batampos.co.id – Gunung Merapi kembali mencatatkan beberapa kali letusan eksplosif pada Minggu pagi (21/6). Kawah gunung setinggi 2.390 mdpl tersebut sempat memuntahkan kolom abu setinggi 6 kilometer.

Otoritas Merapi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan, dua kali letusan terjadi pukul 09.13 dan 09.27 WIB.

Dari rekaman CCTV Stasiun Merbabu, tampak tinggi kolom erupsi mencapai sekitar 6.000 meter dari puncak. Kepala BPTTKG Hanik Humaida mengungkapkan, arah angin saat erupsi bergerak ke barat. Menggiring hujan abu jatuh di wilayah Magelang dan Kulonprogo.

Hanik menjelaskan, letusan eksplosif sudah sering terjadi dan merupakan aktivitas alami Gunung Merapi. Sejak 2019 sampai saat ini, telah terjadi 15 kali letusan. ”Letusan eksplosif bisa diawali peningkatan aktivitas vulkanik atau bisa juga terjadi secara tiba-tiba,” kata Hanik Minggu (21/6).

Bentuk peningkatan aktivitas vulkanik itu, kata Hanik, beragam dan tidak konsisten. Karena itu, tidak dapat dijadikan indikator bakal terjadi letusan eksplosif. ”Tapi, harus dipahami bahwa terjadinya peningkatan aktivitas vulkanik meningkatkan peluang terjadinya letusan eksplosif,” jelasnya.

Hanik mengatakan, letusan semacam itu masih dapat terus terjadi. Fenomena tersebut merupakan indikasi bahwa suplai magma dari dapur magma masih berlangsung.

Hingga kemarin, daftar ancaman bahaya Merapi masih berkisar pada awan panas, lontaran material vulkanis pada radius kurang dari 3 kilometer, serta guguran material kubah lava. Berdasar pantauan drone pada 13 Juni 2020, volume kubah terpantau sebesar 200.000 meter kubik. ”Masyarakat kami imbau tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa di luar radius 3 km dari puncak gunung,” katanya.

Sementara itu, Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) BNPB di Jakarta menerima laporan dari BPBD setempat tentang hujan abu di wilayah sekitar Merapi. Terutama di Kecamatan Srumbung dan Dukun, Magelang, Jateng.

Sementara itu, Volcano Observatory Notice for Aviation (VONA) atau notifikasi penerbangan menunjukkan kode warna merah. Notifikasi tersebut merujuk pada erupsi yang terjadi pukul 09.13 WIB dan 09.27 WIB.

”Warna merah berarti ketinggian letusan sudah lebih dari 6.000 meter di atas permukaan laut. VONA digunakan sebagai peringatan dini ketika terjadi erupsi gunung untuk keamanan penerbangan,” kata Kapusdatinkom BNPB Raditya Jati kemarin.

Di beberapa desa, hujan abu vulkanis dilaporkan turun cukup deras. Misalnya, di Desa Kemiren, Srumbung, dan Banyuadem. Data yang dihimpun BNPB, hujan abu terjadi di 39 desa dengan intensitas ringan hingga deras.(jpg)