Senin, 27 April 2026

Resesi Singapura Diprediksi Tidak Lama, Pengusaha di Batam Bergerak Cepat

Berita Terkait

batampos.co.id – Ekonomi Singapura yang kontraksi 41,2 persen hingga masuk jurang resesi di kuartal II-2020, membuat khawatir pelaku usaha di Batam karena bisa berdampak besar. Apalagi Singapura merupakan mitra utama Batam, khususnya industri yang berorientasi ekspor.

Namun, resesi Singapura diperkirakan tidak akan jatuh ke jurang terdalam. Bahkan, resesi Singapura diperkirakan tidak akan berlangsung lama. Sebab, pemerintah Singapura melakukan berbagai upaya untuk menghidupkan kembali semua sektor usaha yang terdampak Covid-19.

“Pemerintah Singapura sangat banyak memberikan bantuan yang dibutuhkan dunia usaha. Seperti memberikan dukungan gaji, pelatihan kerja, dan lainnya,” ujar Konsultan Small and Medium-sized Enterprises (SME) Academy Asia, Haridas Menon, dilansir Harian Batam Pos, Kamis (16/7).

Warga Singapura ini bahkan memprediksi dampak resesi Singapura terhadap perekonomian Batam tidak begitu besar. Sebab, banyak pelaku usaha di Singapura yang memiliki bisnis di Batam, sehingga perhatian pemerintah Singapura juga akan sampai ke Batam.

“Orang-orang dari Singapura yang juga memiliki bisnis di Batam juga berinisiatif menolong perekonomian Batam,” ujar Haridas.

Bahkan, pelaku usaha di Singapura yang memiliki usaha di Batam bergerak cepat. Rencananya, bulan depan, akan ada sejumlah proyek yang akan direalisasikan di Batam. “Proyek-proyek itu dapat meningkatkan kembali perekonomian Batam,” ujarnya.

Haridas mengakui, resesi yang terjadi di Singapura saat ini imbas dari pandemi Covid-19. Namun, krisis ini tidak membuat warga Singapura pesimis.

Sementara itu, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengaku, pemerintah turut mewaspadai resesi yang dialami oleh Singapura. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyampaikan, pihaknya akan menjaga kontributor terbesar pertumbuhan ekonomi nasional RI yaitu tingkat konsumsi rumah tangga, ekspor, dan investasi.

Sri Mulyani menjelaskan, resesi yang terjadi pada Singapura lantaran ekonominya sangat bergantung pada perdagangan internasional. Sehingga, sepanjang wabah Covid-19 berlangsung di hampir semua negara, maka perdagangan pun terhenti. Hal itu yang berdampak pada perekonomian Singapura.

“Kita tentu waspadai, karena bagaimanapun juga Indonesia engine of growth kita konsumsi, investasi, dan ekspor,” ujarnya di gedung DPR RI Jakarta, Rabu (15/7).

Sri Mulyani menyebut, pemerintah tentu mencermati resesi Singapura meskipun mesin utama perekonomiannya berbeda dari Indonesia. Adapun strategi untuk mencegah tertularnya resesi yaitu menjaga tingkat konsumsi rumah tangga, ekspor, dan investasi. (*/jpg)

Update