batampos.co.id – Tim Gabungan dari TNI AL, Bakamla RI, Polda Kepri, Bea dan Cukai, Imigrasi, dan Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) mengamankan dua kapal penangkap ikan berbendera Tiongkok, Rabu (8/7) sekitar pukul 11.00 WIB. Kedua kapal itu bernama Lu Huang Yuan Yu 117 dan Lu Huang Yuan Yu 118.

Dari penangkapan itu, Tim Gabungan berhasil mengungkap kasus eksploitasi anak buah kapal (ABK) Warga Negara Indonesia (WNI) yang dipekerjakan di dua kapal tersebut. Di kapal Lu Huang Yuan Yu 117 ditemukan 12 ABK WNI, 15 ABK asal Tiongkok, dan 8 ABK Filipina.

Ke 12 WNI tersebut, adalah Ahmad Baedhowi (Jateng), Jeremy Rico Pitono (Jatim), Novantino (Jatim), Muhammad Tawaqal (Sumut), Suswandi (Jakarta), Deddy Nuryanto (Jatim), Ansor Azimi (Jabar), Casipin (Jateng), Muhammad Sokheh (Jateng), Budiono (Jateng), Didi Nuriza (Jateng), dan Syamsul (Jateng).

Sementara di Kapal Ikan Tiongkok Lu Huang Yuan Yu 118 sebanyak 10 orang. Yakni Deni Maulana (Jabar), Pahlawan Parnigotan Sibuea (Sumut), Agus Setiawan (Lampung), Rahmat Abidin (Jabar), Zein Rahman (Sumut), Zein Rahman (Sumut), Ali Alhamzah (Jateng), Yonatan Witanto (Jateng), Durahim (Jabar), Nana Suharna (Jabar).

Baca Juga: ABK WNI Meninggal di Kapal Ikan Berbendera Tiongkok, Diamankan di Batam

Satu di antaranya ditemukan meninggal atas nama dunia Hasan Afriandi, asal Lampung. Jasad korban ini ditemukan di dalam cold storage atau tempat pendingin penyimpanan ikan di kapal. Diduga, korban sudah meninggal sejak 20 Juni lalu.

“Dugaan ada penganiayaan, sehingga korban meninggal dunia. Untungnya, jasad belum dibuang, masih menggunakan baju dan dibalut selimut,” terang Danlantamal IV Tanjungpinang, Kolonel Laut (P) Indarto Budiarto.

Ke 22 WNI dari dua kapal ikan Tiongkok ini diketahui sudah bekerja selama 7 bulan atau terhitung sejak 1 Januari 2020. Mereka dipekerjakan melalui PT Mandiri Tunggal Bahari (MTB) yang beralamat di Tegal, Jawa Tengah. Rata-rata mereka berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Lampung, dan Sumatera Utara.

“Sekarang kapalnya disita dan pekerjanya kita amankan untuk diminta keterangan lebih lanjut,” kata Danlantamal Indarto Budiarto.

Kapolda Kepri Irjen Pol Aris Budiman, menambahkan, dari hasil pemeriksaan terhadap ABK WNI, seluruhnya diperlakukan dengan kejam dan kerap dianiaya. “Kita masih lakukan pemeriksaan, termasuk dokumen pekerjanya juga. Nanti akan kita lakukan pengembangan, apakah ada unsur perdagangan manusia, termasuk narkoba di dalam kapal ini,” katanya.

Aris menambahkan, pihaknya juga akan mengevakuasi jasad korban yang meninggal dunia ke RS Bhayangkara di Nongsa, untuk dilakukan autopsi. Sedangkan seluruh ABK yang diamankan dibawa ke Mapolda Kepri untuk proses pemeriksaan. “Untuk luka aniayanya dan penyebab korban meninggal nanti kita tunggu hasil autopsi,” tegas Kapolda.(*/jpg)