batampos.co.id – Meski hujan sering mengguyur Kota Batam beberapa hari belakang ini, namun belum mampu memenuhi harapan dam di Batam bisa kembali normal. Masih butuh banyak curah hujan maupun hujan buatan untuk mengisi waduk-waduk di Batam, khususnya di Dam Duriangkang dan Dam Mukakuning.
Berdasarkan catatan Badan Pengusahaan (BP) Batam, level elevasi permukaan Waduk Duriangkang masih minus, di bawah tiga meter dari puncak spillway atau lubang pelimpah air.
”Untuk itu, masih dibutuhkan tambahan air baku di waduk guna menghadapi kemarau dan sampai menunggu adanya musim hujan kembali,” kata Manajer Air Baku BP Batam, Hadjad Widagdo, Senin (22/6).
Seperti yang diketahui, Dam Duriangkang merupakan penyuplai utama air baku bagi warga Batam. Pasalnya, 80 persen kebutuhan air warga Batam berasal dari dam estuari terbesar di Asia Tenggara tersebut.
”Sementara itu, untuk waduk yang lain, seperti Nongsa, Seiladi dan Seiharapan, ada peningkatan yang signifikan yaitu sekarang pada posisi satu sampai dengan dua meter dari spillway,” ungkapnya.
Hujan buatan direncanakan akan berlanjut hingga 11 Juli. BP Batam mengklaim tidak hanya menggantungkan harapannya ke hujan buatan maupun interkoneksi antardam yang masih lama terealisasi.
Sejumlah upaya telah dilakukan maupun rencana yang akan dilaksanakan, antara lain pembangunan sediment trap yang berfungsi untuk mengendapkan sedimen yang masuk dengan tujuan mengumpulkan dan memindahkan partikel-partikel pasir dan lumpur. Selain itu, pengadaan harvester atau alat untuk memberantas eceng gondok yang banyak tumbuh di Waduk Duriangkang. (*/jpg)
