batampos.co.id – Ditreskrimsus Polda Kepri mengamankan 2.389 unit handphone Black Market (BM) berbagai merek asal China.

Kasubbid Penmas Bidhumas Polda Kepri, AKBP Priyo Prayitno, mengatakan, ribuan handphone BM tersebut diamankan dari Ruko Taman Nagoya Indah, Lubuk Baja, Kota Batam.

“Kasus ini berawal dari informasi yang diberikan dari masyarakat terkait adanya dugaan tempat penyimpanan handphone yang diduga tidak memiliki sertifikasi,” ujarnya, Jumat (10/7/2020).

Mendapatkan informasi tersebut, kata dia, Tim Subdit Indag Ditreskrimsus Polda Kepri, langsung bergerak menuju lokasi.

“Saat dilakukan pengecekkan bahwa benar dilokasi tersebut didapatkan sebanyak 2.389 unit handphone berbagai merek,” ujarnya.

Di antaranya kata dia, merek Nokia, Samsung dan Lenovo.

“Dengan pemilik berinisial A dan dari hasil pemeriksaan bahwa pemilik tidak dapat menunjukkan sertifikasi dari Kemenkominfo terhadap jenis dan merek handphone tersebut,” tuturnya.

Ditreskrimsus Polda Kepri mengamankan 2.389 unit handphone Black Market (BM) berbagai merek asal China. Foto: Humas Polda Kepri

Sementara itu, Wadir Reskrimsus Polda Kepri, AKBP Nugroho Agus Setiawan, menjelaskan, pihaknya bergerak berdasarkan LP-A/91/VII/2020/Spkt-Kepri Tanggal 4 Januari 2020.

Ia menjelaskan, 2.389 unit handphone berbagai merek tersebut diperoleh dari negara Cina yang dibawa oleh jasa pengiriman.

“Setelah tiba barang tersebut disimpan di gudang yang ada di Ruko Taman Nagoya Indah dan dari hasil keterangan pemeriksaan handphone tersebut didistribusikan ke 18 counter handphone yang tersebar di beberapa pusat perbelanjaan elektronik di Kota Batam,” jelasnya.

Di antaranya kata dia, di kawasan Lucky Plaza, Nagoya Hill, Top 100 dan di Aviari.

Dari perdagangan handphone BM tersebut negara berpotensi mengalami kerugian Rp 600 juta.

“Modus yang dilakukan oleh pelaku adalah memperdagangkan handphone dengan tidak memiliki sertifikasi yang diperoleh dari Cina (Black Market) dengan motif untuk memperoleh keuntungan,” ucapnya.

Kata dia, handphone tersebut diduga diperoleh dari Negara Cina yang dibawa oleh jasa pengiriman BZ dan H. Pihaknya akan terus melakukan penyidikan dan penyelidikan.

“Dari hal ini kemungkinan akan ada dugaan tindak pidana lainnya, baik itu diperdagangan atau di kepabeanannya,” tuturnya.

Pihaknya akan lakukan berkoordinasi dengan Bea Cukai. Kedepan lanjutnya, akan melakukan koordinasi dengan instansi terkait, yakni Kominfo.

“Kita akan mintakan juga keterangan dari para ahli perihal spesifikasi dari teknis dan sertifikasi dari barang-barang itu sendiri,” tutur Kasubdit I Dit Reskrimsus Polda Kepri AKBP Tidar Wulung Dahono.

Atas tindakan ini pelaku diancam dengan Pasal 52 Jo Pasal 32 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 Tentang Telekomunikasi. Dengan ancaman hukuman pidana penjara paling lama 1 tahun dan atau denda paling banyak Rp 100.000.000,-,.(*/esa)