batampos.co.id – Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) dan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Kota Batam menggelar dialog publik dengan tema “Perjuangan kader millenial sebagai garda terdepan melawan pandemi Covid-19”.
Acara ini diselenggarakan dalam forum webinar menggunakan aplikasi Zoom, 19 Juni 2020.
Pembicara dalam webinar ini yaitu dr Yockie Simamora (dokter muda tenaga kesehatan Kota Batam), Cahaya Simanungkalit, Am.Keb., S.KL. (petugas relawan medis RSK Infeksi
Galang Batam) dan Nilai Etikat S.Ked. (Calon dokter, mantan pengurus GMKI).
Kegiatan ini dimoderatori oleh aktivis muda Batam dari kampus Unrika, Christian Pasaribu.
Ketua Cabang GMKI Batam, Sandy Sinaga, mengatakan, acara ini diinisiasi untuk menyerap informasi dari lapangan mengenai penanganan Covid-19 di Kota Batam.
Kata dia, banyak hal yang kita temukan hal-hal yang menarik untuk kita evaluasi dalam penanganan Covid-19 ini. Misalnya soal perilaku masyarakat yang masih belum tersadarkan akan bahaya Covid-19 ini.

“Untuk itu diperlukan kerja keras pemerintah dan peran serta pemuda (millenial) itu sendiri, untuk memberikan masukan terhadap hal-hal yang kurang tepat di lapangan. Dan kita masyarakat tetap mematuhi protokol pemerintah, jaga jarak, pakai masker dan sering cuci tangan,” jelasnya melalui rilis yang diberikan kepada batampos.co.id, Rabu (24/6/2020).
Ketua GAMKI Batam, Rikson Tampubolon, mengatakan, forum ini sebagai media untuk
saling bertukar pikiran dalam mengawal kebijakan Covid-19 khususnya di Kota Batam.
Menurutnya, banyak kebijakan dari pemerintah yang harus dikritisi. Misalnya pemberian status zona hitam di beberapa kecamatan dan Kota Batam sendiri sangat tidak sejalan dengan usaha pembatasan yang dilakukan oleh pemerintah.
“Malahan di lapangan kita lihat masyarakat sepertinya tidak begitu mempedulikan bahaya Covid-19 ini. Seperti tidak ada corona di Kota Batam ini,” ujarnnya.
“Untuk itu, kita mengharapkan pemerintah agar mengevaluasi secara total dan serius soal pemberian status-status warna suatu daerah itu, agar sejalan dengan disiplin dan pembatasan yang dilakukan,” kata dia lagi.
Agar kata dia, jangan sampai penggunaan istilah warna hijau, kuning, merah dan hitam tersebut hanya simbolik semata.
Kata dia, faktanya di lapangan tidak ada pengaruhnya dan jangan sampai masyarakat apatis bahkan permisif dengan kebijakan pemerintah.
“Belum lagi dalam acara webinar ini kita dapati kenyataan bahwasanya teman-teman relawan kita di RS Khusus Infeksi Galang belum mendapatkan kompensasi atau insentif yang dijanjikan oleh pemerintah kita,” tuturnya.
Pihaknya berharap agar hal-hal seperti itu tidak terjadi. Karena kata dia, teman-teman relawan butuh kepastian.
“Walaupun perwakilan mengatakan bukan insentif ini yang membuat mereka tetap semangat melayani para pasien di sana melainkan panggilan untuk melayani dan profesi mereka masing-masing,” jelasnya.
Namun lanjutnya kepastian soal pembayaran insentif itu harus dijelaskan oleh pemerintah baik pusat maupun daerah.(*)
