batampos.co.id – Ratusan peserta Webinar Zoom Bersama ATB (ZoomBA) terkagum-kagum dengan inovasi ATB menekan angka kehilangan air hingga mencapai 14 persen. Kekaguman ini datang tidak hanya dari PDAM, tapi juga sejumlah institusi pemerintah dan swasta.

Leakage Management System (LMS) sangat luar biasa, dan bisa menjadi acuan bagi PDAM seluruh Indonesia. Selamat untuk ATB,” ujar Mahmud, perwakilan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Sistem manajemen pengelolaan kebocoran milik ATB memang telah terbukti kehebatannya.

ATB berhasil menekan angka kebocoran air di Batam hingga angka 14 persen. Padahal, jumlah sambungan pelanggan sangat tinggi, yakni hampir mencapai 300 ribu sambungan.

Pencapaian ini mengundang decak kagum dari peserta ZoomBA yang bersal dari hampir semua provinsi di Indonesia.

Beberapa meminta secara langsung, agar ATB memberikan asistensi kepada mereka untuk penanganan kebocoran.

“Kami membutuhkan pendampingan dari ATB. Mohon arahannya agar kami bisa konsultasi dan koordinasi lebih lanjut,” kata Dadi Rahman dari PT. Air Minum Giri Menang, Kabupaten Lombok.

Manager Non Revenue Water (NRW) ATB, Sadma Lastyanta sedang menjelaskan materi terkait inovasi penangana kebocoran dalam Webinar ZoomBA 3. Foto: ATB untuk batampos.co.id

Menurut para peserta, asistensi memang sangat dibutuhkan, karena masih banyak PDAM yang kebingunan untuk mulai menerapkan sistem manajemen kebocoran.

Selain karena keterbatasan sumber daya, juga terkendala karena belum sepenuhnya memahami konsep penerapannya.

Terbukti dari banyaknya pertanyaan yang berseliweran selama ZoomBA berlangsung. Beberapa peserta dari PDAM meminta masukan tentang bagaimana cara memulai penerapan inovasi teknologi.

Ada pula yang telah memulai menerapkan salah satu strategi untuk menekan angka kehilangan air, namun harus berhenti di tengah jalan. Sehingga, upaya menekan angka kehilangan air tidak menunjukan hasil yang optimal.

“Saat ini kami sudah mempunyai beberapa DMA tapi terbengkalai, pertanyaanya apakah harus membentuk Sub. Bagian NRW??? Apa yang harus kami lakukan?” kata Hendra R, Perumda Air Minum Tirta Bantimurung Kab. Maros.

Masalah kehilangan air memang masih menjadi momok bagi perusahaan air bersih di Indonesia. Di tahun 2019 silam, angka kehilangan air masih berada di angka 32,75%. Masih sangat tinggi bila dibandingkan target nasional di bawah 20%.

Kehilangan air ini dapat disebabkan oleh kehilangan komersial dan kehilangan fisik. Kehilangan komersial dapat disebabkan oleh meter air pelanggan yang kurang akurat, belum semua pelanggan terpasang meter air. Juga karena kesalahan pembacaan meter, adanya sambungan liar.

Sedangkan kehilangan air fisik disebabkan oleh rendahnya manajemen pengaturan tekanan, rendahnya kecepatan dan kualitas perbaikan pipa bocor, belum tersedia manajemen aset, dan belum tersedianya peralatan pendeteksi kebocoran.

“ATB ingin berbagi agar tingkat kehilangan air di Indonesia turun hingga ke angka terendah,” ujar Head of Corporate Secretary ATB, Maria Jacobus.

Menekan angka kehilangan air menjadi sangat penting. Bukan hanya kerena dapat meningkatkan pendapatan perusahaan, namun sekaligus meningkatkan efisiensi pemanfaatan air baku.

Dengan pemanfaatan air baku yang efisien, maka Indonesia dapat bertahan dari potensi kekurangan air di masa mendatang.

“Ini merupakan tanggungjawab kita bersama. Untuk PDAM, menjadi efisien adalah kewajiban untuk menjaga sumber air kita di masa mendatang,” tuturnya.(*)