batampos.co.id – Kasus demam berdarah dangue (DBD) di Batam menyeruak ditengah masa pandemi Covid-19. Berdasar catatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Batam sepanjang tahun ini, sedikitnya 335 kasus. Pada bulan ini saja, sudah ada 44 kasus DBD yang dikonfirmasi dari rumah sakit yang tersebar di Batam.
Kepala Dinkes Batam, Didi Kusmarjadi, mengatakan, angka tertinggi kasus DBD terjadi di bulan Juni dengan total mencapai 69 kasus. Namun, jika dibandingkan tahun lalu, angka DBD itu turun.
”DBD itu ada terus. Karena banyak hal, selain perubahan cuaca dari musim panas menjadi musim hujan, ada juga faktor perilaku hidup bersih masyarakat,” kata Didi, Senin (20/7).
Ia menyebutkan, faktor kepadatan penduduk juga menjadi salah satu penyebab nyamuk cepat menyebar. Untuk DBD, paling banyak terjadi di wilayah Batuaji. Sayangnya, Didi tak menyebut berapa angka kasus di wilayah padat penduduk tersebut.
”Ajak masyarakat menjaga lingkungan, seperti rutin gotong royong bersama puskesmas yang ada di wilayah mereka,” tambahnya.
Untuk itu, langkah pencegahan untuk menekan berkembangnya nyamuk aedes aegypti yang menjadi penyebab DBD ini, yaitu rajin memerhatikan dan membersihkan lingkungan rumah dan tempat tinggal. Memastikan tidak ada tempat-tempat yang bisa membuat nyamuk berkembang.
”Yang paling penting penampungan air harus dijaga. Jangan sampai membuat nyamuk hidup, sebab nyamuk hidup di air bersih. Maka, rajinlah mengecek tampungan air. Begitu juga lingkungan rumah,” ujarnya.
Penaburan bibit abate di penampungan air juga bisa mencegah jentik nyamuk berkembang. (*/jpg)
