bersama keluarganya.

Pasien lanjutnya, masuk melalui emergency, dengan keluhan demam, sakit tenggorokan dan batuk.

WNA tersebut kata dia, langsung dirawat di ruang isolasi.

Melihat kondisi pasien yang memiliki gejala Covid-19, pihaknya lantas berkoordinasi dengan Tim Gerak Cepat (TGC) yang diketuai Ketua BP Batam sekaligus Wali Kota Batam, Muhammad Rudi.

Tim medis RSBP Batam berfoto bersama dengan simbol memutus mata rantai Covid-19. Foto: Messa Haris/batampos.co.id

“Saat itu belum ada rapid test dan untuk melakukan swab kita harus berkoordinasi dengan TGC,” jelasnya.

Namun seiring waktu, pasien tersebut sudah membaik dan tidak mengeluhkan apa-apa lagi.

“Jadi kita perbolehkan pulang. Namun tetap kita minta untuk menjalani perawatan dan ditangani tim medis dari puskesmas ditempat dia menetap sementara di Batam,” ujarnya.

Ia melanjutkan, hingga WNA tersebut kembali ke negaranya, pihaknya belum sempat melakukan pemeriksaan rapid test atau swab.

Karena saat itu BTKLP Kelas I Batam masih menunggu arahan dan alat belum tersedia dan menunggu dari pusat.

Dokter Tafsil menjelaskan, pasien Covid-19 dikategorikan dalam tiga fase. Pertama ringan, sedang dan berat.

Biasanya kata dia, yang lebih shock adalah pasien dengan kriteria ringan. Karena mereka lanjutnya tidak memiliki keluhan. Namun saat hasil swab keluar dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19.

“Sebenarnya kata dia, pasien dengan kategori itu bisa melakukan karantina mandiri di rumah. Tapi tetap kita anjurkan untuk dilakukan rawat inap dan rata-rata pasien yang kita rawat tidak bergejala,” tuturnya.

Pasien-pasien itu lanjutnya juga mengeluh saat harus menjalani rawat inap, dengan alasan tidak memiliki gejala Covid-19.

“Jadi kita berikan motivasi agar pasien tersebut mau dirawat dan agar tidak down kita lakukan pendekatan kepada psikisnya. itu yang kita utamakan, namun tetap kita berikan terapi,” jelasnya.

Ia menjelaskan tim medis menampung semua keluhan pasien. Dengan cara itu kata dia, pasien akan lebih merasa diperhatikan.

Selain itu lanjutnya, tim medis selalu mengingatkan agar para pasien istirahat yang cukup dan mengkonsumsi makanan yang bernutrisi dan bergizi.

“Pasien kita minta untuk olahraga ringan di kamar masing-masing. Itu adalah salah satu kiat-kiat agar pasien sembuh dari penyakitnya,” paparnya.

Infografis aliibenk/batampos.co.id

Ada hal yang tidak bisa dilupakan para tim medis RSBP Batam dengan para pasien Covid-19 yang mereka tangani.

Karena tidak dapat melihat wajah para medis, pasien-pasien Covid-19 di RSBP Batam membuat group Whatsapp.

Koordinator Perawat RSBP Batam yang menangani pasien Covid-19, Norma, mengatakan, awal mula dibentuknya group Whatsapp tersebut dikarenakan keinginan pasien untuk melihat secara langsung para perawat yang melayani mereka.

“Kita melayani pasien Covid-19 ini di ruangan yang pernah digunakan untuk menangani virus SARS dan MERS,” jelasnya.

Ruangan tersebut lanjutnya dibangun oleh WHO. Ia menceritakan, pengalaman menangani pasien SARS dan MERS berbeda dengan Covid-19. Terutama dari proses penularan yang cukup cepat.

Ia menjelaskan rata-rata pasien Covid-19 dan pasien dalam pengawasan (PDP) kerap merasa bosan ketika harus menjalani perawatan dalam waktu lama.

Tim medis lanjutnya harus menyampaikan dengan baik kepada pasien kenapa dia sampai diisolasi.

“Mereka sempat menyampaikan bosan karena sudah dua minggu dirawat tidak pulang-pulang. Kita menjelaskan karena hasil PCR itu lama keluarnya,” jelasnya.

“Karena ini (Covid-19,red) sudah ada di seluruh Indonesia. Jadi untuk menenangkan pasien-pasien kita, kita membuat mereka bergembira,” paparnya lagi.

Caranya dengan menanyakan kegiatan mereka sehari-hari. Menurutnya pasien Covid-19 yang tanpa gelaja atau OTG, memang kerap merasaakn dirinya tidak sakit. Sehingga dapat melakukan karantina mandiri di rumah.

“Mereka memang merasa tidak sakit. Jadi kita harus melakukan edukasi bahwa mereka tidak bisa melakukan isolasi mandiri. Kita sampaikan kepada mereka salah satu cara pencegahannya adalah harus dilakukan rawat inap dan diawasi dokter dan tim medis,” ujarnya.

Selain itu para pasien diajak untuk berolahraga setiap pagi di dalam ruangannya masing-masing.

Kata dia, tim medis memandu para pasien melalui CCtv dan para pasien juga dapat menyampaikan keluhan atau lainnya melalui telepon yang tersedia di dalam ruang perawatan.

Selain itu agar pasien nyaman, pihak rumah sakit juga menyediakan jaringan internet gratis. Sehingga dapat menjadi salah satu sarana hiburan bagi para pasien.

“Password wifinya kita kasih buat lekas sembuh,” jelasnya.

Ia menjelaskan guna menjalin komunikasi dengan para pasien Covid-19 dibentuklah group WA.

Group WA ini kata dia merupakan inisiatif para pasien dan tim medis.

“WA group ini dibuat karena mereka (pasien,red) ingin mengenal dan melihat wajah kami,” jelasnya.

Para pasein lanjutnya kerap berkomunikasi dengan menggunakan video call.

Karena lanjutnya setiap melayani pasien tim medis menggunakan baju azmat dan kacamata google. Sehingga membuat penasaran para pasien.

“Jadi itu (group WA,red) terbit karena keinginan pasien untuk melihat wajah kami,” paparnya.

Selain itu medis di RSBP Batam benar-benar memperhatikan asupan makanan para pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19.

Porsi makanan para pasien ditetapkan harus Tinggi Kalori Tinggi Protein (TKTP). Sehingga setiap makanan yang diberikan, dipastikan ada telur rebus.

“Jadi selama tiga kali makan pasti ada telur rebusnya. Karena itu untuk meningkatkan imunnya dan telur menjadi makanan wajib para pasien,” kata Norma.

Menu makanan tersebut kata dia berdasarkan rekomendasi dari Dokter Tafsil yang menangani para pasien.
Selain itu lanjutnya para pasien juga diberikan puding berupa bubur kacang hijau.

“Jadi dapat satu kali makan itu ada nasi, sayur, dagingnya atau ikan dan telur rebus wajib ada,” jelasnya.(esa/adv)

Update