batampos.co.id – Perekonomian negara tetangga, Singapura, dikabarkan terperosok ke jurang resesi. Pada kuartal-II tahun ini, pertumbuhan ekonomi Singapura mengalami kontraksi hingga 41,2 persen.

Pengamat Indef Bhima Yudhistira memandang hal ini menjadi peringatan bagi Indonesia, terutama Batam. Pasalnya, Singapura merupakan negara dengan hubungan perdagangan dan investasi yang cukup signifikan bagi Indonesia.

“Singapura memiliki hubungan perdagangan dan investasi yang cukup penting bagi Indonesia,” ujarnya dilansir dari JawaPos.com, Rabu (15/7).

Menurutnya, indikasi resesi Singapura menjadi peringatan bagi Indonesia bahwa kinerja perdagangan akan terkontraksi cukup dalam. Sebab, barang yang keluar dan masuk dari Indonesia sebagian melalui Singapura.

“Kalau volume ekspor impor di sana turun tajam, ya kita harus bersiap kinerja perdagangan akan turun sepanjang tahun,” tuturnya.

Sementara, dari sisi investasi, peran Singapura tak kalah penting. Sebab, banyak investor penanam modal asing Indonesia melalui Singapura.

“Mereka resesi berarti kinerja investasi akan turun drastis khusus pada semester kedua,” pungkasnya.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam, Rafki Rasyid mengatakan, resesi ini dipastikan akan berdampak pada perekonomian Batam selaku mitra utama. “Tentu saja kontraksi ekonomi Singapura sebesar itu akan berdampak cukup signifikan terhadap aktivitas ekonomi di Batam,” kata Rafki Rasyid, Selasa (14/7).

“Kita tahu aktivitas ekonomi di Batam sangat dipengaruhi Singapura. Jadi ketika Singapura melaporkan adanya pertumbuhan ekonomi yang minus, maka kita wajar khawatir karena berimbas pada ekonomi Batam,” katanya lagi. (*/jpg)