batampos.co.id – Kegiatan belajar mengajar di awal tahun ajaran baru 2020/2020 dilakukan dengan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring (online). Meskipun masih dalam masa pengenalan lingkungan sekolah, banyak orangtua murid mulai mengeluh. Pasalnya, sistem PJJ ini cukup memakan biaya.
Orangtua wajib melengkapi keperluan sang anak dengan ponsel pintar (smartphone) atau laptop serta paket data internet atau WiFi. Sepanjang akhir pekan kemarin, orangtua yang anaknya akan masuk TK dan SD di wilayah Batuaji dan Sagulung, sibuk melengkapi perlengkapan PJJ tersebut. Ada yang terpaksa membeli secara kredit ponsel pintar yang dibutuhkan lantaran keterbatasan dana, ada juga yang sibuk memasang jaringan wifi di rumahnya.
Asrul, warga Tanjunguncang misalkan. Ia nekat kredit smartphone seharga Rp 2,5 juta agar anaknya bisa mengikuti pembelajaran daring yang
akan dilaksanakan Senin (20/7) ini.
”Hari Jumat kemarin sekolah kasih kabar kalau besok (hari ini) mereka mulai belajar. Anak saya masuk SD (swasta) jadi harus siapkan memang perlengkapannya. Untuk internet sementara ini pake paket data dulu. Nanti kalau sudah agak longgar baru pasang WiFi,” ujarnya.
Sementara Riska, warga Kaveling Sagulung Baru (Saguba), Sagulung mengaku telah melengkapi aktivitas belajar during sang anak dengan sebuah ponsel pintar dan jaringan wifi yang dipasang pada Sabtu (18/7) lalu. Biaya yang dikeluarkan mencapai Rp 3 juta dan jauh lebih mahal dari biaya masuk sekolah anaknya.
”Perlengkapan belajar online ini lebih mahal malah dari uang buku di sekolah. Makanya pusing juga. Tapi mau gimana lagi, demi anak bisa sekolah,” ujarnya.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepri, M Dali, sebelumnya menyatakan, sistem belajar tatap muka di sekolah belum bisa dilaksankan sebab Kepri belum zona hijau penanganan Covid-19. Belajar tatap muka diberlakukan jika sudah ada keputusan dari presiden atas pertimbangan status zona pada suatu wilayah. (*/jpg)
