Rabu, 29 April 2026

Singapura Diminta Buka Pintu ke Kepri

Berita Terkait

batampos.co.id – Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan, mengaku telah menerima telepon dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Pandjaitan, pada Kamis (2/7) lalu, saat Luhut berkunjung ke Batam dan Bintan. Dalam perbincangan itu, kedua menteri sepakat tentang pentingnya menjaga kerja sama bilateral positif, meski masih dalam kondisi pandemi Covid-19.

Namun ia menegaskan, pembicaraan lewat telepon tersebut tidak secara spesifik membahas kerja sama sektor pariwisata. Kendati demikian, Vivian menyatakan bahwa Singapura secara bertahap membuka kembali perbatasannya dengan cara yang progresif dan terukur.

Tujuannya untuk memastikan kesehatan dan keselamatan warga Singapura dan semua tamu dari luar negeri. Ia menyebutkan, saat ini, warga Singapura masih disarankan untuk menunda semua perjalanan ke luar negeri.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepri, Buralimar, berharap agar Singapura membuka pintu masuk wisman dan warganya ke Kepri. Buralimar juga berharap, Malaysia segera membuka pintu untuk masuknya wisman maupun warganya untuk bepergian ke Kepri, khususnya Batam dan Bintan, yang memang sudah dipersiapkan lebih awal untuk menyambut wisman.

“Lagoi (Bintan) dan Nongsa (Batam) jadi pilot project dari Kemenparekraf RI. Mudahan-mudahan dengan kita sudah membuka pintu masuk dengan protokol kesehatan yang ketat, wisman masuk,” ujar Buralimar.

Tak hanya itu, Plt Gubernur Kepri, Isdianto, sudah bersurat ke Kemenkumham agar pembekuan visa untuk WNA masuk ke Indonesia, khususnya ke Kepri (Lagoi-Bintan dan Nongsa-Batam, red) segera dicabut. Supaya wisman bisa datang tanpa terkendala soal pembekuan visa tadi.

Khusus untuk Lagoi, kata Buralimar, dengan status kuning Bintan, maka jika sampai pada 5 Juli tak ada tambahan kasus positif Covid-19, maka karyawan maupun tamu yang masuk ke kawasan itu tak akan diwajibkan lagi rapid test maupun karantina mandiri, khususnya dari wilayah Bintan Utara.

“Protokol kesehatan di sana memang cukup ketat, itu demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19,” kata Buralimar. (*/jpg)

Update