batampos.co.id – Kasus malaria melonjak di tengah pandemi Covid-19 di Kabupaten Kepulauan Anambas (KKA). Sebanyak 109 kasus malaria ditemukan sepanjang tahun 2020.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PPKB) KKA, Baban Subhan mengatakan dilihat dari laporan per bulan kasus malaria sepanjang tahun 2020, diketahui pada bulan Januari ditemukan sebanyak 21 kasus.
Kemudian Februari ditemukan sebanyak 16 kasus. Ada penurunan kasus dari bulan sebelumnya. Tetapi pada saat masuk bulan Maret ditemukan sebanyak 18 kasus dan April 28 kasus. Kemudian di bulan Mei ditemukan sebanyak 26 kasus.
Wilayah kecamatan di Kabupaten Kepulauan Anambas yang berpotensi terjadinya kasus malaria yaitu kecamatan Palmatak ditemukan kasus malaria sebanyak 66 kasus selama 5 bulan terakhir sepanjang tahun 2020. Kemudian disusul oleh Kecamatan Siantan Tengah ditemukan sebanyak 24 kasus malaria di tahun yang sama.
“Kita tahun kemarin sudah hijau, udah mau rencana eliminasi malaria tahun 2021 ini, tahu-tahu sekarang merah lagi,” kata Baban.

(Foto: Faidillah/batampos.co.id)
Menurut Baban ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya kasus malaria itu. Diantaranya yaitu kesadaran masyarakat menjaga kebersihan lingkungan, baik lingkungan dalam rumah maupun di luar rumah. Kemudian kemungkinan faktor pergerakan pembangunan, ada efek kesana dari pengerukan-pengerukan tanah dan genangan air pada saat musim hujan.
“Untuk malaria itu, kita rencananya mau berbicarakan lintas sektor, mungkin kita ngajak PU dan Sekda, Bappeda. Jadi kalau dirembukan itu bisa, namun kalau hanya dinas kesehatan dan desa saja tidak mampu,” kata Baban.
Untuk gorong-gorong kecil atau genangan air kecil itu bisa dengan gotong royong. Namun memasang gorong-gorong yang sudah rusak itu mesti dibicarakan.
“Untuk jangka pendeknya mereka gotong royong, dengan mengasih cairan insektisida ke dalam itu. Karena kemarin ada ditemukan di dalam lagoon jentik-jentiknya,” tuturnya.
Beberapa waktu yang lalu pihaknya juga telah turun ke daerah Piabung, Kecamatan Palmatak, bersama pihak Dinkes Provinsi Kepri.
Sementara itu, Kepala Seksi Pencegahan, Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Menular, Sudarman mengungkapkan jika kasus malaria positif ditemukan satu orang maka dilakukan penyelidikan epidemiologi.
“Biasanya petugas puskemas itu mendatangi pasien itu di rumah. Kemudian orang di sekitar rumah dilakukan cek kesehatan, diambil sampel darahnya sebagai antisipasi pencegahan penyebaran penyakit malaria,” jelasnya.
Lanjut dia, selama ini puskemas tetap melaksanakan penyemprotan inteksida pada dinding rumah warga. “Indoor Residual Spraying (IRS) penyemprotan inteksida menjelang fase puncak malaria biasanya di bulan Juli. Sampai saat ini puskesmas masih melaksanakan sampai sekarang,” tuturnya. (fai)
