batampos.co.id – Virus korona tak pandang usia. Siapa pun bisa terpapar. Termasuk anak-anak. Bahkan, menurut Wakil Presiden Ma’ruf Amin, hingga kini terdapat 1.851 anak yang positif terinfeksi Covid-19.
’’Sampai saat ini tercatat sekitar 1.851 anak Indonesia menjadi korban keganasan virus ini,’’ ujar Ma’ruf dalam seminar nasional yang digelar Dewan Pengurus Pusat Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (DPP FKDT), Rabu (24/6).
Namun, Wapres tidak memerinci kondisi 1.851 anak tersebut. Dia tidak menyebutkan jumlah anak yang masih dirawat, sembuh, atau meninggal dunia. Namun, berdasar penelusuran Jawa Pos, angka 1.851 anak itu mengacu pada data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 30 Mei. Dengan demikian, bisa jadi jumlahnya kini sudah meningkat.
Data yang disampaikan Wapres juga jauh lebih sedikit bila dibandingkan dengan data milik gugus tugas. Merujuk pada www.covid19.go.id, ada 7,9 persen kasus positif Covid-19 pada anak usia 0–17 tahun. Jika dikalikan dengan jumlah total kasus positif Covid-19 di Indonesia, jumlah anak yang terpapar Covid-19 mencapai 3.871 anak. Sayang, tabulasi data di www.covid19.go.id hanya menampilkan angka persentase, bukan angka riil.
Wapres mengungkapkan bahwa dampak pandemi Covid-19 pada anak-anak, termasuk murid madrasah, perlu menjadi pembahasan serius. ’’Hal ini merupakan peringatan bagi kita semua,’’ katanya. Semua pihak harus memiliki perhatian dan perspektif perlindungan anak-anak di tengah pandemi. Pemberlakuan new normal atau tatanan baru juga harus memperhatikan keamanan anak-anak dari virus korona.
Ma’ruf juga mengatakan, pemerintah ingin memastikan kegiatan pembelajaran tatap muka di wilayah zona hijau Covid-19 menjalankan protokol kesehatan dengan disiplin. Sebab, tidak tertutup kemungkinan sekolahnya di zona hijau, tetapi siswanya berasal dari zona merah. Ketentuan itu khususnya berlaku bagi pesantren atau lembaga pendidikan berasrama. Sebab, para anak didiknya berasal dari lintas daerah.
Ketua Umum DPP FKDT Lukman Hakim mengatakan, pemerintah juga perlu memperhatikan madrasah diniyah. Sebab, saat ini jumlah madrasah diniyah (madin) mencapai 86 ribuan unit. Kemudian, jumlah pengajar atau ustad sekitar 600 ribu dan siswa atau santri mencapai 6,3 jutaan. Menurut dia, munculnya pandemi Covid-19 menjadi keprihatinan sekaligus tantangan. Namun, pendidikan keagamaan tidak boleh berhenti. ’’Madrasah diniyah harus melakukan adaptasi,’’ tegasnya.(jpg)
