batampos.co.id – Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Batam, Rudi Sakyakirti, mengatakan bahwa saat ini, perusahaan kembali menambah jam kerja atau lembur karyawannya supaya bisa menyelesaikan lebih cepat pesanan produk dari luar.

“Beberapa perusahaan kembali memberi lembur karyawannya. Sebelumnya perusahaan hanya bekerja normal saja, tak ada lembur,” ujar Rudi dilansir dari Harian Batam Pos. Jumat (17/7/2020).

Rudi menjelaskan, tidak saja menambah jam kerja, perusahaan juga kembali merekrut karyawan untuk memenuhi target pesanan dari Eropa, Jepang, dan negara lainnya.

“Ini membuktikan pesanan kembali lancar pasca tersendat beberapa bulan sejak Covid-19. Artinya sektor industri mulai kembali ke tahap normalnya,” jelasnya.

Rudi menyebutkan, di awal-awal pandemi Covid-19, sejumlah negara pemasok bahan baku seperti Tiongkok, sempat menghentikan pasokannya karena negaranya melakukan
lockdown.

Namun, Tiongkok bisa cepat keluar dari cengkaraman Covid-19, sehingga industri di negara itu yang membuat komponen bahan baku untuk industri di berbagai belahan dunia, termasuk untuk Batam, perlahan pulih.

Selain itu, rata-rata industri di Batam juga sebelum pandemi Covidi-19, sudah memiliki stok bahan baku. Sehingga tidak sampai kosong dan tidak sampai membuat produksi terhenti, sampai pasokan kembali lancar.

Beberapa perusahaan juga mengambil langkah cepat dengan mencari alternatif
pasokan bahan baku selain dari Tiongkok.

Merlion Park Singapura. Foto: Ahmadi Sultan/batampos.co.id

Namun itu tak lama, karena Tiongkok juga bisa memasok bahan baku lebih cepat, setelah industri komponen bahan bakunya beroperasi kembali.

Mengenai dampak resesi Singapura terhadap sektor industri di Batam, sambung
Rudi, pihaknya hanya bisa melihat dari sektor ketenagakerjaan. Belum bisa memperkirakan seberapa besar dampaknya.

“Itu tadi, industri sudah memberlakukan lembur kembali. Sudah mulai rekrut karyawan lagi. Itu salah satu keyakinan kami kalau resesi Singapura mudah-mudahan tak berdampak besar pada industri di Batam,” kata Rudi.

Indikator lainnya, lanjutnya, sampai saat ini belum ada industri yang tutup. Hanya sektor pariwisata yang selama ini banyak memberi laporan menutup sementara usaha mereka karena sepinya turis.

Dari aspek industri pengolahan di Batam yang semuanya berorientasi ekspor, Rudi memperkirakan resesi Singapura tak berpengaruh besar ke Batam.

Sebab, negara akhir tujuan ekspor bukan semuanya Singapura, tapi ke beberapa negara di belahan dunia.

Selama ini, Singapura hanya menjadi tempat transit, sebelum barang-barang produksi dari Batam dikirim ke berbagai negara di dunia.

Sesuai dengan pemesanan barang produksi industri di Batam. Keyakinan Rudi bahwa in-
dustri di Batam, khususnya industri pengolahan tak berpengaruh besar terhadap resesi Singapura, juga didasarkan pada langkah pemerintah Singapura yang memberi banyak bantuan pada pengusaha yang terdampak Covid-19.

Sementara di Batam, industri banyak dimiliki oleh pengusaha dari Singapura. Secara statistik, sejak pandemi Covid-19 terjadi, Rudi mengakui terjadi penurunan ekspor, khususnya mulai Maret.

Dia melihat lebih banyak disebabkan karena negara tujuan ekspor melakukan lockdown, sehingga pengiriman barang melambat.

“Artinya, produksi di Batam tetap jalan, tapi melambat seiring melambatnya pengiriman
barang akibat negara tujuan ekspor lockdown,” ujarnya.

Namun, saat ini, sejumlah negara tujuan ekspor yang sempat lockdown mulai melakukan pelonggaran, sehingga dia yakin beberapa bulan ke depan kinerja ekspor Batam membaik.

Ia juga yakin, pemerintah Singapura tak akan membiarkan ekonominya terjun bebas ke dasar jurang resesi.

Sebagai negara maju, Rudi yakin Singapura bisa bangkit lebih cepat.(*/jpg)