batampos.co.id – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengungkapkan, kompetensi serta produktivitas sarjana yang memasuki dunia kerja masih belum maksimal. Atas hal tersebut, membuat mereka yang sudah lulus menjadi sulit diserap oleh perusahaan.

Kata dia, kurangnya pengalaman ketika kuliah yang membuat mereka kesulitan di dunia kerja. Program magang yang biasanya berlangsung dua bulan tidak bisa dianggap dalam pembentukan karakter mahasiswa.

Menurutnya, waktu yang pas adalah 6 bulan magang. Sebab, dalam rentang waktu tersebut para mahasiswa bisa memahami proses kerja di dunia industri seperti apa.

“Nggak bisa cuma sebulan atau dua bulan, itu baru merasa nyaman, untuk benar-benar melakukan transformasi diri minimal satu semester 5 sampai 6 bulan untuk benar-benar berdampak,” kata dia melalui webinar, Jumat (3/7).

Hal itu ia ketahui pada saat berdiskusi dengan perusahaan, di mana mereka menyebutkan bahwa pengalaman para mahasiswa masih kurang, khususnya untuk soft skill.

“Anak-anak lulusan terbaik di Indonesia sangat pintar-pintar, tapi sangat sulit menjadi produktif di dunia pekerjaan, perlu ada masa orientasi 1 sampai 2 tahun, soft skillnya belum kuat, dia belum tau cara kerjasama secara tim dia belum tau mekanisme meeting seperti apa, gimana menjalankan dan menjadi efektif dalam meeting,” tambahnya.

Maka dari itu, semua perguruan tinggi pun diminta untuk memperpanjang masa magang para mahasiswa. Metode pembelajarannya juga harus berubah dengan berbasis proyek yang difasilitasi oleh dosen dan pihak ketiga sebagai pihak yang akan mengevaluasi hasil proyek.

Di mana ini ditujukan agar para lulusan baru mantap dan siap pasca lulus untuk memasuki dunia kerja. Dengan begitu, mereka pun lebih mudah beradaptasi.

“Saya impiannya anak-anak di kelas tidak lagi dosen di depan, anak-anak duduk berbaris dan mendengarkan dosen, tapi saya ingin adalah berkunjung ke kelas masing-masing, mahasiswa berkumpul dalam grup kecil sedang melakukan projek bersama dan dosen beserta asisten sedang berputar memberikan kritikan dan menjawab pertanyaan secara kolaboratif sebagai fasilitator pembelajaran,” tutupnya.(jpg)