batampos.co.id – Setiap orang diminta untuk menjaga jarak aman atau physical distancing untuk mencegah penularan virus Korona. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan jaga jarak minimal 1-2 meter. Tapi ternyata, virus Korona bisa melompat lebih jauh dari jarak aman itu. Caranya melalui percikan atau droplet dari seseorang yang sedang batuk dan bersin.

Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 dr Reisa Broto Asmoro mengatakan ancaman virus Korona masih ada di sekitar kita dan tidak terlihat oleh mata. Karena itu kita harus selalu tanggap dan waspada dan disiplin terapkan protokol kesehatan. Pakai masker dengan benar, jaga jarak, dan cuci tangan.

Covid-19 adalah singkatan dari Corona Virus Disease 2019 atau penyakit menular yang disebabkan Sars-Cov-2 yang pertama kali ditemukan Desember 2019. Virus Korona banyak jenisnya dan biasanya ada di hewan. Tetapi ada beberapa jenis yang bisa menginfeksi manusia yaitu SARS dan MERS pada awal 2000an.

“Sejauh ini kita ketahui ada beberapa virus Lorona yang bisa serang manusia. Tipe virus itu adalah penyebab wabah raya dunia. Dan tipe ini Sars-Cov-2 itulah pemicu wabah dunia saat ini,” jelasnya.

Dokter Reisa menjelaskan bagaimana virus Korona bisa menyerang tubuh manusia. Virus Korona yang masuk ke tubuh seseorang bisa menggandakan diri ke tubuh manusia, terutama di bagian saluran pernapasan bawah seperti paru-paru.

“Virus Korona juga mengganggu imunitas dan kekebalan tubuh, apalagi mereka dengan penyakit penyerta bisa fatal,” katanya.

Menurut dokter Reisa, penyebaran virus dari satu manusia melalui percikan cairan dari saluran pernapasan dan mulut kontak langsung atau dari perantara barang yang dipegang bersama. Dan saat seseorang bersin atau bicara maka percikan itu keluar bersama liur.

“Paling peting jaga jarak. Percikan droplets itu bisa sampai 1-2 meter. Kalau batuk atau bersin bisa lompat sampai 3-5 meter. Jadi kita harus saling jaga jarak,” tegasnya.

Maka selain menjaga jarak, penggunaan masker dan cuci tangan dengan sabun yang mengalir akan sangat efektif. Dokter Reisa menyebut saat ini Covid-19 bukan lagi virus impor, tapi penularannya sudah secara lokal.

“Mayoritas dari kontak dengan pasien atau dari orang yang tidak diketahui status kesehatannya, jadi virus ini benar-benar ada,” katanya.

Kini para ilmuwan sedang memetakan beberapa karakter virus atau merinci identitas virus pada pasien di indonesia. Data ini digunakan untuk penelitian lebih lanjut mengetahui epidimiologi virus, pengobatan dan pembuatan vaksin.

“Dengan mengetahui virus yang beredar kita bisa desain vaksin yang ada. Jadi penting sekali tahu status kesehatan kita apakah positif atau negatif. Jika kita bisa bekerja sama, maka bisa membuat pandemi cepat selesai,” ungkapnya.(jpg)